Cinta Kilat Perawan Tua

Cinta Kilat Perawan Tua
CHAPTER LXVII


__ADS_3

Tuan Arthur dan Nyonya Besar Dior telah pulang ke rumah beberapa menit sebelumnya. Untungnya bagi Nyonya Besar Dior, dia telah pergi dengan segera ke kamar bayi, untuk memastikan diri Luke tidak celaka dari perjalanan pertamanya sejak sakit, ke taman, jadi dia terhindar dari kabar mengerikan yang ingin sekali Nona Harrow ceritakan panjang lebar kepadanya. Tuan Arthur tidaklah seberuntung itu. Setelah menikmati segelas sherry, dia menaiki tangga menuju lantai pertama, dan dengan segera diserbu oleh Nona Harrow, yang datang terhuyung-huyung menuruni tangga, seraya mengatakan dengan suara histeris,


“Sepupu Arthur! Oh, Sepupu Arthur! Puji syukur kau datang di waktu yang Sangat tepat!”


Tuan Arthur memandangnya dengan rasa tidak suka. Dia tidak terbiasa dengan wanita-wanita yang menjadi manusia tidak normal, dan dia sudah tidak menyukai Nona Harrow. Dia berkata,


“Ada apa denganmu, Belevia apa kamu salah makan sesuatu?”


“Oh, tidak ada apa-apa aku baik-baik saja, tidak ada apa-apa kecuali aku tidak pernah begitu terkejutnya dalam hidupku! Ini soal Caroline! Kau harus naik ke kamarnya segera!”


“Eh?” kata Tuan Arthur, kaget.


“Caroline? Kenapa, apa yang tidak beres dengannya?”


“Aku tidak tahu bagaimana harus menyampaikan ini kepadamu! Jika bukan karena kewajibanku untuk melakukannya, aku tidak mungkin memberanikan diri untuk mengungkapkan kepadamu apa yang akan menusuk hatimu!” kata Nona Harrow, seraya memaksakan drama dari situasi itu.


Tuan Arthur menjadi marah.


“Demi Tuhan, Belevia, berhentilah bicara seolah kau sedang berperan dalam sebuah tragedy Cheltenham, dan katakan kepadaku apa yang telah membuatmu gelisah begini! Tusuk jantungku sekalian kalau aku harus mendengar ocehanmu lebih lama lagi! Jangan menunda-nunda lagi! Jawab aku! Apa ada sesuatu yang tidak beres dengan adikku?”


“Segalanya!” tegas Nona Harrow, terus melakukan peran terpenting dari hidupnya.


“Omong kosong” ujar Tuan Arthur, “Aku yakin pikiranmu menjadi kacau atau kepalamu terbentur, Belevia! Jangan pikirkan hatiku! Apa yang telah terjadi pada adikku?”


“Pria itu,” ungkap Nona Harrow,


“telah berbicara empat mata dengannya sejak kau dan Nyonya Besar Dior meninggalkan rumah! Dan, dia masih bersamanya! Seandainya aku tahu pria itu telah memaksa masuk rumah ini, dan Elle kehilangan semua kesadaran akan tugasnya sehingga mengizinkan pria itu masuk ke kamar tidur Caroline tapi sudah pasti lelaki itu menyogoknya untuk masuk! Aku sedang bersama Luke di taman, dan aku tidak tahu apa pun sampai aku masuk, dan baru saja hendak menengok ke kamar Caroline, ketika Elle menghentikan aku, dengan berkata Caroline sedang sibuk. “Sibuk? kataku.


“Dia sedang bersama seorang tamu, dan dia tidak ingin diganggu, katanya. Kau bisa percaya aku mendesak Elle untuk memberitahuku siapa yang telah datang mengunjungi Caroline tanpa minta izin darimu! Lalu, Elle memberitahuku tamu itu adalah pria itu!”


“Pria itu siapa?” desak Tuan Arthur.


“Tuan Constantine!” kata Nona Harrow, bergidik.


“Constantine? Apa yang sedang dia lakukan di kamar adikku?”

__ADS_1


“Berpesta minum-minum!” ujar Nona Harrow, mencapai ******* utamanya.


Upayanya gagal secara menyedihkan. Tuan Arthur berkata dengan tidak sabar,


“Aku berharap kepada Tuhan kau tidak akan berbicara omong kosong seperti itu, Belevia! Berikutnya, aku kira kau akan memberitahuku adikku juga sedang berpesta minum-minum”


“Aduh, tapi dia memang melakukannya!”


“Sepertinya kaulah yang sudah berpesta minum-minum sehingga kalimatmu tidak beraturan!” ujar Tuan Arthur dengan sengit.


“Kau sebaiknya pergi dan tidur, untuk menenangkan pikiranmu!”


Dengan mengatakan ini, Tuan Arthur terus menaiki tangga ke lantai dua, sama sekali tidak menghiraukan pada sanggahan Nona Harrow bahwa dia tidak pernah menyentuh minuman beralkohol atau permohonan penuh semangat untuk mendengarkan wanita itu, yang disampaikan Nona Harrow kepadanya.


Tuan Arthur memasuki kamar Nona Dior begitu saja, dan dihadapkan pada pemandangan adiknya yang duduk di samping Tuan Constantine di atas sofa, disokong oleh tangannya, dan dengan kepalanya bersandar pada pundak lelaki itu.


“Astaga!” dia berteriak menggelegar dengan tiba-tiba. “Apa artinya ini?”


“Oh, tolong jangan berteriak!” kata Nona Dior, seraya duduk tegak.


Tuan Arthur tidak menyukai Tuan Constantine, tapi dia mendapati dirinya begitu bersimpati kepada lelaki itu sehingga alih-alih meminta lelaki itu, dengan wibawa acuh tak acuh, untuk meninggalkan rumah ini, yang tadinya dia berniat melakukannya, dia malah berkata, “Aku tidak menempatkan wanita itu di samping Caroline! Yang kulakukan hanyalah menyarankan kepada Caroline dia akan menjadi orang yang pantas untuk bertindak sebagai teman!”


“Pantas, apa maksud anda?” sela Tuan Constantine dengan nada mengkritik.


Tuan Arthur memelototinya, tapi sebagai orang yang adil, dia merasa dirinya harus berkata.


“Tidak, tentu saja dia tidak pantas, tapi aku tidak tahu saat itu dia cerewet yang mengerikan, dan aku baru tahu hari ini dia sudah sungguh keterlaluan! Aku tentunya akan mengurus agar dia tidak mendekati Caroline lagi meski apa hakmu untuk ikut campur sama sekali tidak bisa kupahami! Selain itu, aku akan berterima kasih kepadamu dengan mempercayakan aku untuk menjaga adikku!”


“Hal itu,” kata Tuan Constantine, “membawa kita kembali ke awal perbincangan kita. Adikmu, Dior, telah memberikan kehormatan kepadaku dengan menerima pinanganku. Itulah maksud semua ini, dan hal itu juga menjelaskan hak yang aku punya untuk mencemaskan kesejahteraannya!”


“Yah, aku tidak akan membuat hal itu terlaksana!” kata Tuan Arthur. “Aku menolak memberikan persetujuanku atas pernikahan yang sama sekali tidak aku setujui!”


“Oh, Arthur, jangan! Tolong jangan bertengkar!” mohon Nona Dior, seraya menekan-nekan tangan ke pelipisnya yang berdenyut-denyut.


“Kau membuat kepalaku sakit lagi, kalian berdua! Aku sangat menyesal karena menjengkelkanmu, Arthur, tapi aku bukan anak sekolahan yang bodoh, dan aku tidak memutuskan untuk menikahi Damien berdasarkan dorongan hati! Dan, tentang pemberian izinmu, izinmu tidak diperlukan! Aku tidak di bawah umur, aku bukan anak perwalianmu, dan tidak pernah menjadi anak perwalianmu, dan tidak ada yang bisa kau lakukan untuk menghentikanku menikahi Damien!”

__ADS_1


“Kita akan lihat itu nanti!” kata Tuan Arthur mengancam.


“Biarkan aku memperjelasnya kepadamu”


“Tidak, jangan coba lakukan itu!” potong Tuan Constantine.


“Dia terlalu lelah untuk berbicara lagi! Perjelaslah kepadaku saja! Aku sarankan kita turun ke ruang baca, dan membicarakan masalah ini secara pribadi. Kita akan melakukannya jauh lebih baik tanpa campur tangan wanita, kau tahu.”


††*****††


Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca artikel novel saya, dan sebagai info. Harusnya setiap hari ada update untuk episode baru, tapi entah karena belum cukup memenuhi syarat dalam menandatangi kontrak atau kendala teknis saya kurang paham.


Platformnya yang kadang menunda untuk menampilkan setiap hari.


Oh iya, jangan lupa vote juga ya, dan berikan saran terkait penulisan dalam cerita.


Terima kasih banyak.


________________________________


Baca Juga Novel saya yg satunya ya…


LAYLA AL-MADANI


Tema Cerita tentang “Kasih Sayang Orang Tua di masa lalu yang mengagumkan tetapi di khianati oleh bangsa sendiri, Penghianatan, balas dendam serta ambisius berskala besar..


“Setting Cerita membuat segalanya masuk akal dan alur cerita yang terentang dari masa ribuan tahun lalu menjadi latar belakang penuh warna bagi berbagai kesulitan yang di dalami oleh para pelaku utamanya”.


“Petualangan yang menggairahkan dan menyenangkan menumpas kasus yang akhirnya menyeret kepada kejadian yang tidak terduga, melibatkan beberapa Bangsa dan Kepercayaan dari tiga (3) agama dalam memperebutkan Tanah Suci dengan Politik Timur Tengah yang suram dan tidak tenang, di selingi dengan kisah romansa cinta sesaat dari pelaku itu sendiri”


Dan Jangan Lupa Vote, juga komen dan sarannya di butuhkan.


By the way Enjoy it!!!


Thanks and best regards

__ADS_1


“Saya yang di pojokan kulkas”


__ADS_2