
Hari sudah menjelang sore ketika Nona Dior memasuki kembali rumahnya. Ada tanda-tanda yang jelas bahwa tamu tidak diundangnya telah tiba dan tengah menikmati kudapan di ruang makan. Diandre sudah menaiki separuh anak tangga, seraya mengangkat sebuah koper besar dengan bantuan salah satu pelayan: si kacung sedang mengumpulkan sebanyak mungkin tas yang lebih kecil yang bisa dibawanya: pelayan Nyonya Besar Dior menegurnya dengan keras, dan memperingatkan Diandre untuk berhati-hati agar tidak membiarkan kopernya jatuh: dan Anash baru saja keluar dari ruangan dengan membawa sebuah baki. Dia terlihat agak terganggu sebab ruang depan berantakan dengan adanya koper besar, koper kecil, dan kotak penyimpan topi wanita, yang memaksanya mencari-cari jalan di antara semua barang itu.
Saat melihat majikannya, dia bahkan terlihat lebih terusik, dan memohon maaf atas kekacauan ini, dengan suara yang membuat Nona Dior paham bahwa bukan kesalahan Anash barang-barang ini masih berada di ruang depan. “Kereta yang membawa barang-barang ini, Nyonya, datang tidak lebih dari seperempat jam lalu, dan karena si perawat ingin mengambil sesuatu dari salah satu koper dan bersikeras untuk mencarinya dengan segera tapi tidak bisa mengingat di koper mana dia menaruhnya, kami menjadi, seperti yang bisa Anda perkirakan, agak terganggu.” Dia menambahkan, dengan nada suara datar, “Ternyata barang itu ada di salah satu koper kecil, Nyonya”
Sang pelayan meneruskan ceritanya, seraya memberi hormat dengan menekuk lutut, dan berkata dia sangat menyesal Nona Dior pulang dan mendapati rumahnya dalam kondisi berantakan seperti ini, yang tidak akan terjadi jika sang kuTuan kedua tidak tertinggal sangat jauh di belakang, dan jika si perawat tidak begitu bodoh sehingga memasukkan dalam-dalam ke dasar koper apa yang seharusnya dia tahu akan dibutuhkan diperjalanan.
“Yah, tidak apa-apa,” ujar Nona Dior. “Apakah Tuan Arthur dan istrinya sedang makan kudapan, Anash?”
Cherry, yang memandangi barang-barang yang berserakan dengan mata membelalak, berbisik, “Astaga, Nyonya! Banyak sekali barang yang dibawa untuk hanya beberapa hari! Orang akan berpikir mereka datang untuk tinggal bersama Anda berbulan-bulan!”
“Mereka mungkin tinggal lama,” sahut Nona Dior sedih. “Naiklah dan ganti pakaianmu, Sayang! Aku harus menyapa saudari iparku, kukira, sebelum aku berganti pakaian.”
__ADS_1
“Saya akan segera membawakan secangkir teh hangat untuk Anda, Nona Caroline. Apakah Anda mau telur bakar atau semangkuk sup?”
“Tidak, tidak usah, terima kasih. Aku tidak lapar.” Anash membungkuk, menaruh bakinya di atas salah satu koper, dan membukakan pintu bagi Nona Dior untuk masuk ke ruang tamu.
Kakaknya, sang istri, dan Nona Harrow duduk mengitari meja, tapi mereka semua bangkit berdiri, dan Majorie berjalan terhuyung-huyung menghampirinya, dan hampir terjatuh dalam pelukannya, seraya berkata dengan lirih, “Oh, Caroline, Sayang, betapa senangnya aku akhirnya bisa melihatmu! Baik sekali kau kepadaku! Kau tidak bisa bayangkan betapa sangat rindunya aku kepadamu melewati masa gelisah ini! Aku tidak bisa menggambarkan kepadamu apa yang telah kulalui! Sekatang aku bisa merasa tenang lagi!”
“Tentu saja kau bisa tenang!” kata Caroline, membalas pelukan sayangnya, dan dengan lembut mendorongnya kembali ke kursinya. “Duduklah, dan ceritakan kepadaku bagaimana keadaan Luke!” Nyonya Besar Dior bergidik. “Oh, anakku tersayang yang malang! Dia begitu berani melewati semua ini, walau dia menjerit kesakitan hampir sepanjang malam! Tidak ada yang meredakan rasa sakitnya sampai aku mencoba memberinya beberapa tetes cairan laudanum', dalam satu sendok teh, yang membuatnya tertidur selama sesaat, tapi sayangnya tidak lama, dan aku tidak berani memberinya lagi, sebab aku yakin tidaklah baik mengobati anak-anak dengan cairan laudanum. Dan, pagi ini rasa sakitnya begitu parah sehingga kalau koper-koper belum dikemasi dan kuda-kuda belum dipersiapkan, kukira aku harus menolak keinginan Arthur dan membawa anak malang itu ke Melling!”
Nona Dior melempar pandangan menyindir kepada kakaknya. Tuan Arthur jelas sekali merasa gelisah, tapi dia membalas tatapan itu dengan sorotan menantang, dan berkata dengan nada mengancam, “Kau lupa, Sayang, kaulah yang ingin Westcott memeriksa Luke!”
“Yah, bagaimanapun, itu kabar bagus,” sahut Nona Dior. “Kuperhatikan dia sekatang terbebas dari rasa sakitnya, sebab aku tidak mendengar teriakan menderita saat aku masuk rumah tadi.”
__ADS_1
“Dia tidur,” jawab Nyonya Besar Dior, memelankan suaranya seolah takut mengganggu istirahat putranya, yang terbaring di sebuah tempat tidur bayi yang terletak tiga lantai di atasnya. Dia tersenyum pilu ke arah Nona Harrow, dan berkata, “Sepupu Belevia meninabobokan sampai dia tertidur. Kurasa, aku tidak pernah bisa cukup berterima kasih kepadanya atas semua yang telah dilakukannya pagi ini. Dia bahkan menemani kami ketempat praktik Westcott, dan merupakan pendukung paling baik bagiku melewati cobaan berat ini. Dia memiliki ketabahan untuk memegangi tangan Luke pada saat yang penting, yang tidak bisa kulakukan!”
“Tapi, di manakah Arthur pada saat penting itu?” Tanya Caroline, tampak bingung.
Nyonya Besar Dior mulai menjelaskan bahwa Arthur tidak dapat pergi ke dokter gigi karena dia punya janji bisnis di kota, tapi Arthur menyelanya, menyadari betul adiknya tercinta bukanlah orang yang mudah diperdaya. “Tidak ada gunanya berusaha mengeluh kepada Caroline, Sayang!” ujarnya, tertawa.
“Dia itu berotak terlampau cerdas! Yah, kau benar, Caroline, dan aku tidak keberatan mengakui aku kabur ketika melihat bagaimana menyedihkannya keadaan Luke, dengan menendang-nendang, dan berteriak-teriak, serta mengatakan dia tidak mau giginya dicabut! Nah, apa yang bisa aku perbuat dalam situasi seperti itu, aku bertanya kepadamu?”
“Memukul pantatnya,” kata Caroline.
Tuan Arthur tersenyum lebar, dan mengakui dia sempat sangat tergoda untuk melakukannya, tapi Majorie mengutarakan keterkejutannya, dan Nona Harrow mengatakan dia tahu Tuan Arthur hanya bercanda, dan sangatlah kejam bila memukul Luke kecil padahal dia berteriak-teriak karena rasa sakit yang dideritanya.
__ADS_1
Caroline lalu undur diri, dengan mengatakan dia harus mengganti pakaian berkudanya, dan menyarankan Majorie untuk berbaring di tempat tidur selama satu atau dua jam, guna memulihkan tenaga sehabis berjaga selama berhari-hari. Ketika meninggalkan ruangan, Caroline mendengar Nona Harrow dengan penuh semangat mendukung nasihat ini, meyakinkan bahwa Nyonya Besar Dior tidak perlu mencemaskan Luke kecil yang malang, dan memberitahunya bahwa batu bata panas telah diletakkan di tempat tidurnya. “Karena aku memerintahkan agar hal itu dikerjakan sebelum kita pergi ke tempat praktik Westcott, mengingat kau akan sangat kecapekan, setelah semua cobaan yang terpaksa kau jalani.”
Tuan Arthur mengikuti adiknya keluar ruangan, berhasil mengejarnya di puncak tangga. “Tunggu sebentar, Caroline,” katanya. “Ada sesuatu yang ingin kutanyakan kepadamu. Mandi uap baru yang sering kali kudengar, apakah kau sependapat denganku mandi uap ini akan bermanfaat bagi Majorie? Kondisi kesehatannya telah membuatku sangat khawatir benar-benar khawatir! Dia bersikeras bahwa dia baik-baik saja, tapi kau pasti memperhatikan betapa dia terlihat sangat letih. Aku yakin dia tidak pernah sehat betul sejak persalinannya, dan urusan abses 'Luke yang patut disayangkan ini telah membuatnya sakit. Akan sangat membantuku jika kau membujuknya untuk menjalani serangkaian terapi mandi ini, yang katanya sangat bagus dalam kasus seperti ini.”