
Tawa kecil disertai air mata menunjukkan rasa humor Nona Dior bertahan melawan keberingasan pileknya.
“Aku bukan gadis cengeng, jangan menyindir ku laki-laki penggoda!”
“Kau aku akan mempercayaimu kalau kau tidak segera berhenti menangis dan meringis begini?” Tuan Constantine berkata dengan pedas. Dia mengangkat wanita itu selagi dia bicara, dan mendudukkannya lagi di atas sofa, dengan pria itu sendiri duduk di sampingnya, memegangi tangannya, dan mengecup kedua telapak tangan wanita itu.
“Kekasih dan pacar yang malang!” kata pria itu.
“Betapa sengsaranya kau selama ini, tanpa ada aku disisi mu ya?”
“Ya, tapi kau sangat tidak sopan menyebutku seorang kekasih yang malang, apa maksud kalimat itu kamu lontarkan?” ujar Nona Dior, berusaha bernada mengejek.
“Kau juga telah memberi tahu aku menjadi antidot yang positif! Cermin ku sudah memberitahuku begitu, jadi itu tidak akan jadi kejutan bagiku!”
“Cermin mu berbohong atau kamu salah menyebut mantranya. Aku merasa tidak melihat adanya perubahan dalam dirimu, kecuali wajahmu yang terlihat lebih pucat dari yang aku suka, dan ini memakai topi, aku tidak tahu kau pernah mengenakannya Sebelum ini.” Pria itu mengamatinya lekat-lekat. “hmmm tapi ini Sangat menarik,” Tambahnya menyetujui kostum itu.
“Tapi, kukira aku lebih suka melihat rambut ikal emasmu. Akankah kau merasa harus memakai topi saat kita menikah besok?”
“Realy, apakah kita benar-benar akan menikah?” tanya Nona Dior.
“Yah, tentu saja. Kau tidak mengira aku sedang bernegosiasi untuk hidup bersama denganmu tanpa pernikahan sakral, “kan?” Ucapan itu membuat Nona Dior tertawa.
“Aku seharusnya tidak terkejut kalau kau menawarkannya sebab kau sangat keji, saat memutuskan sesuatu, tahu, “kan?”
“Masa, Kamu tidak akan terkejut?” tuntut Tuan Constantine.
Mata Nona Dior merunduk di hadapan tatapan tajam penuh pertanyaan yang terpancar di mata pria itu. Wanita itu berkata, “Kau tidak perlu melototiku seperti itu! Aku hanya bercanda akan statemenmu! Tentu saja itu akan mengejutkanku sampai jantungku tidak karuan berdetak!” Kata Nyonya Dior sambil meraih tangan Tuan Constantine dan mengarahkan ke bagian dadanya.
“Aaa… Tidak lucu! Apa kau takut aku akan tidak setia kepadamu? Itukah alasannya kau mengatakan apakah kita akan menikah? seolah kau masih punya keraguan, akan niat tulusku ini?”
“Tidak, aku tidak takut akan hal itu. Lagi pula, kalau kau memang menjadi tidak setia, aku hanya harus menyalahkan diri sendiri, bukan?”
Pria menatap tajam dan penuh senyuman ke arah Nona Dior dan mengatakan.
“Kau tidak akan menemukan jika banyak orang yang tidak menyetujui hubungan ini, dan setelah itu kau sendiri akan menyalahkan atas dosa-dosaku kepadamu nantinya jika aku meninggalkanmu!”
“Orang akan berpikir dengan akal sehat jika sependapat denganku karena jika kau memiliki seorang kekasih lain besok-besok, mungkin itu dikarenakan kau sudah bosan denganku.”
“Oh, jika itu masalahnya, kita tidak perlu khawatir. Tapi, kau memang masih punya keraguan untuk menerimaku, bukan?”
“Tidak ketika kau bersamaku aku Selalu merasakan kenyamanan,” Nona Dior berkata dengan malu-malu.
“Dan ketika aku sendirian, memikirkan segala kesulitan ku, betapa pentingnya langkah yang akan kuambil, bagaimana kakakku akan sangat tidak menyukainya, aku menjadi khawatir apakah mungkin tidak akan menjadi suatu kesalahan untuk menikahimu. Dan, lalu aku berpikir kesalahannya akan jadi jauh lebih besar jika aku tidak menikahimu, dan akhirnya aku tidak tahu apa yang ingin kulakukan! Tuan Constantine, apa kau yakin ingin menikahiku gadis yang cengeng dan suka mendesah ini?, dan ... dan bukan hanya menganggapku sebagai wanita kesukaanmu sepintas lalu seperti hubungan-hubungan mu sebelumnya ini?”
“Seharusnya yang perlu kamu tanyakan kepadaku adalah apakah aku yakin kita akan bahagia, bukan?”
“Ya, kukira itulah ku maksudkan, terkadang pikiran serta mulutku tidak sejalan jika ingin menyampaikan sesuatu, maklumi itu” Nona Dior mendesah.
“Yah, aku tidak bisa menjawabmu. Bagaimana aku bisa merasa yakin kita akan bahagia ketika tidak ada dari kita yang pernah berpengalaman menjalani pernikahan? Yang bisa aku katakan kepadamu adalah aku sungguh amat yakin aku ingin menikah denganmu, dan sama-sama yakin kau bukanlah, sekedar wanita kesukaan sepintas laluku. Alangkah bodohnya pertanyaan yang kau ajukan kepadaku! Kalau aku pernah berlaku begitu bejatnya sehingga meminta salah seorang wanita kesukaanku untuk menikah, aku tidak akan menjadi bujangan sekarang! Dan, ada dua hal lain yang harus ku yakinkan kepadamu! Satu, aku tidak pernah menyukai salah satu pemikat yang dengannya aku pernah menjalin hubungan baik sebagaimana aku menyukaimu. Dua, tidak pernah dalam hidupku aku menginginkan sesuatu lebih dari aku ingin memenangi dirimu untuk menjadi milikku untuk mencintai, menyayangi, dan melindungi oh, sialan, Caroline, bagaimana aku bisa membuatmu percaya aku mencintaimu dengan segenap hati, tubuh, dan pikiranku?” Dia berhenti tiba-tiba, dan berkata dengan tajam, “Apa yang sudah kukatakan sehingga membuatmu menangis? Katakan kepadaku!”
“Tidak ada! Aku ti-tidak tahu mengapa aku mulai menangis. Kukira itu pasti karena aku begitu bahagia, dan selama ini aku merasa sangat menderita!” Nona Dior menjawab, seraya menghapus air matanya, dan berusaha tersenyum.
__ADS_1
Tuan Constantine merengkuhnya kembali ke dalam dekapan tangannya. “Kau benar-benar kelelahan, Sayang. Terkutuk wanita itu karena telah menularkan influenza kepadamu! Cium aku!”
“Tidak mau!” kata Nona Dior, antara menangis dan tertawa, “Hal itu akan sangat tidak pantas untuk aku lakukan, dan kau tidak punya hak melontarkan perintah-perintah kepadaku seolah aku ini salah satu pelacur mu, dan aku tidak akan menyerah untuk disemena-menakan!”
“Dasar lebah!” ujar Tuan Constantine, dan mengakhiri tuduh-menuduh lebih lanjut dengan menautkan bibirnya pada bibir wanita itu.
Nona Dior memukul dada Tuan Constantine agar lebih menjauh, Namun yang terjadi Tuan Constantine malah langsung menyambar bibir Nyonya Dior dan ********** perlahan. Nona Dior terlena dan membalas ciuman itu, kini lidah Tuan Constantine sudah menjelajah masuk ke dalam mulut wanita itu, Tuan Constantine melepas ciumannya dan memberi jeda untuk saling mengambil nafas, disaat itulah dia tersenyum.
"Sayangnya kamu lagi sakit, jika tidak udah kuhabisi dan melanjutkan di sini?"
"Hah, ini di"
"Hummmp"
Nona Dior di bungkam kembali oleh ciuman panas laki-laki itu.
Tangan Tuan Constantine kini mulai menjelajahi tubuh kekasihnya, kini tubuh Nona Dior di buat setengah polos, hanya tinggal baju atasan yang masih menempel ditubuhnya, Tuan Constantine membuka kancing dan mengeksplor dada kekasihnya, bermain aktif di kedua bukit kembar milik nona Dior, kini keduanya sudah mulai mendesah, Nona Dior terkejut ketika Tuan Constantine tiba-tiba saja menghentikan aktifitasnya dan menutup kembali kancing baju yang telah di bukannya.
“Kamu perlu istirahat banyak, untuk penyembuhanmu, bibirmu terasa hambar saat ini”
Lelaki Pelamar Nona Dior terdahulu yang paling berani sekalipun tidak berani merentangkan satu tangan mengitari pinggangnya, sebab meskipun dia menikmati rayuan-rayuan tidak serius, dia tidak pernah memberi perayu-perayunya dengan alasan apa pun untuk berpikir dia akan menerima dengan senang hati pendekatan-pendekatan yang lebih intim. Dia mengira dirinya pasti memiliki kecenderungan selibat yang tidak berperasaan sebab dia selalu menganggap hanya pemikiran dicium saja, dan sebagaimana dia istilahkan diperlakukan kasar oleh pria kenalannya sungguh tidak menyenangkan. Dia pernah sekali mengakui ini kepada Majorie, dan diam-diam berpendapat tanggapan Majorie sangatlah sentimental dan bodoh sehingga tidak layak dipertimbangkan. Majorie pernah berkata,
“Ketika kau jatuh cinta, Sayang, kau sama sekali tidak menganggapnya tidak menyenangkan. Karena Ciuman bibir itu seperti ada setrum yang menjalar dalam tubuhmu” Majorie yang manis tapi bodoh itu ternyata benar! Saat Tuan Constantine merengkuh Nona Dior ke dalam pelukannya, dan menciumnya, dia tidak merasa itu menjijikkan. Dan, ketika dia melakukannya lagi, rasanya sangatlah wajar untuk membalas pelukannya. Dan seluruh tubuhnya seperti mendapat ada kekuatan besar menjalar dalam tubuhnya, serasa sakit yang di deritanya saat ini. seakan-akan sembuh.
Tuan Constantine merasakan getaran responsif menjalari wanita itu, dan lengannya memeluk wanita itu lebih erat, tepar ketika seseorang mengetuk pintu. Nona Dior bergegas melepaskan diri, seraya berujar, “Hati-hati! Bisa jadi itu saudariku, atau Belevia!” Ternyata bukan mereka berdua. Yang termuda dari tiga pelayannya masuk, dengan membawa sebuah teko dan satu gelas di atas baki. Saat melihat Tuan Constantine, gadis ini berhenti di ambang pintu, dan berdiri sambil membelalakkan mata ke arahnya, dengan mata seperti melompat dari rongganya.
“Apa yang kau inginkan?” tuntut Tuan Constantine, merasa terganggu.
“Air barley?” Tuan Constantine berteriak tiba-tiba, dengan nada suara muak. “Demi Tuhan! Tidak heran semangatmu rendah kalau itu yang mereka berikan kepadamu untuk diminum!”
“Di dalamnya ada limun, Tuan?” kata si pelayan.
“Jauh lebih buruk! Bawa pergi, dan suruh Anash untuk membawa ke atas anggur Burgundy! Perintahku!”
“Ya, Tuan, Ta-tapi apa yang harus saya katakan kepada Nyonya Mary, Tuan?”
Nona Dior turun tangan. “Kau tidak perlu mengarakan apa pun kepadanya, Lizzy. Taruh saja air barley-nya di atas meja itu, dan minta Anash untuk membawa ke atas sebotol anggur Burgundy untuk Tuan Constantine. Dan, jika minumannya datang, kau yang akan meminumnya.” Dia memberi tahu tamunya, begitu Lizzy sudah pergi dengan tergesa-gesa.
“Aku tidak mau!”
“Kau mungkin mengira kau tidak mau, tapi itu tepatnya yang sungguh kau inginkan!” jawabnya dengan ketus. “Setelah ini, mereka akan membawakanmu semangkuk bubur!”
“Oh, tidak?” kata Nona Dior dengan serius. “Dokter Andre bilang aku bisa makan sedikit ayam setelah aku jauh lebih baik. Atau bahkan seiris daging domba rebus.”
“Itu seharusnya membangkitkan selera makanmu!” ujar Tuan Constantine dengan sinis.
Nona Dior tersenyum. “Yah, sejujurnya, aku tidak punya selera makan, jadi sangatlah tidak penting apa yang mereka bawakan untuk kumakan!” “Oh, berapa aku ingin agar kau serumah denganku!”
“Supaya kau bisa mengancamku untuk menyantap makan malamku, Tuan Constantine? Aku sama sekali tidak akan menyukai itu,” kata Nona Dior, seraya menggeleng.
“Kalau kau tidak berhenti menyebutku Tuan Constantine, Kekasihku, kita akan segera mendapati diri kita siap berdebat!”
__ADS_1
“Oh, itu menakutkanku sehingga aku jadi paruh Damien! Betapa mengejutkannya jika kita bertengkar!”
Tuan Constantine tersenyum, dan mengangkat tangan wanita itu ke bibirnya. “Sungguh mengejutkan! Dan, belum pernah terjadi sebelumnya!”
“Boleh-boleh saja kau mengecup tanganku,” kata Nona Dior dengan keras, “tapi apa yang seharusnya kau lakukan adalah berjanji kau tidak akan pernah lagi bertengkar denganku! Tapi seperti yang aku ketahui sejak aku berkenalan denganmu, kau tidak punya sedikit pun maksud untuk berkelakuan dengan beradab atau sopan, jadi aku mengira sangatlah konyol bila aku mengharapkan itu darimu.”
“Sangat konyol! Aku tidak pernah menjanjikan apa yang kutahu tidak bisa kulakukan.”
“Orang menjijikkan!”
Tuan Constantine tersenyum lebar kepadanya. “Akankah aku menjadi kurang menjijikkan jika aku menipumu dengan janji-janji rayuan? Tentu saja kita akan bertengkar sebab aku punya sifat mengkritik terus-menerus, dan kau, syukurlah, bukan salah seorang wanita penurut itu yang mengatakan ya dan amin pada segala hal! Yang mengingatkan aku sudah menemukan solusi untuk masalah terkait apa yang harus dilakukan dengan Cherry. Untuk soal ini, aku sungguh berharap kau mengatakan ya dan amin”
“Tapi, jika kita menikah, dia tentunya akan tinggal bersama kita!”
“Oh, tidak, tidak akan!” kata Tuan Constantine. “Jika kau mengira, Sayangku, aku siap berdiam diri dengan puas sementara pengantinku mencurahkan perhatian pada keponakanku, singkirkan gagasan bodoh itu! Pikirkan sejenak! Apa kau benar-benar ingin memasukkan orang ketiga dan seseorang yang harus dijaga kapan pun dia pergi ke rumah tangga kita? Jika kau ingin begitu, aku tidak! Aku ingin seorang istri, bukan seorang penjaga bagi keponakanku!” Dia meraih tangan wanita itu, dan memegangnya dalam genggaman paksa. “Seorang teman, Caroline! Seseorang yang bisa berkata, jika aku mengusulkan kepadanya kami harus bertamasya ke Paris, dia tidak merasa ingin pergi ke Paris, tapi yang tidak akan berkata, “Tapi, bagaimana bisa aku meninggalkan Cherry? Apa kau mengerti maksudku?”
“Oh, Sayangku, tentu saja aku mengerti! Aku tidak ingin memasukkan orang ketiga dalam rumah tangga kita, dan harus kuakui meski aku menyukai Cherry, aku memang menganggap tugas menjaga dia lebih berat daripada yang aku perkirakan. Tapi, alangkah kejamnya menyuruh dia untuk tinggal dengan orang lain, bukan karena kesalahannya, melainkan hanya karena kita tidak ingin diganggu olehnya! Jika dia mengetahui, dan menyukai, bibi mana pun dari pihak ayahnya, atau sepupunya, masalahnya akan berbeda, tapi dia tidak begitu, dan berkat bibi menyedihkan itu, satu-satunya teman yang dimiliki anak malang itu adalah teman-teman yang dia kenal di sini, di Rouen!”
“Ya, tepat sekali! Bagaimana menurutmu bila menyerahkan dia pada tanggung jawab Nyonya Cheltenham sampai tiba waktunya bagi dia untuk diperkenalkan ke publik?”
Nona Dior tersentak duduk. “Damien! Tentu saja itu akan jadi yang terbaik baginya, dan yang akan paling disukainya, aku sangat yakin. Tapi, akankah Nyonya Cheltenham bersedia menerima dia?”
“Sangat bersedia! Malahan, hal itu sudah dibereskan di antara kami pagi ini! Aku datang ke sini langsung dari Laura Place. Nyonya Stinchcombe-lah yang memberitahuku kau selama ini sakit, dan oh, astaga, sekarang apa lagi?”
††*****††
Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca artikel novel saya, dan sebagai info. Harusnya setiap hari ada update untuk episode baru, tapi entah karena belum cukup memenuhi syarat dalam menandatangi kontrak atau kendala teknis saya kurang paham.
Platformnya yang kadang menunda untuk menampilkan setiap hari.
Oh iya, jangan lupa vote juga ya, dan berikan saran terkait penulisan dalam cerita.
Terima kasih banyak.
________________________________
Baca Juga Novel saya yg satunya ya…
LAYLA AL-MADANI
Tema Cerita tentang “Kasih Sayang Orang Tua di masa lalu yang mengagumkan tetapi di khianati oleh bangsa sendiri, Penghianatan, balas dendam serta ambisius berskala besar..
“Setting Cerita membuat segalanya masuk akal dan alur cerita yang terentang dari masa ribuan tahun lalu menjadi latar belakang penuh warna bagi berbagai kesulitan yang di dalami oleh para pelaku utamanya”.
“Petualangan yang menggairahkan dan menyenangkan menumpas kasus yang akhirnya menyeret kepada kejadian yang tidak terduga, melibatkan beberapa Bangsa dan Kepercayaan dari tiga (3) agama dalam memperebutkan Tanah Suci dengan Politik Timur Tengah yang suram dan tidak tenang, di selingi dengan kisah romansa cinta sesaat dari pelaku itu sendiri”
Dan Jangan Lupa Vote, juga komen dan sarannya di butuhkan.
By the way Enjoy it!!!
Thanks and best regards
__ADS_1
“Saya yang di pojokan kulkas”