Cinta Kilat Perawan Tua

Cinta Kilat Perawan Tua
Chapter XXIV


__ADS_3

Pria itu menyambut mereka di sebuah ruang tamu pribadi, dengan sangat pantas mengenakan jas biru, rompi putih, celana pantalon hitam, dan kaus kaki sutra bergaris yang merupakan pakaian malam hari yang dipakai oleh semua orang cerdas di pesta-pesta pribadi. Nona Dior memperhatikan, dengan persetujuan setengah hari, bahwa meski pria itu tidak menampilkan keanehan mode berlebihan yang menjadi ciri khas para pesolek, jasnya berpotongan sangat bagus, dasinya diikat dengan hati-hati, ujung kemejanya terlihat kaku, dan bagian depan kemejanya tidak dihiasi rumbai-rumbai mode kuno yang masih dipakai oleh banyak pesolek udik, dan hampir selalu oleh generasi orang-orang cerdas yang lebih tua, di mana pria itu termasuk di dalamnya.


Pria itu menghampiri untuk berjabat tangan dengan Nona Dior, tidak segera menghiraukan Cherry, yang mengikuti Nona Dior memasuki ruang tamu. “Anda tidak bisa bayangkan betapa leganya saya melihat Anda tidak mengajak sepupu Anda!” ujarnya, sebagai cara memberi salam.


“Selama tiga jam ini, saya memaki diri sendiri karena tidak menjelaskan bahwa saya tidak menyertakan dia dalam undangan saya untuk Anda! Saya tidak akan tahan melewatkan malam dengan ditemani seorang pengoceh keterlaluan seperti itu!”


“Oh, tapi Anda bisa bertahan!” Nona Dior memberitahunya. “Dia sangat membenci Anda, dan tidak bisa disalahkan karenanya, atau karena dia telah mengutarakan beberapa kecaman yang cukup keras atas kelakuan Anda yang kurang baik. Harus Anda akui, kalau ada sedikit saja kejujuran dalam diri Anda, bahwa Anda sangat tidak sopan terhadapnya!”


“Saya tidak bisa menoleransi orang membosankan yang suka mengoceh,” ujarnya. “Jika dia membenci saya seperti itu, saya heran dia mengizinkan Anda datang ke sini tanpa pengawalannya.”


“Dia tentu akan menghentikan saya kalau dia bisa melakukannya, sebab dia berpikir Anda bukanlah orang yang pantas saya kenal.”


“Astaga! Apakah dia curiga bahwa saya mencoba merayu Anda? Soal itu, dia bisa merasa tenang. Saya tidak pernah merayu wanita-wanita dari kalangan atas.” Dia berpaling dari Caroline saat berbicara, dan mengangkat kacamatanya untuk mengamati Cherry lekat-lekat.


“Nah, Ponakan?” ujarnya.


“Kau ini gadis muda yang sangat menyusahkan! Tapi, aku senang melihat penampilanmu setidaknya jauh lebih baik sejak terakhir kali aku melihatmu. Kukira kau akan tumbuh menjadi gadis tidak cantik, tapi aku salah. Kau tidak lagi bermuka lebar, dan bintik-bintik di wajahmu hilang. Terimalah ucapan selamat dariku!”


“Aku tidak bermuka lebar!”


“Oh, percayalah, dulu kau begitu! Lemak di badanmu masih ada.”


Dada Cherry mengembung karena marah, tapi Nona Dior menyela, seraya menganjurkannya agar tidak menanggapi ucapan itu, atau pancingan lain yang dilontarkan pamannya. Nona Dior menambahkan dengan keras, “Dan Anda sendiri, Tuan, saya mohon Anda bersedia menahan diri agar tidak mengeluarkan kata-kata yang dimaksudkan untuk membuat Cherry marah dan membuat saya sangat tidak nyaman!”


“Saya sama sekali tidak akan berbuat begitu!” Tuan Constantine meyakinkannya.


“Kalau begitu, jangan bersikap kasar!” jawab Nona Dior dengan ketus.


“Tapi, saya tidak kasar!” protesnya. “Saya tidak mengatakan Cherry sekarang bermuka lebar! Yang saya katakan adalah, dia dulu bermuka lebar, dan bahkan memujinya atas wajahnya yang membaik!”


Cherry tergoda untuk tertawa di luar kehendaknya, dan berkata dengan terus terang, “Oh, betapa kau sangat membantu, Paman Damien! Apa aku benar-benar semacam antidot?”


“Oh, bukan, bukan antidot! Hanya seekor ayam yang telah kehilangan bulu halusnya dan punya terlalu sedikit bulu untuk menunjukkan bahwa dia bisa tumbuh menjadi seekor burung yang molek.”


“Yah!” ujar Cherry, sangat terkesan. “Aku tahu aku sangat cantik, tapi tidak ada yang pernah mengatakan aku molek! Apa menurutmu aku molek, Tuan, atau, atau kau sedang menghinaku?”


“Tidak, menurutku kau tidak molek, tapi kau tidak perlu terlihat begitu sedih. Percayalah, hanya kaum wanita yang mengagumi wanita-wanita molek, kaum pria jelas sekali lebih suka wanita cantik.”


Cherry dibiarkan untuk memahami pernyataan ini, sementara Tuan Constantine bercakap-cakap dengan Nona Dior, tapi tiba-tiba Cherry memotong pembicaraan kesopanan yang luar biasa ini untuk menanyai pamannya apakah menurutnya Nona Dior molek atau cantik. Caroline, merasa geli bercampur malu, mengarahkan ekspresi tidak setujunya kepada gadis itu, tapi Tuan Constantine menjawab tanpa ragu, “Tidak dua-duanya.”


“Yah, menurutku,” kata Cherry, siap membela penyokongnya,


“dia itu jelita!”


“Ya, kupikir juga begitu,” jawab Tuan Constantine.

__ADS_1


“Saya sangat berterima kasih kepada kalian berdua,” ujar Caroline, setelah pulih dari keterkejutannya, “dan saya bahkan lebih berterima kasih kepada Anda jika Anda bersedia berhenti membuat saya malu. Saya tidak datang untuk mendengarkan pujian-pujian gombal, tapi untuk berdiskusi dengan Anda, Tuan, cara terbaik untuk menanggung Cherry sampai saat perkenalannya.”


“Semua ada waktunya,” ujar Tuan Constantine. “Kita akan makan malam terlebih dahulu.” Dia menambahkan, dengan cahaya berkilau di matanya yang menurut Nona Dior menggelisahkan, “Usia tua Anda, Nyonya, telah mengurangi daya ingat Anda! Saya pernah memberi tahu Anda, beberapa jam lalu, bahwa saya tidak pernah berusaha merayu orang. Usia saya jauh lebih tua dari Anda, tapi saya harus peringatkan Anda bahwa daya ingat saya masih belum rusak karenanya.”


“Menyebalkan, benar-benar orang yang menyebalkan,” Nona Dior berkata dengan lembut, tapi membiarkan pria itu menggandengnya berjalan ke meja, tempat dua orang pelayan baru saja selesai menyajikan hidangan pertama yang dipilih dengan hati-hati sebagai menu makan malam mereka. Cherry cenderung hendak mencibir, tapi ditahan oleh tatapan sekilas mata Nona Dior yang bersinar lembut, dan dengan patuh mengambil tempatnya di sisi kiri walinya.


Cherry cukup muda untuk menganggap makanan yang tersaji di hadapannya hanyalah seadanya, tapi dia punya selera makan yang besar khas anak sekolahan, dan menyantap banyak dari hidangan pertama, dengan mengambil setiap makanan yang ditawarkan kepadanya, dan membiarkan orang-orang yang lebih tua bercakap-cakap tanpa gangguan. Karena rasa laparnya sudah berkurang pada waktu hidangan kedua dibawa masuk, dia menolak daging angsa muda dan daging burung dara, tapi melahap orange souffle, krim Celerata, dan sekeranjang kue kering. Sambil menggigit biskuit ratafia, dia mencuri pandang ke arah pamannya. Pamannya tengah tersenyum menanggapi sesuatu yang dikatakan Nona Dior kepadanya, jadi Cherry memberanikan diri menanyainya pertanyaan yang ada di benaknya. “Paman Damien!” katanya dengan nada sangat mendesak.


Tuan Constantine menoleh.


“Hilangkan kebiasaan memuakkan yang sudah terbiasa kau lakukan saat memanggil aku dengan Paman Damien! Menurutku itu sangat menjijikkan.”


Cherry membelalakkan mata kepadanya.


“Tapi, kau memang pamanku!” jelasnya.


“Ya, tapi aku tidak ingin diingatkan akan hal itu.”


“Sebutan yang membuatmu merasa sangat tua, bukan?” ujar Nona Dior, pura-pura bersimpati.


“Tepat sekali!” jawabnya.


“Hampir lebih buruk dari bibi!”


Nona Dior menggeleng-geleng sedih.


“Kalau begitu, aku harus memanggilmu apa?” tuntut Cherry.


“Apa pun yang kau suka,” jawab Tuan Constantine, dengan suara yang sama sekali tidak tertarik.


“Nah, izin yang sangat baik itu membuka lebar peluang untukmu, Sayang,” kata Nona Dior.


“Tidak akan baik untukmu memanggilnya Gangster Tukang Kecam, sebab itu terlalu kasar, tapi aku melihat tak ada salahnya bila kau memanggilnya Kapten Hackum Penggertak, yang punya arti sama, tapi terdengar lebih baik!”


Tuan Constantine tersenyum lebar, dan dengan baik hari menjelaskan kepada keponakannya yang kebingungan bahwa istilah-istilah ini sangat buruk. “Semuanya istilah bahasa kasar,” jelasnya lebih lanjut,


“dan terlalu vulgar untuk kau gunakan! Siapa pun yang mendengar kata-kata itu keluar dari bibirmu akan mengecap mu sebagai gadis nakal yang kurang ajar, tanpa punya sopan santun atau kehalusan.”


“Kutu busuk!” ujar Nona Dior, dengan sungguh-sungguh.


“Oh, kau mengolok-olok aku!” Cherry berseru, agak tersinggung.


“Kalian berdua! Kuharap kalian tidak akan melakukannya! Aku bukan gadis nakal yang kurang ajar walau kukira orang-orang akan mengira ku begitu kalau aku memanggilmu hanya Oriver Ku yakin itu pasti sangat tidak patut!”


“Bukan saja tidak patut, melainkan juga akan membuatmu langsung terkena hukuman!” Tuan Constantine memberitahunya.

__ADS_1


“Aku tidak keberatan kau memanggilku Damien, tapi Hanya Damien, aku sama sekali tidak akan menerimanya!”


Cherry tertawa. “Aku tidak bermaksud begitu! Kau tahu aku tidak begitu! Tentunya, kalau kau punya gelar akan lebih tepat untuk memanggilmu dengan sebutan gelar, tapi bayangkan saja apa yang akan dikatakan bibiku kalau dia sampai mendengarkan ku memanggilmu Damien!”


“Karena kelihatannya mustahil dia akan mendengarnya, itu tidak perlu membuatmu cemas,” ujarnya. “Jika kau merasa khawatir, hilangkan perasaan itu dengan pemikiran bahwa Putri Charlotte memanggil semua pamannya setahuku bibinya juga dengan nama baptis mereka, dan bahkan yang termuda dari mereka usianya lebih tua dariku!”


Cherry tidak berminat dengan keluarga kerajaan dan mengabaikan Putri Charlotte dengan cepat. “Oh, yah, kurasa segala hal berbeda untuk para putri,” katanya. “Tapi, kau bilang bibiku tidak mungkin akan pernah mendengar ku memanggilmu Damien. A-apa maksudmu, Pa… Tuan?”


“Kudengar dia melepas tanggung jawabnya atas mu?”


“Ya!” bisik Cherry, menepuk kedua tangannya, dan tetap menatap pamannya lekat-lekat. “Lalu?”


“Perlu bagiku, tentunya, untuk mencari seorang wanita lain yang bersedia bertanggung jawab atas mu.” Wajah Cherry menjadi murung. “Tapi, kapan aku akan diperkenalkan?”


“Tahun depan,” jawab Tuan Constantine.


“Tahun depan? Oh, kau terlalu jahat!” teriaknya. “Usiaku sudah lewat delapan belas saat itu, dan hampir tidak menarik lagi! Aku ingin diperkenalkan tahun ini”


“Kukira begitu, tapi tidak akan ada ruginya bagimu menunggu setahun lagi.” Tuan Constantine menjawab dengan tidak berperasaan. “Bagaimanapun, kau harus menunggu sebab Julia Trevisian, yang akan memperkenalkan mu di salah satu Resepsi Formal, tidak bisa mengemban tugas yang sangat melelahkan untuk mengawal mu ke semua pesta resmi yang akan dia pastikan bahwa kau diundang, sampai sepupumu Belevia ini tidak menjadi tanggung jawabnya lagi. Belevianne akan menikah bulan Mei, pada pertengahan Musim Pertemuan, dan akan terlalu terlambat bagimu untuk muncul pertama kalinya, sekalipun Julia, pada saat itu, sama sekali tidak kelelahan. Tapi, dari percakapannya ketika terakhir kali aku menemuinya, kusimpulkan dia akan kelelahan.”


††*****††


Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca artikel novel saya, dan sebagai info. Harusnya setiap hari ada update untuk episode baru, tapi entah karena belum cukup memenuhi syarat dalam menandatangi kontrak atau kendala teknis saya kurang paham.


Platformnya yang kadang menunda untuk menampilkan setiap hari.


Oh iya, jangan lupa vote juga ya, dan berikan saran terkait penulisan dalam cerita.


Terima kasih banyak.


________________________________


Baca Juga Novel saya yg satunya ya…


LAYLA AL-MADANI


Tema Cerita tentang “Kasih Sayang Orang Tua di masa lalu yang mengagumkan tetapi di khianati oleh bangsa sendiri, Penghianatan, balas dendam serta ambisius berskala besar..


“Setting Cerita membuat segalanya masuk akal dan alur cerita yang terentang dari masa ribuan tahun lalu menjadi latar belakang penuh warna bagi berbagai kesulitan yang di dalami oleh para pelaku utamanya”.


“Petualangan yang menggairahkan dan menyenangkan menumpas kasus yang akhirnya menyeret kepada kejadian yang tidak terduga, melibatkan beberapa Bangsa dan Kepercayaan dari tiga (3) agama dalam memperebutkan Tanah Suci dengan Politik Timur Tengah yang suram dan tidak tenang, di selingi dengan kisah romansa cinta sesaat dari pelaku itu sendiri”


Dan Jangan Lupa Vote, juga komen dan sarannya di butuhkan.


By the way Enjoy it!!!

__ADS_1


Thanks and best regards


__ADS_2