
Kedua wanita itu menerima penghormatan ini dengan rasa terima kasih yang sepantasnya. Cherry, yang terutama terkejut dengan karangan bunganya yang terdiri dari bunga bakung merah jambu dan putih, berseru, “Betapa cerdasnya kau, Archard! Apakah kau menebak aku akan mengenakan gaun merah jambuku?”
“Yah, tidak,” pemuda itu mengakui. “Tapi, gadis yang merangkaikan karangan bunga untukku bertanya seperti apa penampilanmu, dan ketika aku memberitahunya kau berkulit gelap dan belum diperkenalkan ke publik, dia bilang bunga berwarna merah jambu dan putih akan cocok sekali untukmu. Dan, kuakui,” dia berkata dengan gagahnya, seraya mengamati Cherry, “merah jambu memang cocok untukmu, Cher! Aku tidak pernah melihatmu tampak sangat cantik sebelumnya!”
Nona Dior, yang mengagumi karangan bunganya sendiri, yang dirangkai dari bunga-bunga musim semi dengan warna degradasi dari ungu sangat muda sampai ungu tua, menyadari dengan tawa dalam hati bahwa Archard mungkin menggambarkan dirinya kepada si tukang bunga yang baik hati sebagai seorang wanita yang agak tua dan lemah. Dia menahan diri agar tidak menanyai Archard, dan, dengan sikap mulia yang bahkan lebih besar, menahan diri agar tidak memberitahunya bahwa karangan bunga, yang diikat dengan pita panjang, terbungkus kertas perak di sekitar tangkainya, meskipun pantas untuk pesta-pesta dansa, tidaklah lazim dibawa oleh para wanita di pesta jamuan makan.
Sekitar dua jam kemudian, Nona Dior merasakan kepuasan karena mengetahui tidak hanya pestanya berjalan sukses, tetapi begitu pula anak didiknya. Dia menyambut para tamunya dengan didampingi Cherry, dan tidak ada yang memalukan dalam tingkah laku Cherry. Bukan kali pertama dia memberikan penghargaan diam-diam kepada Nyonya Raina, yang, apa pun kesalahan-kesalahannya, terbukti telah mengajarkan anak itu semua aturan tentang tindak-tanduk yang sopan.
Rona merah yang menghiasi pipinya ketika gadis itu merasa malu, dan sifatnya yang kadang canggung tidak membuatnya tampak buruk di mata nyonya-nyonya paling berpengaruh di Rouen, bahkan si tua Nyonya Mandeville, pengkritik paling keras, yang telah memuaskan Caroline dengan muncul di jamuan makan, berkata kepadanya, “Gadis yang baik, Sayang. Aku tidak tahu dimana kau memungutnya, atau mengapa kau menyokongnya, tapi kalau dia seorang Constantine, harus kukatakan dia terlahir menjadi keluarga kaya, dan kau tidak akan kesulitan menyerahkannya kepada seorang pria yang sesuai dengan yang diinginkan!”
Tuan Constantine berada di antara para tamu yang muncul belakangan. Nona Dior telah membebaskan Cherry dari tugasnya mendampingi, tetapi dia sendiri masih berdiri di pintu masuk menuju ruang tamu ketika pria itu menaiki anak tangga dengan santainya. Tuan Besar Curtis, yang, sejak kedatangannya, berdiri di dekatnya dengan penuh perhatian, begitu melihat siapa yang datang mendekat segera menarik diri dari sekitar Nona Dior, seraya menggerutu akan lebih baik jika dia dan “kawan itu” tidak berhadapan muka. Mundurnya Tuan Besar Curtis yang tiba-tiba tidaklah luput dari mata tajam Tuan Constantine yang seperti rajawali. Tuan Constantine berkata, seraya membungkuk sedikit, lalu mengangkat tangan Nona Dior yang bersarung tangan ke bibirnya, “Jika tatapan bisa membunuh, aku pasti sudah terbaring tak bernyawa di ambang pintu! Bagaimana kabarmu, Nyonya? Terimalah ucapan selamat dariku karena mampu menyelenggarakan sebuah pertemuan sebriliant ini pada awal Musim!” Dia mengangkat kacamatanya, dan melaluinya mengamati ruangan yang ramai.
“Semua lapisan dan kedudukan sosial di Rouen, kulihat,” ujarnya. “Siapa gerangan wanita menakjubkan yang berwig dengan jumlah bulu yang cukup untuk menutupi seekor burung unta itu?”
“Itu, Tuan,” kata Nona Dior, seraya mengendalikan bibirnya yang gemetar, “adalah Nyonya Wendlebury, salah satu pemimpin di masyarakat Rouen. Hanya persetujuan Nyonya Mandeville yang lebih penting dari persetujuannya bagi seorang gadis yang baru muncul pertama kalinya di publik Rouen. Dia membawa serta putrinya yang janda dan cucu perempuannya ke pestaku malam ini, yang aku anggap menjadi salah satu keberhasilanku.”
Tuan Constantine menurunkan kacamatanya, dan mengarahkan pandangan tajamnya ke Nona Dior. “Aku harap kau memberitahuku mengapa kau membuat dirimu sendiri repot-repot mengurusi keponakanku yang menjengkelkan?” tanyanya tanpa diduga-duga.
__ADS_1
“Aku tidak menganggapnya menjengkelkan,” jawab Nona Dior. “Sungguh, dia telah memberiku banyak kegembiraan! Ketika aku berjumpa dengannya, aku sedang merasa tidak bersemangat dan bosan, tapi berkat dia, perasaan itu sudah lenyap. Mari, aku akan memperkenalkanmu kepada Nyonya Stinchcombe! Putri sulungnya dan Cherry telah menjalin persahabatan, dan aku yakin dia ingin berkenalan denganmu.”
Nona Dior membawanya pergi ke tempat Nyonya Cheltenham duduk di samping Nyonya Mandeville di sebuah sofa bersandar yang sangat bagus, terpojok di dinding, dan memulai acara perkenalan. Yang mengejutkan, Nyonya Mandeville berujar, “Tidak perlu memperkenalkan dia kepadaku, Nak! Ibunya dan aku adalah sahabat karib, dan aku mengenalnya sejak dia masih bayi! Nah, Damien, bagaimana kabarmu? Apakah kau wali anak cantik itu? Sewaktu Caroline memberitahuku gadis itu seorang Constantine, dan anak perwalian dari pamannya, memang sempat terlintas di benakku kau mungkin adalah pamannya, tapi bagiku sepertinya itu mustahil!”
“Bagiku juga kelihatannya mustahil, Nyonya,” ujar Tuan Constantine dengan rasa menyesal.
Nyonya Mandeville memberinya tatapan tajam. “Membuatmu merasa lebih tua daripada yang kau kira, bukan? Sudah saatnya kurasa, jika semua yang kudengar tentang dirimu itu benar! Tapi, itu bukan tugasku! Aku menyukai keponakan kecilmu. Belum benar-benar tumbuh, tapi kuncup yang menjanjikan. Tidakkah Anda sependapat, Nyonya?”
“Ya, saya memang sependapat,” jawab Nyonya Stinchcombe.
“Dia menjadikan gadis lain tidak berarti lagi.” Dia tersenyum ke arah Tuan Constantine, dan berkata, “Kau pasti akan mengalami kesulitan, ketika gadis itu diperkenalkan, untuk menyingkirkan para peminang yang tidak diinginkan, Tuan”
“Berandal yang menarik, kuakui, tapi berbahaya.”
Dengan menghindari tatapan Tuan Constantine, Caroline menanggapi dengan ketenangan yang sama sekali tidak dirasakannya, “Saya khawatir saya terpaksa mengundangnya, Nyonya”
“Dengan cara apa, Nona Dior?” tanya Tuan Constantine, suaranya terdengar bersemangat.
__ADS_1
Nona Dior terpaksa memandang pria itu, membaca sikap menyalahkan di wajahnya, dan didorong oleh rasa jengkel, melemparkan jawaban ketus padanya, “Cherry memaksaku melakukannya, Tuan, dengan mengundangnya, dan memohon kepadaku agar menyetujui undangan itu! Karena Damitri saat itu tengah berdiri di sampingnya, apa lagi yang dapat kulakukan kecuali mengatakan aku akan senang melihatnya di sini malam ini?” Dia melihat alis mata Tuan Constantine saling bertaut, dan menambahkan dengan cepat, “Tolong jangan salahkan Cherry! Dia tahu Damitri adalah salah satu temanku, dan aku pernah berkata kepadanya dia boleh mengundang siapa pun yang dia sukai.”
“Yah, itu sangat disayangkan,” kata Nyonya Stinchcombe, “tapi kukira tidak ada kerugian yang akan diakibatkan dari hal itu. Dari yang bisa kulihat, Damitri akan menyadari sulitnya menggoda gadis itu! Blanchet muda berperan sebagai anjing penjaga, dan mengikuti Cherry sedekat mungkin seperti kain pembalut luka!” Nona Dior segera mendapati hal ini ada benarnya.
Archard jelas sekali menjaga Cherry, yang pastinya akan terlihat menggelikan seandainya nyonya rumahnya dalam suasana hati yang gembira. Entah pemuda itu melindungi Cherry dari Damitri atau dari Cyril Curtis, yang masing-masing lelaki itu memperlihatkan sikap sopan dan penuh hormat kepada Cherry, adalah hal yang belum bisa dipastikan. Nona Dior hanya bisa bersyukur insting posesif Archard yang disertai rasa cemburu telah mendorong pemuda itu untuk bertingkah laku sangat mirip seperti seekor anjing yang menjaga sebongkah tulang, dan mendapat kepuasan dari kesadaran bahwa Cherry tidak menunjukkan rasa suka terhadap salah satu dari dua pemuda tampan itu, tetapi hanya menikmati, dengan sangat lugu, pengalaman baru menjadi sosok yang populer dan menarik perhatian.
*****_____*****
Baca Juga Novel yang lainnya ya "LAYLA AL-MADANI"
Tema Cerita tentang “Kasih sayang orang tua yang terlewat.
Pembunuhan, balas dendam, romantisme dan perselingkuhan.
Isi terkait politik yang terjadi di timur tengah, dan perang tiga agama dalam memperebutkan tanah suci di Yerusalem. Ikuti ceritanya pasti seru...
*Komen dan sarannya dikolom komentar dibutuhkan, serta jangan lupa Vote ya…*
__ADS_1
By the way, Enjoy it