Cinta Kilat Perawan Tua

Cinta Kilat Perawan Tua
Chapter XLIII


__ADS_3

Tuan Besar Curtis segera mengatakan dia akan pergi, berhenti untuk mengutarakan kecemasannya terhadap Nyonya Besar Dior, dan harapannya bahwa udara Rouen, serta perhatian penuh kasih sayang yang dia tahu betul akan diterima oleh Nyonya Besar Dior di rumah saudari iparnya, akan segera memulihkan kesehatannya kembali seperti sediakala, dia benar-benar pergi.


Nyonya Besar Dior berkata, ketika dia sendirian dengan Caroline, “Betapa sayangnya dia kepadamu, Sayang! Kau tidak seharusnya menguTuannya karena aku!”


“Ya, aku tahu kau punya rasa kasih sayang terhadapnya,” kata Caroline, dengan serius menggeleng. “Maafkan aku karena menolak membantu, tapi kurasa sudah menjadi kewajibanku terhadap Arthur untuk menjauhkan lelaki tampan seperti itu darimu.”


“Memalukan, Caroline! Tidak pantas sekali kau mempermainkan lelaki malang itu! Tentu saja jauhkan dia dariku! Betapa konyolnya kau ini!”


“Tidak lebih konyol darimu, Sayang.”


Mata Nyonya Besar Dior terarah ke wajahnya. “A…apa yang kau maksudkan?” dia tergagap.


“Bukankah kau datang ke sini untuk menjauhkan Damien Constantine dariku?” Caroline bertanya kepadanya, seulas senyuman yang sedikit menyindir tergores di bibirnya.


Pipi Nyonya Besar Dior merona. “Oh, Caroline!”


Caroline tertawa. “Jangan terdengar menyedihkan begitu! Aku tahu betul bahwa gagasan tidak masuk akal ini berasal dari Arthur, bukan kau.”


“Oh, Caroline, tolong jangan merasa kesal!” Nyonya Besar Dior berkata dengan nada memohon.


“Aku tidak akan pernah berani menduga-duga aku sangat yakin kau tidak akan pernah melakukan sesuatu yang tidak bijaksana. Aku meminta Arthur untuk tidak ikut campur! Sungguh, aku sampai berkata bahwa tidak ada yang akan membujukku untuk tinggal denganmu! Aku tidak pernah sampai hampir bertengkar dengannya sebab aku tahu betapa sangat kesalnya kau terhadap campur tangan seperti ini!”


“Aku memang merasa jengkel, dan sangat berharap kau tidak menyerah kepada Arthur,” Caroline menyahut. “Tapi, itu tidak bisa diharapkan lagi, sepertinya. Oh, jangan menangis! Aku tidak marah kepadamu, Sayang!”


Nyonya Besar Dior menghapus air matanya, dan berkata dengan isak dalam suaranya, “Tapi, kau marah kepada Arthur, dan aku tidak tahan melihatmu marah begitu.”


“Yah, itu juga tidak bisa diharapkan lagi.”

__ADS_1


“Tidak, tidak, jangan berkata begitu! Jika kau tahu betapa cemasnya dia selama ini! Betapa sayangnya dia terhadapmu!”


“Aku tidak meragukan itu. Kami punya kasih sayang besar terhadap satu sama lain, tapi kami tidak pernah begitu sayangnya ketika kami berpisah, sebagaimana kau tahu betul. Rasa sayangnya tidak membuatnya memahami sedikit pun sifatku. Dia terus saja menganggap aku sebagai gadis yang kekanak-kanakan, dengan pemikiran yang tidak lebih baik daripada orang dungu, yang begitu pandainya sehingga selalu saja membutuhkan bimbingan, nasihat, larangan, dan kecaman dari seorang kakak yang berpikir dirinya jauh lebih bijak daripada adiknya, tapi kalau kau bersedia memaafkanku karena berkata begitu, semua ini hanya masalah kesalahpahaman.”


Kata-kata yang keras ini membuat Majorie yang lembut menjadi takut, tapi dia berusaha, dengan beraninya, membela suaminya yang dicintai dari kecaman saudarinya. “Kau memperlakukannya secara tidak adil, Sayang! Sungguh! Dia selalu mengatakan kepada orang-orang betapa cerdasnya kau berotak encer, begitu dia menyebutnya. Dia amat bangga dengan kecerdasanmu, dan kecantikanmu, tapi ... tapi dia tahu karena bagaimana mungkin dia tidak tahu? bahwa dalam hal-hal duniawi kau tidak berpengalaman seperti dia, dan... dan ketakutannya adalah bahwa kau mungkin diperdaya oleh seorang pria yang suka bersenang-senang, itulah gambaran sosok Tuan Constantine yang dia deskripsikan kepadaku.”


“Aku penasaran apa yang membuar Arthur yang malang sebegitu benci terhadap Tuan Constantine,” kata Caroline, merasa sangat geli. “Aku akan coba-coba menebak Tuan Constantine, pada suatu waktu, memberi Arthur salah satu celaan bengisnya. Aku ingat Arthur memberitahuku bahwa Tuan Constantine adalah pria paling kasar di Paris, yang rasanya tidak sulit untuk dipercaya. Dia tentu saja pria paling kasar yang pernah aku jumpai.”


“Caroline,” ujar Nyonya Besar Dior, memelankan suaranya,


“Arthur memberitahuku bahwa Tuan Constantine adalah pemain wanita!”


“Oh, tidak! Apakah dia sudah mengganggu pendengaranmu dengan istilah itu?” Caroline berseru, mata dan suaranya dipenuhi binar tawa.


“Dia tidak mengganggu pendengaranku yang suci dengan istilah itu! Itulah yang dia maksud, tentunya, ketika dia berkata Tuan Constantine adalah orang berbahaya yang tidak akan dibayangkannya akan dia perkenalkan kepadaku, tapi saat aku menanyainya apa yang dia maksudkan, jawaban yang dia berikan hanyalah menyesali kekuranganku akan kehalusan pikiran! Nah! Kau dan aku, Majorie, mendapatkan pengalaman pertama kita bertahun-tahun lalu, jadi marilah kita, demi Tuhan, mengucapkan kata itu dengan sikap biasa! Aku akan terkejut jika seorang bujangan seusia Tuan Constantine tidak pernah berhubungan dengan gadis tunasusila, tapi aku masih lebih heran terhadap keberhasilannya yang nyata dalam hal ini! Kukira itu pasti karena kekayaannya, sebab tidaklah mungkin karena gaya bicaranya, karena dia tidak punya gaya bicara yang baik! Sejak pertemuan pertama kami, dia menyia-nyiakan segelintir kesempatan untuk bersikap sangat tidak sopan kepadaku, bahkan sampai memberitahuku bahwa Belevia tidak perlu takut dia berusaha menggodaku karena dia tidak punya niat seperti itu.”


“Caroline!” Nyonya Besar Dior terkesiap. “Kau pasti bercanda! Dia tidak bisa mengatakan sesuatu yang begitu... begitu kasar kepadamu!”


“Aku harap aku tidak pernah terpaksa untuk bertemu dengannya!” jawab Majorie dengan pedas, gambaran kebajikan yang terhina.


“Tapi, kau pasti akan berjumpa dengannya,” Caroline berkata bijak. “Ingatlah keponakannya dan anak perwaliannya berada dalam tanggung jawabku! Dia kerap datang ke rumah ini, untuk memastikan bahwa aku tidak mengizinkan gadis itu mendorong usaha menjalin persahabatan dari pemburu kekayaan seperti Denis Damitri, atau untuk melanggar batasan kesopanan yang paling keras. Dia justru tidak menganggapku orang yang cocok dan tepat untuk menjaga Cherry, dan tidak segan untuk berkata begitu. Katanya, dia selalu bersikap sangat kurang ajar: mereka menjadi orang yang terlalu sopan ketika berkaitan dengan anggota keluarga mereka sendiri yang perempuan. Aku bayangkan itu pasti karena mereka terlalu mengenal tipu muslihat para penggoda dari pengalaman mereka sendiri. Lagi pula, Sayang, bagaimana mungkin kau bisa melindungiku darinya kalau kau kabur keluar ruangan begitu dia diantar ke dalam?”


Nyonya Besar Dior tidak bisa menemukan jawaban atas pertanyaan ini, kecuali hanya berkata, dengan lemah, dia sudah memberi tahu Arthur tidak ada guna suaminya itu memaksanya tinggal di Versailles.


“Sama sekali tidak ada,” Caroline sependapat. “Tapi, jangan biarkan hal ivu membuatmu bersedih, Sayang! Kuharap aku tidak perlu meyakinkanmu bahwa aku selalu senang menerimamu di rumahku.”


“Caroline Sayang!” ucap Nyonya Besar Dior, benar-benar terharu, dan menghapus air mata yang mengalir lagi dari sudut matanya. “Selalu sangat baik! Jauh lebih baik kepadaku daripada saudariku sendiri! Percayalah, salah satu keinginan hatiku adalah melihatmu menikah dan bahagia dengan seorang pria yang layak mendapatkanmu.”

__ADS_1


“Curtis?” tanya Caroline. “Kukira aku tidak mengenal siapa pun yang lebih layak darinya!”


“Aduh, bukan! Aku sangat berharap dia dapat memikarmu, tapi aku tahu tidak ada peluang untuk itu: kau menganggapnya membosankan, dan pengganggu, dan aku kadang berpikir kau menolak melihat semua sifat baiknya.”


“Oh, tidak! Dia itu punya banyak sekali sifat baik, tapi kenyataan yang menyedihkan adalah sebesar apa pun aku mungkin menghormati sifat-sifat baik seorang pria, hal itu tidak menumbuhkan dalam diriku sedikit pun rasa cinta terhadapnya. Entah aku akan menikahi seorang pria yang memiliki banyak sifat buruk, atau tetap melajang yang merupakan takdir yang paling memungkinkan bagiku! Kita jangan berbicara lagi tentang masa depanku. Ceritakan kepadaku tentang dirimu sendiri.”


Namun, Nyonya Besar Dior berkata tidak ada yang perlu diceritakan. Caroline menanyainya apakah dia benar-benar berniat untuk mengikuti serangkaian mandi uap dari Rusia, yang malah membuatnya terkikik. “Oh, tidak, dan itulah yang kukatakan kepada Arthur.”


“Yah, dia mengandalkanku untuk membujukmu melakukannya. Aku bilang kepadanya bahwa aku menganggap tidaklah sopan melakukan hal semacam itu. Benarkah kau merasa tidak sehat?”


“Tidak, tidak. Maksudnya, aku memang merasa sedikit flu, tapi tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Dan, tentu saja aku sangat meresahkan Luke, yang telah membuatku terlihat tua dan buruk. Aku yakin itulah yang membuat Arthur berkesempatan melakukan salah satu kebiasaannya. Mungkin aku bahkan bisa meminum air hanya ... hanya untuk menyenangkannya! Lagi pula, tidak ada ruginya bagiku.”


“Kecuali air itu membuatmu merasa sakit seperti yang kurasakan, pada satu-satunya kesempatan di mana aku memutuskan untuk meminumnya. Kita akan segera lihat! Sejak Cherry tinggal bersamaku, aku mengunjungi Ruang pompa hampir setiap hari, supaya dia bisa menemui teman barunya, yang menemani ibunya ke ruang pompa. Kukira kau sudah bertemu Nyonya Stinchcombe, bukankah dia pernah datang untuk makan malam di sini sewaktu kau dan Arthur mengunjungiku tahun lalu?”


“Oh, ya! Wanita yang sangat menyenangkan! Aku mengingatnya dengan baik, dan akan senang berjumpa lagi dengannya. Tapi, Cherry ini! Di manakah dia?”


“Kau akan segera menjumpainya. Dia pergi berjalan-jalan di Sydney Garden bersama Stonehenge dan Edith Stinchcombe. Dia dan Stonehenge sudah menjadi teman yang hampir tidak terpisahkan, yang karenanya aku sangat bersyukur! Aku sangat sayang kepada anak itu, tapi kuakui, aku mendapati betapa membosankannya bila harus pergi ke mana-mana dengannya. Kegiatan mengawal seseorang bukanlah tugas mudah, kujamin.”


“Memang tidak! Aku terkejut saat mendengar kabar kau menerima tanggung jawab tanpa diminta untuk menjaga Nona Constantine. Kau terlalu muda untuk menjadi pengawal gadis manapun, siapa pun gadis itu. Arthur berpikir kau seharusnya mengembalikan dia ke bibinya, dan harus kuakui aku mau tak mau merasa dia ada benarnya. Aku tidak bermaksud mengatakan gadis itu tidak menyenangkan. Arthur terkejut dengan tata kramanya yang, seperti dia katakan kepadaku, sangat baik, tapi betapa besarnya tanggung jawab yang harus kau pikul, Sayang! Aku tidak bisa menyukainya karena itu.”


“Yah, kalau dia harus bersamaku setiap saat, aku juga tidak akan menyukainya,” Nona Dior mengakui. “Dia itu gadis kecil lugu yang menyenangkan, tidak pernah menghadiri perkumpulan masyarakat kalangan atas yang disebutnya pesta-pesta “orang dewasa sampai dia datang ke Rouen, dan segera menjadi populer. Dia sudah membuat pemuda-pemuda, aku tidak tahu sudah berapa banyak, mengejarnya, dan hal itu membuatku perlu mengawasinya lebih ketat. Lebih buruknya lagi, dia ahli waris yang penting, umpan matang untuk para pemburu kekayaan. Untunglah, keluarga Cheltenhampunya seorang pengasuh yang disayangi anak-anak gadisnya bahkan Cherry pun menyukainya, padahal sebelumnya dia membenci semua pengasuh jadi aku bisa menyerahkan Cherry ke dalam pengawasannya ketika tiba waktunya untuk berjalan-jalan, atau membeli baju perhiasan murah di kota. Aku hanya berharap keluarga Cheltenhamtinggal di Versailles, tapi mereka tidak tinggal di sana. Mereka punya sebuah rumah di Laura Place, jadi aku terpaksa mengantar Cherry saat dia mengunjungi mereka. Tapi, Tuan Constantine memberiku izin untuk mempekerjakan seorang pelayan baginya, yang kunilai bisa dipercaya untuk melaksanakan tugasku saat dibutuhkan.”


“Tapi, Caroline, sebegitu pentingkah mengawal gadis-gadis di Rouen? Yah, bahkan di Paris, saudari-saudariku bercerita sekatang ini sangatlah biasa melihat dua gadis berjalan bersama tanpa diiringi seorang pelayan pun!”


“Dua gadis, ya,” ujar Nona Dior. “Tapi, tidak seorang gadis sendirian, kukira. Nyonya Cheltenhamadalah orangtua yang pemurah, tapi aku sangat yakin dia tidak akan mengizinkan Stonehenge datang ke Versailles sendirian. Dan, dalam kasus Cherry? Tidak, tidak! Tidak mungkin! Meski dengan enggan, Tuan Constantine telah mempercayakan gadis itu pada pengawasanku sampai dia membereskan rencana lain untuknya, dan betapa mengerikan kesulitan yang akan aku alami jika membiarkan gadis itu terluka!”


“Tuan Constantine tidak punya hak untuk membebankan tanggung jawab semacam itu kepadamu!”

__ADS_1


“Memang. Dia tidak punya pilihan lain kecuali mempercayakan gadis ivu kepadaku karena dia sendiri, seperti yang dia katakan kepadaku dengan kasarnya, tidak punya kecenderungan untuk mengasuh, dan tidak berniar sedikit pun untuk memikul tanggung jawab sendiri atas Cherry. Aku menghargai bahwa dia punya cukup rasa tanggung jawab atas anak perwaliannya untuk menempatkan gadis itu dalam perwalian sementara dari seorang... seorang wanita yang sangat terhormat, yang aku merasa yakin itulah diriku! Tapi, melakukan hal itu sayangnya berlawanan dengan wataknya, dan kukira tidak ada yang akan memberinya kepuasan lebih daripada kegagalanku untuk menjaga Cherry dari segala bahaya yang mengancam seorang ahli waris belum berpengalaman saat kemunculan kali pertamanya dipublik setelah menyelesaikan masa sekolah!” Dia berhenti tiba-tiba, dan, setelah menimbang sebentar, berkata, “Tidak Mungkin aku menilainya dengan tidak adil. Dia tentunya akan mendapat kepuasan setelah mengetahui dia selama ini benar dengan meragukan kemampuanku untuk menjaga Cherry dengan baik, tapi aku menilainya dengan benar bila berpendapat dia akan benar-benar merasa tidak senang jika Cherry terluka.”


“Aku berharap kau tidak pernah berjumpa dengannya,” desah Nyonya Besar Dior.


__ADS_2