Cinta Kilat Perawan Tua

Cinta Kilat Perawan Tua
CHAPTER LVIX


__ADS_3

Dibangunkan paksa dengan berita seperti itu, Nona Dior terduduk kaget, dan berkata dengan nada ketakutan, “Oh, Elle, sidak! Kau tidak mungkin ingin mengatakan dia terkena influenza?”


“Tidak ada keraguan tentang hal itu, Nyonya,” kata Elle kaku. “Si perawat menduga Tuan Luke jatuh sakit semalam, tapi dia merasa harus membawa tempat tidur bayi ke ruang tamu, jadi kita harus berharap bayi mungil malang itu tidak akan tertular dari Tuan Luke.”


“Kita harus berharap begitu!” ujar Caroline seraya menghempaskan selimut ke belakang dan meluncur turun dari tempat tidur.


“Bantu aku berpakaian dengan cepat, Elle! Aku harus segera mengirim pesan ke dr. Andre, dan mengingatkan Mary untuk menyediakan cadangan lemon, dan beberapa tambahan pearl barley, dan ayam untuk kuah daging, dan oh, aku tidak tahu, tapi sudah pasti dia akan ingat!”


“Anda bisa merasa yakin dia akan ingat, Nyonya Dan, tentang dokter, Nyonya Besar Dior mengirim pesan kepadanya begitu perawat memberi tahu Tuan Luke jatuh sakit. Tentu saja,” tambahnya dengan murung, ketika dia menyerahkan stoking kepada Nona Dior, “hal berikutnya yang akan kita ketahui adalah Nyonya Besar Dior telah tertular. Pada waktu itu, kita pasti dalam kesulitan!”


“Oh, tolong jangan berkata begitu, Elle!” mohon Nona Dior.


“Saya tidak akan melakukan tugas saya, Nyonya, kalau saya tidak memperingatkan Anda. Menurut pengalaman saya, jika kita mendapat satu masalah yang tidak kita harapkan, kita harus mengantisipasi datangnya dua masalah lagi.”


Nona Dior bisa saja tersenyum mendengar ucapan bersifat ramalan ini, tapi dalam suasana hati penuh kecemasanlah dia pergi turun, beberapa menit kemudian, menuju ruang sarapan.


Di sini dia menemukan Nyonya Besar Dior sedang makan roti dan mentega, bersama bayi perempuannya di pangkuan, dan Cherry tengah memperhatikan gambaran keluarga ini dengan perasaan terpesona. Nona Dior, karena mengetahui betapa kakak iparnya cenderung cemas setiap kali sesuatu menyebabkan anak-anaknya sakit, merasa sangat lega saat melihatnya tampak begitu tenang. Dia berkata, seraya membungkuk untuk mengecupnya, “Aku sangat menyesal, Majorie, mendengar kabar Luke sekarang menjadi korban influenza mengerikan ini.”


“Ya, sungguh disayangkan.” Nyonya Besar Dior sependapat, seraya mendesah dengan lemah. “Tapi, bukannya tidak disangka-sangka. Aku pikir dia pasti akan tertular dari Belevia. sebab dia bermain dengan anak itu sejak hari dia mulai merasa tidak sehat. Tapi, si perawat tidak berpikir itu akan terbukti menjadi serangan penyakit yang parah, dan aku meyakini aku bisa percaya sepenuhnya kepada dr. Andre. Aku mengembangkan pendapat itu, ketika aku berbincang dengannya lusa kemarin, bahwa dia merupakan orang yang sangat kompeten, yang, tentunya, akan diharapkan seseorang dari seorang dokter Rouen. Yang paling tidak menguntungkan dari masalah ini adalah,” dia menambahkan, matanya berkaca-kaca, dan bibirnya sedikit gemetar, “aku tidak boleh merawat Luke sendiri. Setiap kali dia sakit, dia selalu memanggil Mama, dan tidak pernah aku meninggalkan dia selama lebih dari satu menit! Tapi, aku tahu sudah menjadi kewajibanku untuk menjauhkan si bayi dari kemungkinan tertular, dan aku tidak bermaksud bersikap bodoh dalam menangani masalah ini. Aku sudah berdiskusi dengan perawat, dan kami sepakat dia akan menjaga Luke, dan aku akan mengurus si bayi sendirian. Yang sangat aku kehendaki, bukan, Sayang?”


Nona Susan Dior, yang tertawa terkekeh-kekeh sendirian, menanggapi hal ini dengan mengeluarkan ucapan yang tidak bisa dipahami, yang ditafsirkan ibunya sebagai tanda persetujuan, dan membunyikan suara-suara gumaman.


“Putri yang sangat cerdas!” kata Nyonya Besar Dior, dengan suara penuh kasih sayang yang memanjakan.

__ADS_1


Ketika sang dokter datang, dia menegaskan diagnosis si perawat, memperingatkan Nyonya Besar Dior, Luke tak mungkin sembuh cepat seperti yang dialami Nona Harrow, dan memberi tahu agar dia tidak perlu cemas jika anak itu masih suka demam setelah seminggu penuh karena hal ini kerap terjadi pada anak-anak laki-laki yang berisik dan sulit dikontrol. Anak-anak seperti ini hampir mustahil tetap berbaring diam di tempat tidur, karena begitu rasa sakit dan nyeri mereka mereda, dibutuhkan kerja keras satu orang atau, mungkin akan lebih tepat mengatakan dibutuhkan kerja keras dua orang, untuk mencegah mereka melompat-lompat, dan bahkan turun dari tempat tidur begitu kita tidak mengawasi mereka.


“Saya sendiri punya dua anak kecil yang bandel, Nyonya” Sang dokter bercerita kepadanya, dengan rasa bangga yang disamarkan dengan buruknya. “Sulit diprediksi seperti anak laki-laki Anda, jadi Anda bisa percaya saya tidak berbicara tanpa pengalaman pribadi.” Dia lalu mengatakan Nyonya Besar Dior sangatlah bijak menjaga bayinya dari risiko tertular, memujinya atas tubuh kuat dan paru-paru sehat Nona Susan Dior, dan pergi dengan membiarkan Nyonya Besar Dior memberi tahu Caroline bahwa dia adalah dokter paling ramah dan simpatik yang pernah dikenalnya.


Pada Nona Harrow, kabar tentang sakitnya Luke bereaksi seperti sebuah tonik. Dia memang menangis sejadi-jadinya, dan mengatakan dia tidak pernah berani menatap wajah Nyonya Besar Dior lagi, tapi perasaan murung yang terancam kambuh ini tidak berlangsung lama. Sebuah kesempatan untuk membuktikan dirinya benar-benar bernilai telah muncul dengan sendirinya, dan dia meraihnya. Nona Harrow melepaskan syal, berpakaian, dan muncul dari kamar tidurnya, dengan agak gemetaran, tapi bertekad untuk berbagi tugas dengan si perawat untuk menjaga agar Luke tetap tidak bergerak. Perawat menerima bantuannya dengan baik hati. “Karena sudah jelas, Nona Elle,” kata si perawat, “meski dia mungkin seorang wanita bodoh yang lidahnya bergerak-gerak seperti penggesek biola, dia sungguh tahu cara menangani anak-anak, dan bersedia duduk berjam-jam menceritakan dongeng dan semacamnya kepada mereka, yang memungkinkan aku untuk beristirahat sebentar.”


Kelihatannya seolah ramalan suram Elle akan menjadi pernyataan yang salah, tetapi dua hari kemudian, Betty, pelayan muda yang telah melayani Nona Harrow sepanjang masa sakitnya, juga terbaring sakit. Keadaan ini diberitahukan Elle kepada majikannya dengan kepuasan yang agak tak berperasaan. “Yang semuanya menunjukkan betapa benarnya saya, Nyonya!” katanya, seraya membuka pintu-pintu lemari pakaian besar tempat menyimpan baju-baju Nona Dior. “Saya sudah bilang kepada Anda masalah muncul tiga kali berturut-turut, dan kalau hanya Betty yang mendapat influenza terkutuk ini, tidak ada bahaya yang terjadi. Nah, Anda mau pakai gaun katun biru hari ini, atau haruskah saya mengeluarkan gaun muslim Prancis, dengan mantel pendek rajutan bergaris?”


“Elle,” ujar Nona Dior, dengan suara bimbang, “kupikir aku takut kalau aku juga terkena influenza.” Elle berbalik dengan cepat. Nona Dior sedang duduk di tepi tempat tidur, masih mengenakan baju tidurnya, dan meski musim hujan telah berganti hari yang cerah dan panas terik, dia gemetaran begitu hebat sehingga dia mendengar giginya bergemeretak di kepala. Elle melihatnya sekali pandang, lalu menyingkirkan gaun muslin Prancis, dan buru-buru menghampirinya, seraya bergumam, “Oh, Tuhanku! Saya seharusnya tahu ini akan terjadi!” Dia menyambar tangan Nona Dior, dan dengan segera mendorongnya kembali ke tempat tidur. “Anda harus tetap di sini, Nona Caroline!” katanya, dengan nada mengancam. “Sungguh diharapkan Anda tidak menderita sesuatu yang lebih parah daripada influenza!”


“Oh, tidak, kurasa tidak,” Caroline berkata dengan lirih.


“Sakitnya menyerangku pada waktu malam. Aku terbangun, merasa seolah sudah dipukuli berkali-kali dengan gada, dan dengan sakit kepala seperti aku berharap sakitnya akan berangsur-angsur sembuh, kalau mataku tetap terpejam, tapi ternyata tidak, dan aku merasa sakit parah. Jangan beri tahu Nyonya Besar Dior.”


“Jangan biarkan Nona Cherry dekat-dekat denganku juga.”


“Satu-satunya orang yang akan masuk ke kamar ini adalah dokter,” ujar Elle dengan muram, menghentakkan kakinya dan menarik tirai menutupi jendela. “Berbaringlah dengan tenang sekarang sampai saya kembali, dan jangan merasa gelisah dengan membayangkan rumah ini akan kacau balau hanya karena Anda menjadi lelah dengan semua masalah yang telah Anda hadapi dan berniat memulihkan kekuatan Anda kembali dengan tetap berbaring di tempat tidur hari ini karena itu tidak akan terjadi!”


††*****††


Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca artikel novel saya, dan sebagai info. Harusnya setiap hari ada update untuk episode baru, tapi entah karena belum cukup memenuhi syarat dalam menandatangi kontrak atau kendala teknis saya kurang paham.


Platformnya yang kadang menunda untuk menampilkan setiap hari.

__ADS_1


Oh iya, jangan lupa vote juga ya, dan berikan saran terkait penulisan dalam cerita.


Terima kasih banyak.


††*****††


Baca Juga Novel saya yg satunya ya…


LAYLA AL-MADANI


Tema Cerita tentang “Kasih Sayang Orang Tua di masa lalu yang mengagumkan tetapi di khianati oleh bangsa sendiri, Penghianatan, balas dendam serta ambisius berskala besar..


“Setting Cerita membuat segalanya masuk akal dan alur cerita yang terentang dari masa ribuan tahun lalu menjadi latar belakang penuh warna bagi berbagai kesulitan yang di dalami oleh para pelaku utamanya”.


“Petualangan yang menggairahkan dan menyenangkan menumpas kasus yang akhirnya menyeret kepada kejadian yang tidak terduga, melibatkan beberapa Bangsa dan Kepercayaan dari tiga (3) agama dalam memperebutkan Tanah Suci dengan Politik Timur Tengah yang suram dan tidak tenang, di selingi dengan kisah romansa cinta sesaat dari pelaku itu sendiri”


Dan Jangan Lupa Vote, juga komen dan sarannya di butuhkan.


By the way Enjoy it!!!


Thanks and best Regards


“Saya yang di pojokan kulkas"

__ADS_1


__ADS_2