
Setelah itu Nona Dior mengganti baju bepergiannya dengan salah satu gaun katun halus sederhana yang dipakainya saat dia ingin melewatkan malam hari di tempat duduk di depan perapiannya sendiri, dan setelah itu dia juga harus menahan omelan dari Nona Elle perihal keras kepalanya dan ketidaksopanan yang terjadi sore ini. Dan apa yang akan dikatakan ayahnya andaikan beliau masih hidup melihat keputusan instan tanpa berpikir dari putri satu-satunya ini.
Kelar menerima ocehan itu Nona Dior pergi mengetuk pintu kamar tidur pink dan setelah diundang masuk, ia mendapati anak didiknya berpakaian dengan cantiknya dalam balutan kain muslin bermotif dahan-dahan, hanya saja terlihat sedikit kusut karena dimasukkan ke dalam koper, dan dengan rambut keritingnya yang kehitam-hitaman disisir rapi.
Rambut keriting itu menyelimuti kepalanya, dengan gaya alami yang dikenal sebagai sappho, yang bagi mata apresiatif Nona Dior, tidak hanya sangat menarik, tapi menekankan kemudaannya. Sekeliling lehernya dihiasi deretan kalung mutiara. Kalung sederhana ini satu-satunya perhiasan yang dia kenakan, tetapi Nona Dior tidak sekejap pun menduga, tidak ada kelihatan dari perhiasan kecil itu menunjukkan kemelaratan atau barang murahan. Mutiara itu asli, dan barang bagus terbaik yang memang dibutuhkan seorang gadis yang baru lulus dari sekolah sepertinya. Gaunnya memang terbuat dari kain muslin dengan motif dahan-dahan, disertai garis pinggang yang tinggi dan lengan baju yang menggelembung kecil, tapi kesederhanaannya yang halus inilah, setidaknya menunjukkan bahwa gaun itu sebagai hasil karya dari seorang penjahit kelas atas. Dan, syal yang dikenakan Cherry menyelimuti bahunya terbuat dari sutra Bretagne, dan mungkin membuat pembelinya mengeluarkan biaya sebesar lima puluh guinea. Jelaslah bibi Cherry yang tak dikenal memiliki harta banyak dan selera sangat bagus, serta rela mengeluarkan biaya untuk pakaian keponakan perempuannya.
Sama jelasnya seorang gadis semodis ini, dengan penampilan seperti gadis yang mandiri, kemungkinan tidak akan pernah diterima bekerja dengan Nyonya Susan.
Cherry berkata dengan menyesal, dia mengkhawatirkan gaunnya yang kusut.
“Masalahnya, seperti yang Anda lihat, aku tidak terbiasa mengemasi baju kedalam koper, Nyonya.”
“Kupikir kau mungkin belum pernah melakukannya, bukan?”
“Yah, belum! Tapi, aku tidak bisa serta merta meminta pelayanku melakukannya untukku karena dia pasti akan langsung memberi tahu bibiku. Itulah makanya aku harus melakukannya sendiri,” kata Cherry dengan getir.
“Hal terburuk dari pelayan-pelayan yang telah mengenal seseorang sejak bayi, mereka akan patuh kepada setiap perintah yang telah diperintahkan!”
“Betul sekali!” Caroline sepakat. “Aku juga pernah mengalaminya beberapa kali dan tahu betul apa yang kau rasakan. Nah, katakan kepadaku, dengan nama apa aku akan memperkenalkanmu kepada orang-orang?”
“Aku tadinya berpikir untuk menyebut diriku sendiri dengan nama Delisle,” ujar Cherry ragu-ragu. “Atau atau Blanc, mungkin. Beberapa nama yang sangat umum.”
“Oh, aku tidak akan memilih sesuatu yang terlalu umum!” kata Caroline seraya menggeleng.
“Tidak akan cocok denganmu!”
“Benar, dan kuyakin aku akan membencinya,” ujar Cherry dengan lugu. Dia ragu sejenak.
__ADS_1
“Rasanya aku akan tetap memakai namaku sendiri, supaya tidak bersikap kasar, yang memang sudah kulakukan ketika aku tidak memperbolehkan Archard memberi tahu Anda namaku sebenarnya tadi. Aku takut Anda mungkin akan menyerahkanku kepada pamanku yang menyebalkan itu, tapi itu karena aku tidak mengenal Anda dan tidak tahu betapa baiknya diri Anda. Jadi, akan kukatakan, Nyonya. Namaku Constantine dengan huruf ANT di tengah.” Dia menambahkan dengan hati-hati.
“Aku akan berhati-hati agar tidak membocorkan kepada seorang pun.” Caroline berjanji, dengan sungguh-sungguh.
“Siapa pun bisa dipanggil Constin tanpa huruf ANT di tengah, tapi huruf ANT memberi perbedaan pada nama itu, dan tentunya itulah yang ingin kau hindari. Nah, karena kita telah membereskan masalah itu, Ayok mari kita turun ke ruang tamu dan menunggu kedatangan Tuan muda Blanchet!”
“Apa dia memang harus datang,” kata Cherry tanpa berharap.
“Bukan berarti aku tidak ingin dia datang karena kalau dia tidak datang, hati nuraniku akan sangat terpukul, meski bukan salahku dia memaksa ikut denganku. Tapi, kalau sampai dia mengalami kesulitan, aku tidak akan pernah berhenti menyalahkan diriku sendiri karena telah membiarkannya telantar.”
“Tapi, kenapa dia harus telantar?” kata Caroline dengan bijak. “Kita meninggalkannya sekitar dua belas kilometer dari Rouen bukan di tengah padang pasir. Sekalipun dia tidak bisa menyewa kendaraan, dia bisa dengan mudah berjalan kaki di sepanjang sisa perjalanan, bukankah begitu?”
“Tidak,” kata Cherry, seraya mendesah.
“Dia sama sekali tidak akan berpikir begitu. Aku tidak peduli sedikit pun akan kebiasaan kuno seperti yang dia lakukan, tapi dia sungguh peduli akan hal itu. Aku sangat dekat dengannya karena aku telah mengenalnya sejak kecil, tapi aku tidak bisa menyangkal dia sayangnya kurang punya ... keberanian. Sebetulnya, dia itu berhati lemah, Nyonya.”
“Aku tentu hampir tidak mengenalnya, tapi menurutku kelihatannya dia tidak kekurangan keberanian. Membantu dan bersekongkol denganmu dalam pelarian bukanlah tindakan orang berhati lemah, kau harus akui itu.” Cherry tidak menyetujuinya, dan mencoba, untuk menjelaskan situasi yang telah menyebabkan Tuan Blanchet muda memulai apa yang mungkin merupakan satu-satunya petualangan dalam perjalanan hidupnya yang tanpa cela.
“Dia tidak akan melakukannya kalau tidak yakin Tuan Besar Oliver berpendapat hal ini sesuatu yang benar,” katanya.
“Meski kuyakin Tuan Besar Oliver akan menyalahkannya karena tidak menghalangiku, yang berarti itu tidak adil, dan itulah yang akan kukatakan kepadanya kalau dia memarahi Archard yang malang! Karena bagaimana mungkin dia mengharapkan Archard menjadi penuh keberanian kalau dia membesarkannya untuk menjadi seorang penurut yang berperangai baik? Archard selalu melakukan tepat yang diinginkan Tuan Besar Oliver agar dia lakukan, bahkan ketika harus meminangku, yang sebenarnya tidak ingin dia lakukan! Sementara aku sendiri, aku tidak percaya Tuan Besar Oliver akan terkena serangan jantung parah kalau Archard menolak mematuhinya, tapi Nyonya Besar Oliver berpikir begitu, dan telah membesarkan Archard untuk meyakini sudah menjadi kewajiban sucinya agar tidak berbuat apa pun yang membuat ayahnya sakit. Dan, aku akan katakan ini tentang Archard: dia memiliki hati yang sangat baik, selain sangat menyayangi Tuan Besar Oliver, dan punya pendapat cukup kuat tentang kewajiban seorang anak dan kuyakin dia akan lebih suka melakukan apa saja di dunia daripada menyebabkan ayahnya meninggal.” Terkejut, Nona Dior berkata, “Tapi, apakah Tuan Besar Oliver kutebak dia ayah Archard? seorang pria yang sangat tua?”
“Oh, tidak, tidak tua sekali,” jawab Cherry. “Dia seumuran dengan ayahku seandainya Ayah tidak meninggal ketika aku baru berusia tujuh tahun. Ayah terbunuh di Corunna, dan Tuan Besar Oliver yang, waktu itu dia belum disebut Tuan Besar Oliver, melainkan Tuan. William Blanchet, karena Tuan Besar Oliver tua masih hidup tapi, biarpun begitu, dia membawa pulang ke Prancis pedang milik ayahku, arlojinya, dan jurnalnya, serta surat terakhir kepada ibuku yang ditulis ayahku dengan tergesa-gesa, lalu memberikan semua itu kepada ibuku. Orang bilang, dia menjadi orang yang berbeda sejak Papa meninggal. Mereka itu sahabat karib sejak mereka berdua berada di Harrow, dan bahkan bergabung di resimen yang sama, dan tidak pernah berpisah sampai Papa terbunuh. Yang aku pahami betul, cerita ini sangat mengharukan karena aku bukan orang yang tidak berperasaan, apa pun yang mungkin dikatakan Bibi Mirela! Tapi, yang tidak aku mengerti, dan tidak akan pernah mengerti, mengapa Archard dan aku harus menikah hanya karena ayah kami, dengan cara yang tidak jelas, membuat rencana bodoh bahwa kami harus menikah!”
“Itu memang kelihatannya agak tidak masuk akal.” Nona Dior mengakui.
“Ya, dan karena, ketika menikahi ibuku, Papa membeli sebuah rumah tepat di seberang pagar Ome sehingga Archard dan aku hampir bisa dibilang dibesarkan bersama dan kami menjadi sahabat karib, maka tidak ada yang bisa membujuk Tuan Besar Oliver bahwa kami tidak ditakdirkan bersama. Dan, malangnya, Archard jatuh cinta kepada seseorang yang sangat tidak disukai Tuan Besar dan Nyonya Besar Oliver walau aku tidak bisa menduga-duga alasan mereka tidak menyukainya karena mereka tidak pernah keluar dari Ome dan tidak pernah melihat wanita itu. Kukira mereka berpikir wanita itu agak terlalu tua untuk Archard, dan aku harus akui memang aneh dia harus mengejar seorang wanita yang kira-kira berumur tiga puluh tahun, dan sangat mungkin lebih dari itu.”
__ADS_1
††*****††
Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca artikel novel saya, dan sebagai info. Harusnya setiap hari ada update untuk episode baru, tapi entah karena belum cukup memenuhi syarat dalam menandatangi kontrak atau kendala teknis saya kurang paham.
Platformnya yang kadang menunda untuk menampilkan setiap hari.
Oh iya, jangan lupa vote juga ya, dan berikan saran terkait penulisan dalam cerita.
Terima kasih banyak.
________________________________
Baca Juga Novel saya yg satunya ya…
LAYLA AL-MADANI
Tema Cerita tentang “Kasih Sayang Orang Tua di masa lalu yang mengagumkan tetapi di khianati oleh bangsa sendiri, Penghianatan, balas dendam serta ambisius berskala besar..
“Setting Cerita membuat segalanya masuk akal dan alur cerita yang terentang dari masa ribuan tahun lalu menjadi latar belakang penuh warna bagi berbagai kesulitan yang di dalami oleh para pelaku utamanya”.
“Petualangan yang menggairahkan dan menyenangkan menumpas kasus yang akhirnya menyeret kepada kejadian yang tidak terduga, melibatkan beberapa Bangsa dan Kepercayaan dari tiga (3) agama dalam memperebutkan Tanah Suci dengan Politik Timur Tengah yang suram dan tidak tenang, di selingi dengan kisah romansa cinta sesaat dari pelaku itu sendiri”
Dan Jangan Lupa Vote, juga komen dan sarannya di butuhkan.
By the way Enjoy it!!!
Thanks and best regards
__ADS_1