Cinta Kilat Perawan Tua

Cinta Kilat Perawan Tua
Chapter XXXI


__ADS_3

Nona Dior, yang memasuki ruangan pada saat itu, menghentikan pertengkaran lebih lanjut dan berbicara dengan gayanya yang tenang, “Berapa kali lagi harus kukatakan kepada kalian berdua bahwa aku tidak mau kalian berdebat di ruang tamuku? Bagaimana kabarmu, Tuan Constantine?”


“Oh, Nona Dior, bagaimana menurut Anda?” teriak Cherry dengan penuh semangat. “Dia telah membelikanku seekor kuda betina! Kuda berwarna kelabu pula, persis seperti yang akan aku pilih, sebab aku suka sekali kuda-kuda berwarna kelabu, tidakkah Anda suka juga? Dan, dia bilang pengurus kudanya akan merawatnya sehingga sekarang Anda akan bisa berkuda bersama kami!”


“Menebus kesalahan terhadap anak perwalian Anda?” Nona Dior berkata dengan nada mengejek, seraya menjabat tangan Tuan Constantine.


“Tidak. Terhadapmu, kuharap.”


Terkejut, mata Nona Dior diarahkan ke wajah pria itu, tetapi dengan cepat dia menunduk lagi. Dengan gemetar, dia berpaling, sebab tidak salah lagi ada kilauan cahaya di mata tajam lelaki itu. Tuan Constantine, pria yang terkenal tidak sopan itu, telah mengungkapkan ketertarikan yang aneh dan misterius terhadap seorang wanita perawan, berusia tua, yang bukan seorang gadis, melainkan seorang wanita berkedudukan sosial tinggi, dan dengan kebajikan yang tidak diragukan lagi. Pikiran awalnya, bahwa mungkin pria itu bermaksud memikatnya agar menerima carte blanche' darinya, hanya terbersit sebentar sebelum menghilang lagi. Tuan Constantine boleh jadi pria yang kurang ajar, tetapi dia bukan orang bodoh. Mungkin dia bermaksud menggoda Caroline, dengan tujuan mengurangi kebosanannya terhadap masyarakat Rouen. Setelah berpikir demikian, timbul kesadaran bahwa rayu-merayu dengan pria itu akan mengurangi kebosanannya sendiri yang kian meningkat. Pria itu sangat berbeda dari pria-pria lain yang suka menggodanya. Sesungguhnya, dia bahkan tidak pernah bertemu siapa pun seperti pria itu.


Cherry dan Archard sedang berdebat tentang beberapa perjalanan berkuda yang bisa dinikmati di luar Rouen. Mereka masuk ke bagian belakang ruang tamu untuk mencari keterangan dari buku panduan yang diyakini Cherry telah ditinggalkannya di sana. “Dan, kalau mereka menemukan buku itu,” ujar Nona Dior, “mereka akan segera berselisih tentang apakah akan pergi melihat monumen Druid atau medan pertempuran. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana seseorang, kecuali yang benar-benar bodoh, bisa-bisanya menganggap mereka serasi untuk satu sama lain!”


“Tverley dan Mirela Raina, keduanya memang bodoh,” sahut Tuan Constantine, menyingkirkan pembicaraan tentang mereka karena pertimbangan yang lain. “Kuharap kau berniat ikut serta dalam rombongan berkuda.”


“Ya, kemungkin besar aku akan ikut. Bukan berarti aku berpendapat sangatlah perlu menjaga Cherry padahal dia pergi bersama Archard.”


“Tidak, tapi sangatlah perlu, aku yakinkan kau, untuk memberiku seorang teman yang tidak akan membuatku bosan sampai melampaui batas. Aku tidak bisa membayangkan nasib yang lebih buruk daripada harus berkuda berdempetan di antara sepasang anak yang suka bercekcok itu.”


Terkejut, Nona Dior berkata, “Oh, kau hendak pergi dengan mereka?”


“Tidak, kecuali kalau kau pergi juga.”


“Khawatir kau mungkin harus mendengarkan pertengkaran mereka yang tidak penting untuk dibahas?” ujarnya, seraya tersenyum sekilas. “Tidak perlu. Mereka tidak bertengkar ketika pergi berkuda bersama, begitulah yang diceritakan kepadaku. Stonehenge Cheltenham mengeluhkan mereka yang hanya berbicara tentang kuda, anjing pemburu, dan kegiatan berburu.”


“Bahkan lebih buruk!” kata Tuan Constantine.

__ADS_1


“Kau bukan penggemar kegiatan berburu, Tuan Constantine?”


“Sebaliknya! Tapi, aku tidak menuruti kata hati untuk membuat bosan teman seperjalananku dengan menceritakan rute-rute hebat yang pernah kujalani, lemparan-lemparan yang pernah kuambil, kecanggungan dari salah satu pemburuku hanya terselamatkan dari kemalangan karena keahlian berkudaku yang ulung' atau kemampuanku dalam menunggang kuda di jalanan yang tidak rata. Cerita-cerita semacam itu tidak menarik buat siapa pun kecuali si pencerita itu sendiri.”


“Aku khawatir itu ada benarnya.” Nona Dior mengakui.


“Tapi, dorongan untuk membangga-banggakan rute berkuda yang hebat dan kuda-kuda cerdas nyaris tak tertahankan, walaupun kita tahu seseorang didengarkan karena orang lain hanya menunggu kesempatan untuk membanggakan dirinya sendiri! Yang tentunya juga harus didengarkan, demi keadilan bersama! Tidakkah kau sependapat?”


“Ya, itulah mengapa aku belajar bertahun-tahun lalu untuk mengatasi dorongan hati seperti itu. Kau sendiri berburu, kukira?”


“Dulunya iya, sewaktu aku tinggal di pedesaan, tapi aku terpaksa menghentikan kegiatan itu saat datang ke Rouen,” ujar Nona Dior, dengan sedikit mendesah.


“Mengapa kau datang ke Rouen?” tanya Tuan Constantine.


“Oh, untuk beberapa alasan bagus!” Nona Dior menjawab dengan entengnya.


Nona Dior memandanginya dengan agak pasrah, tetapi, setelah sesaat, menjawab dengan sedikit kasar, “Alasan-alasan itu tidak berkaitan dengan siapa pun kecuali aku sendiri, Tuan! Dan, kalau kau menyadari aku memberimu apa yang kuharap akan menjadi jawaban ketus yang sopan karena menanyaiku pertanyaan yang kurang sopan, kau akan mengizinkanku untuk memberi tahu aku menganggapmu benar-benar tidak sopan jika terus memaksa meneruskan topik ini!”


“Mungkin sekali, tapi itu bukan jawaban!”


“Itulah satu-satunya jawaban yang akan aku berikan kepadamu!”


“Yang membuatku menebak-nebak ada rahasia kelam pada masa lalumu,” ujarnya dengan cara menghasut. “Bagiku, itu sulit dipercaya. Dengan wanita lain, yang sangat berbeda, aku mungkin mengira perkata skandallah yang telah mendorongmu keluar dari rumahmu skandal yang tidak pantas dengan salah satu tuan tanah setempat, misalnya?”


Nona Dior memberengut ke arahnya, dan berkata dengan penuh penghinaan, “Kendalikan imajinasimu, Tuan Constantine! Tidak ada rahasia kelam pada masa laluku, dan aku tidak pernah tersangkut skandal apa pun.”

__ADS_1


“Aku juga tidak mengira begitu,” gumam pria itu.


“Ini percakapan yang sangat tidak pantas!” kata Caroline dengan marah.


“Ya, bukan?” Tuan Constantine membenarkan. “Kenapa kau tinggal di Rouen?”


“Oh, berapa gigihnya kau!” serunya. “Aku datang ke Rouen karena aku ingin menjalani hidupku sendiri, bukan hanya menjadi seorang bibi!”


“Itu bisa aku pahami. Tapi, apa gerangan yang membuatmu memilih Rouen, dari semua tempat?”


“Aku memilih Rouen karena aku punya banyak teman di sini, dan karena tempat ini mudah dijangkau dari Chateau Voux.”


“Kau tidak pernah menyesalinya? Tidakkah kau mendapati Rouen menjemukan?”


Nona Dior mengangkat bahu. “Yah, benar juga, kadang aku merasa begitu, tapi aku pun akan merasakan hal yang sama, kuyakin, di tempat mana pun yang akan aku tinggali sepanjang tahun.”


“Astaga, itukah yang kau lakukan?”


“Oh, tidak! Itu pernyataan yang dilebih-lebihkan! Aku kerap mengunjungi kakak laki-lakiku dan istrinya, dan kadang aku pergi untuk menginap di rumah seorang bibi, yang tinggal di Lyme Regis.”


“Suka bersenang-senang, malahan!”


Nona Dior tertawa. “Tidak, aku sudah melewati usia untuk bersenang-senang.”


“Jangan bicara omong kosong kepadaku!” katanya dengan tajam. “Kau sudah meninggalkan masa gadismu meskipun ada saat-saat ketika aku meragukan hal itu dan belum mencapai usia matangmu, jadi ayo kita hentikan omong kosong tentang usia tuamu.”

__ADS_1


Nona Dior mendesah marah, tetapi tidak sempat melemparkan jawaban pedas kepadanya karena dicegah oleh Cherry, yang masuk kembali ke bagian depan ruangan itu, meminta dukungan dalam pernyataannya bahwa di suatu tempat di Lansdown terdapat reruntuhan benteng Saxon yang telah diserbu Raja Arthur. “Archard bilang tidak ada. Dia bilang tidak ada orang bernama Raja Arthur! Dia bilang Raja Arthur hanyalah legenda! Tapi dia bukan legenda, “kan? Semuanya ada di sini, dibuku panduan, dan aku ingin tahu apa yang membuat Archard berpikir dia tahu lebih banyak daripada buku panduan?”


“Oh, Tuhanku? seru Tuan Constantine, dan dengan terburu-buru berpamitan.


__ADS_2