
Dengan beranggapan Nyonya Besar Dior datang menghampiri mereka untuk melindungi Caroline, Tuan Constantine telah menilainya dengan keliru. Nyonya Besar Dior telah menghabiskan segelas air hangat, menikmati obrolan menyenangkan dengan Nyonya Stinchcombe, dan dia sekarang ingin kembali ke Versailles untuk membawa Luke berjalan-jalan di taman berbentuk sabit yang terletak di antara Upper dan Lower Versailles. Karena tidak terbiasa memiliki khayalan-khayalan konyol, ketakutan Tuan Constantine bisa melukai Caroline di Ruang pompa tidak pernah terlintas di benaknya: dan tentang bahaya rayuan lelaki itu terhadap Caroline sehingga menyebabkannya menderita, Nyonya Besar Dior berpikir hal ini sama konyolnya. Selagi bercakap-cakap dengan Nyonya Stinchcombe, Nyonya Besar Dior berusaha memperhatikan, dari sudut matanya, perbincangan singkat antara Caroline dan si pemain wanita yang terkenal ini, dan dia sangat yakin suaminya telah membiarkan kecemasannya sebagai saudara mengalahkan akal sehatnya. Dia hendak menyibukkan diri selama sore itu dengan menulis surat yang menenangkan kepada sang suami, dan dia mengatakan, ketika dia dan Caroline meninggalkan Ruang pompa, “Aku sama sekali tidak bisa memahami, Sayang, apa yang telah menyebabkan Arthur berpikiran yang bukan-bukan sehingga mengira ada kekhawatiran pria tidak menyenangkan itu menjadikanmu sasaran ketertarikannya jika itu bisa disebut ketertarikan! Aku berjanji kepadamu, aku bermaksud memberinya hardikan keras karena mengira kau, dari semua orang, bisa menumbuhkan rasa suka terhadap seorang pria yang sangat tidak sopan dan kasar seperti itu!”
“Berkelakuan buruk dan tercela, bukan?” Caroline menyetujui.
“Oh, sangat buruk! Aku bisa melihat dia telah membuatmu bersikap kasar, dan sungguh sangat takut kau akan menjadi murka, yang tidak akan mengejutkanku, tapi itu jelas akan menjadi hal yang sangat tidak pantas dilakukan di Ruang pompa. Betapa sangat disayangkan kau harus berhubungan dengannya! Maafkan aku jika aku berpendapat semakin cepat dia mengeluarkan Cherry dari rumahmu, akan semakin baik keadaannya bagimu. Apa yang membuatnya terlihat sangat muram?”
“Denis Damitri,” jawab Nona Dior, dengan tenang, tapi dengan sinar di matanya yang sulit diartikan.
“Denis Damitri?” Nyonya Besar Dior mengulangi, terlalu terkejut sehingga tidak memperhatikan sinar mata itu ataupun seulas senyum yang tergores di sudut mulut Nona Dior.
“Memangnya apa yang dia katakan?”
“Terlalu banyak!” kata Nona Dior, meringis masam.
__ADS_1
“Aku khawatir dia kemungkinan besar berhasil memikat hati Cherry, dan meski kemungkinan itu kelihatannya tidak terlalu mencemaskan Tuan Constantine, hal yang membuatnya cemas, dan membuatnya berusaha menyampaikannya kepadaku baru saja, adalah kenyataan bahwa Damitri telah menemani Cherry kemarin sepanjang jalan dari Versailles ke Laura Place. Hal itu patut disayangkan sebab beberapa orang melihat mereka, dan jika kau pernah tinggal di Rouen, Majorie, kau akan tahu itu merupakan gosip yang benar-benar panas!”
“Tapi, tentu saja, Caroline, sangat diperbolehkan bagi seorang pria untuk menemani seorang gadis melewati kota, pada siang hari, dan dengan pelayan si gadis berjalan di belakang, karena aku tidak ragu pelayan Cherry mengikutinya!” bantah Nyonya Besar Dior. “Yah, sudah lazim bagi seorang pria untuk menaikkan beberapa wanita muda ke kereta roda duanya, atau kereta balap roda empatnya, atau kendaraan balap lainnya yang kebetulan dikendarai si pria! Dan, tanpa pelayan si wanita!”
“Sangat diperbolehkan, Sayang, tapi tidak berlaku jika si pria itu adalah Denis Damitri! Baiknya, dia dikenal sebagai seorang perayu yang berbahaya, dan buruknya, seorang pemburu kekayaan yang terbukti benar.”
“Oh, astaga!” ujar Nyonya Besar Dior, terkejut. “Aku tahu Arthur sama sekali tidak suka ketika Damitri merayumu sewaktu kita bertiga di Paris. Kata Arthur dia itu orang yang suka bersenang-senang: dan aku sungguh ingat dia pernah berkata mencurigai Damitri sedang mengincar seorang istri kaya. Aku tidak terlalu menanggapi hal itu sebab Arthur kadang suka mengatakan hal-hal yang tidak benar-benar ingin dia kemukakan jika dia membenci seseorang, dan dia tidak pernah menghendaki aku untuk tidak menerimanya, atau mengundangnya ke pesta-pestaku. Dan, ketika tahun lalu dia mengunjungi neneknya dan berkuda ke Chateau untuk mengunjungi kami sebagai tanda hormat, Arthur menyambutnya dengan sangat sopan.”
“Pada waktu itu, Arthur mengetahui tidak ada yang perlu ditakutkan, aku tidak akan terpengaruh tipu muslihat Damitri,” ujar Caroline, dengan sedikit sinis. “Dia diterima di mana-mana, bahkan di Rouen! Sebagiannya, ini karena penghormatan terhadap Nyonya Besar Damitri yang sudah tua: dan sebagian lagi karena dia dianggap sebagai tukang oceh yang lucu, yang kehadirannya bisa diandalkan untuk memeriahkan pesta paling menjemukan. Bagiku sendiri, meski aku bisa membayangkan sedikit nasib lebih buruk ketimbang menjadi terbelenggu kepadanya, aku menyukainya, aku mengundangnya ke pestaku sendiri, dan aku sering berdansa dengannya di Komunitas. Tapi, walau menurut pendapat Arthur aku tidak terlalu menganggap penting peraturan, aku memastikan agar tidak terlalu sering menjumpainya sehingga tidak ada alasan bagi pengecam paling kritis sekalipun untuk mengatakan aku berhubungan dekat dengannya. Karena aku mengenalnya dengan baik sebelum aku tinggal di Rouen, dia dianggap sebagai teman lamaku, dan seperti halnya kehadirannya di pesta-pestaku, ucapan-ucapan informal yang terlontar di antara kami dipandang dengan senang hari. Tetapi, meski aku bukan gadis, dan mungkin dianggap telah melewati usia mencari seorang suami, aku akan enggan untuk berkendara bersamanya, berkuda dengannya, atau bahkan berbicara dengannya. Bukan karena aku tidak mampu mengendalikan keakrabannya, melainkan karena aku tahu betapa banyaknya penggosip yang akan mulai bergunjing jika aku terlihat berbincang berduaan dengannya terlalu lama. Jadi, dengan keinginan terbaik untuk berbuat demikian, aku tidak bisa menyalahkan Tuan Constantine karena telah mencelaku.”
Caroline tidak menanggapi pernyataan ini, tapi teringat olehnya menegur Tuan Constantine adalah sesuatu yang belum pernah berhasil dia lakukan. Dia berpikir mungkin akan lebih baik jika dia tidak membicarakan karakter Tuan Constantine dengan saudari iparnya sebab dia mendapati temuan yang membingungkan sebesar apa pun dia sendiri mengkritik kesalahan-kesalahan pria itu, suatu dorongan sangat besar untuk membelanya muncul ketika orang lain mengkritik pria itu. Jadi, dia mengalihkan topik pembicaraan dengan mengarahkan perhatian Nyonya Besar Dior ke sebuah topi sangat cantik yang dipajang di jendela sebuah toko.
Sisa perjalanan diisi dengan pembicaraan seru tentang semua kebiasaan terbaru dalam mode, yang berlangsung sampai mereka tiba di Upper Versailles, dan Nyonya Besar Dior melihat putra kecilnya, yang sedang bermain bola di taman bersama Nona Harrow. Ini membuatnya berseru, “Oh, lihat! Belevia telah membawa Luke ke taman! Alangkah baiknya wanita itu, Caroline!”
__ADS_1
“Aku harap aku mengusirnya!” sahut Caroline, dengan sungguh-sungguh.
Nyonya Besar Dior terkejut. “Berharap kau mengusirnya? Oh, tidak, bagaimana kau bisa berkata begitu, Sayang? Aku yakin tidak pernah ada orang lain yang lebih ramah dan siap membantu! Kau tidak mungkin bersungguh-sungguh!”
“Aku bersungguh-sungguh. Aku menganggapnya sangat membosankan.”
Nyonya Besar Dior memikirkan ini selama sesaat, lalu berkata perlahan, “Dia bukan penggemar buku, tentunya, dan tidak cerdas, seperti dirimu. Dan, dia suka banyak bicara, aku akui. Arthur menyebutnya tukang oceh, tapi kaum pria, kau tahu, kelihatannya tidak menyukai wanita-wanita yang suka mengobrol, dan sekalipun begitu, Arthur sendiri tahu dia memiliki banyak sifat yang bagus.”
“Dia berikan kepadaku ketika aku tiba di sini, dengan Luke kecil malang yang sangat kesakitan karena sakit giginya. Dia pergi bersama kami ke tempat praktik Tuan Westcott, dan benar-benar memegangi tangan Luke yang sayangnya, tidak mampu aku lakukan ketika si dokter mencabut gigi yang menyebabkannya kesakitan.”
“Saudariku,” kata Caroline, dengan sungguh-sungguh tapi mata berbinar licik, “aku sudah lama ingin memberimu sebuah hadiah sangat berharga dan kau sekarang telah menunjukkan kepadaku bagaimana aku bisa melakukannya! Aku akan memberikan Belevia kepadamu!”
“Bagaimana kau bisa mengada-ada?” kata Nyonya Besar Dior dengan tertawa. “Seolah aku akan membayangkan mengambil dia darimu!”
__ADS_1
Tidak ada lagi yang diucapkan karena Luke, pada saat ini, setelah melihat ibunya, berlari ke pagar untuk menyambutnya. Nyonya Besar Dior pergi ke taman, dan Caroline masuk sendirian ke rumah. Cherry sedang menghabiskan sisa hari itu bersama keluarga Stinchcombe, dan karena Nyonya Cheltenham telah berjanji untuk mengantarkan Cherry kembali ke Versailles tepat pada waktu makan malam, dia merasa dirinya terbebas dari rasa tanggung jawab. Dia mau tak mau merasa senang karenanya, sebab tidak hanya hiburan seorang gadis tujuh belas tahun yang penuh semangat adalah tanggung jawab yang lebih berat dari yang dia bayangkan, tapi apa yang telah dikatakan Tuan Constantine padanya membuatnya menyadari waktu perenungan yang tenang adalah kebutuhan yang sangat mendesak.
Kecuali dia telah sepenuhnya salah mengartikan ucapan Tuan Constantine yang samar di Ruang pompa, dia tidak meragukan pria itu punya niatan untuk meminangnya. Salah besar bila mengatakan pemikiran seperti itu tidak pernah terlintas di benaknya. Hal itu memang pernah terpikirkan, tapi hanya sebagai suatu kecurigaan, yang mampu dia buang dari pikirannya tanpa banyak kesulitan. Sekarang, setelah kecurigaan itu terbukti benar, dia merasa dirinya sangat terkejut, dan kesal dengan kesadaran bahwa ketenangannya berhasil terusik, dan menderita segala ketidakpastian membingungkan yang dialami seorang gadis pada musim pertamanya bersosialisasi. Dia sudah lama sekali menjadi seorang wanita lajang sehingga dia terbiasa menganggap dirinya telah melampaui usia menikah, dan bahkan jauh melampaui masa-masa jatuh cinta. Sungguh mengejutkan saat mendapati bahwa hal itu tiba-tiba menjadi persoalan yang patut diragukan, dan bahwa ini adalah masalah, karena keraguan membuatnya marah tanpa alasan kepada dirinya sendiri, sebab dia seharusnya, tentu saja, cukup dewasa dan cukup bijaksana untuk mengetahui pikirannya sendiri. Tetapi, kebenaran yang menyedihkan adalah, dia tidak tahu. Dia memberi tahu dirinya sendiri, dengan cara menghardik, bahwa seharusnya jelas baginya Tuan Constantine sama sekali tidak memiliki sifat-sifat kecuali kekayaan, yang tidak menarik baginya yang bisa diharapkan dari seorang pria yang pantas bagi seorang wanita yang telah menerima banyak peminang hampir semuanya dikaruniai wajah tampan, cara bicara yang sangat baik, tata krama yang sopan, dan pesona yang besar. Tak satu pun dari sifat-sifat ini yang ada pada diri Tuan Constantine Nona Dior tersenyum saat membayangkan menjadikan salah satu dari sifat itu sebagai kebanggaan pria tersebut, dan selagi masih tersenyum, terlintas di benaknya bahwa mungkin ketiadaan keluwesan dalam bersosialisasilah yang membuat Nona Dior terpikat. Kelihatannya absurd bahwa demikianlah adanya, tapi tak bisa disangkal bahwa bukan peminangnya yang paling mempesonalah yang berhasil menarik hatinya. Dia berpikir, seandainya dia tidak diwariskan kekayaan untuk menanggung nafkah hidupnya sendiri, dia mungkin akan menerima pinangan dari pria tertentu, pria yang dia sukai, dan merasa yakin bahwa dia akan menjadi seorang suami yang menyenangkan, tapi ketika pria itu memang meminangnya, dia dengan tidak ragu menolak dan alih-alih menyesali keputusannya, dia bersyukur bahwa keadaannya tidak memaksa dia untuk menerima pinangan itu. Nona Dior merasa kasihan, karena pria itu benar-benar jatuh cinta, dan telah berusaha keras dengan setiap cara yang bisa terpikirkan untuk memperoleh perhatiannya. Satu-satunya dampak hinaan Nona Dior yang kelihatannya dirasakan oleh pria itu malah membuatnya menggandakan usaha untuk menyenangkan dirinya.