
Nona Dior merasa sangat terharu dengan kata-kata ini, tapi berusaha menanggapinya dengan tidak serius. “Memang, aku tidak bisa membayangkan kenapa kau menyukaiku sebab kita selalu berselisih setiap kali bertemu. Dan, aku menduga kita akan terus melakukannya, seberapa kali pun kita terpaksa saling bertemu.”
“Benarkah?” tanya Tuan Constantine, nada tajam terdengar dalam suaranya. “Denganku justru sebaliknya!” Dia melihat tanda-tanda penolakan yang ditunjukkan Nona Dior, dan berkata dengan tawa menyindir, “Oh, jangan khawatir! Aku tidak akan berkata-kata lagi sampai aku menyesal mengurangi ketidaksukaanmu kepadaku! Sementara itu, ayo kita menyusul Cherry dan Blanchet muda.”
“Ya, ayo!” ujar Nona Dior, tidak tahu apakah merasa gembira atau menyesal atas perubahan topik yang tiba-tiba ini. Berupaya untuk menghilangkan keheningan yang terasa canggung, dia berkata, seraya mendorong kuda betinanya untuk mulai berlari santai. “Harus kukatakan kepadamu bahwa aku tidak seharusnya kuyakin membiarkan rasa jengkel menguasaiku kalau saja sepupuku Belevia tidak memilih saat paling sial itu untuk membuatku nyaris murka.”
“Itu sama sekali tidak membuatku heran,” sahutnya. “Jika aku dipaksa menghadapi lebih dari lima menit ocehannya yang tidak menarik, tidak akan ada pilihan lain kecuali mencelakai diriku sendiri. Atau dirinya,” tambahnya, rupanya memikirkan pilihan kedua ini. “Tidak, kukira tidak: juri, karena tidak mengenalinya, mungkin akan menganggapku bersalah atas pembunuhan. Betapa parahnya ketidakadilan yang terjadi atas nama hukum! Betapa kasus sepupumu menunjukkan dengan jelas kepada kita! Dia, tentu saja, seharusnya dicekik saat lahir, tapi kuyakin orangtuanya kurang bisa meramal masa depan.”
Ucapan ini mengundang gelak tawa Nona Dior. Dia menoleh ke arah Tuan Constantine, mata Nona Dior diliputi sukacita, dan berkata, “Oh, betapa seringnya aku merasakan hal yang sama! Dia itu orang paling menjemukan dan tidak bijaksana yang pernah ada! Sewaktu aku meninggalkan Chateau, kakakku membujuk untuk mempekerjakan dia sebagai pendamping, untuk memberiku dukungan, dan aku tidak pernah berhenti merasa heran kepada diriku sendiri karena telah begitu bodoh sehingga menyetujui permintaan itu! Tapi sungguh mengerikan betapa aku bisa berkata seperti ini tentangnya. Kasihan Belevia! Dia bermaksud baik, tentu saja.”
“Lebih buruk lagi karena kau juga tidak bisa memprediksikan tentangnya. Kenapa kau tidak menguTuannya?”
Nona Dior menghela napas dan menggeleng. “Aku akui, aku sering tergoda untuk berbuat begitu, tapi aku khawatir itu mustahil. Ayahnya, menurut apa yang diceritakan Arthur kepadaku, sangat boros, dan mewariskan kepadanya harta yang sangat sedikit, kasihan sekali. Jadi aku tidak mungkin memecatnya, bukan?”
“Kau bisa memensiunkannya dengan memberinya pesangon,” usul Tuan Constantine.
__ADS_1
“Dan, membuat Arthur mengganggu hidupku dengan mempekerjakan orang lain sebagai penggantinya? Tidak, terima kasih!”
“Apakah dia melakukan itu? Kau mengizinkan dia mengganggumu?”
“Aku tidak bisa mencegahnya! Aku tidak mengizinkan dia mendikreku dan karena itulah kami sering kali berselisih! Dia lebih tua dariku, kau tahu, “kan, dan tidak ada yang akan pernah membebaskan pikirannya dari keyakinan aku adalah adik kecil yang belum berpengalaman sekaligus keras kepala, hingga menjadi kewajibannya untuk membimbing, menegur, dan melindungiku! Yang, kuakui, sangatlah mengagumkan, tapi dia juga menjengkelkan dan suka salah menilai, dan jarang gagal membuatku sangat marah!”
“Ah! Kukira alasannya mendadak mengunjungimu lebih dari sekadar sakit gigi anak laki-lakinya! Dia sesungguhnya datang untuk memperingatkanmu agar tidak berbicara denganku, bukan? Apakah dia mencurigai aku berencana memanfaatkan kebaikanmu? Haruskah aku memberitahunya kalau kecurigaannya itu tidak berdasar?”
“Tidak, tentu saja tidak!” kata Nona Dior dengan sikap tegas.
“Aku sangat mampu menangani Arthur sendiri. Ah, itu anak-anak! Ayo kita balapan untuk mengejar mereka, Tuan Constantine! Selama berminggu-minggu ini, aku ingin sekali berkuda dengan cepat!”
“Ha!” Dia menoleh ke belakang ke arah Tuan Constantine, ketika si kuda betina mempercepat derap langkahnya.
Nona Dior mendahuluinya, tapi Tuan Constantine mengejar, dan mereka mencapai tujuan akhir berbarengan, disambut oleh Cherry dengan tepuk tangan dan oleh Archard dengan celaan karena menurutnya mereka telah memberikan contoh yang buruk kepada Cherry.
__ADS_1
“Bukankah maksudmu contoh yang baik?” tanya Tuan Constantine.
“Tidak, Tuan, bukan, sebab bagaimana bisa saya menghentikannya berderap dengan kecepatan yang berbahaya jika dia telah melihat Nona Dior melakukannya?”
“Seolah kau pernah bisa menghentikanku jika aku memilih berderap dengan cepat!” kata Cherry dengan mengejek. “Kau tidak bisa mengejarku!”
“Oh, tidak bisa, ya? Kalau aku menunggang kuda Blue Devilku, kita akan segera lihat!”
“Blue Devil tidak akan pernah bisa mencapai jarak yang ditempuh Lovely Nyonya Besar-ku! Oh, Tuan, itulah nama yang kuberikan kepada kuda ini! Awalnya, kupikir aku akan menamainya Constantine's Choice, tapi Archard bilang dia mengira kau tidak akan peduli soal itu.”
“Kalau begitu, aku sangat berterima kasih kepadanya! Aku memang tidak peduli.”
“Yah, aku memaksudkan nama itu sebagai sebuah pujian!” ujar Cherry, dengan agak bersedih.
“Astaga!” kata Tuan Constantine.
__ADS_1
Archard tertawa kecil, dan berkata, “Kubilang apa! Aku juga tidak suka nama Lovely Nyonya Besar: nama yang payah untuk seekor kuda! Tapi, setidaknya itu lebih baik daripada nama sebelumnya!”
“Akankah kita terus berkuda untuk mengunjungi benteng Saxon, atau kalian lebih suka tetap berada di sini dengan saling memaki?” sela Nona Dior. Mereka cepat-cepat meminta maaf, dan seluruh rombongan bergerak maju.