
Nona Dior sendiri menghabiskan waktu pada pagi hari dengan menulis surat panjang yang sudah ditunda-tunda untuk seorang kawan lama, dan setelah itu melewatkan waktu bersama pengurus rumah tangganya. Dia tengah memeriksa beberapa kain linen ketika Anash naik untuk memberi tahu seseorang bernama Tuan Constantine telah datang berkunjung, dan sedang menunggunya di ruang tamu.
Lima menit kemudian, Nona Dior memasuki ruang tamu, setelah sempat berhenti sejenak untuk memastikan dia, dengan pandangan sekilas penuh kritis terhadap pantulannya di cermin panjang di kamar tidurnya, menunjukkan gambaran yang tepat mengenai dirinya kepada paman Cherry. Dia puas dengan apa yang dilihatnya. Gaunnya terbuat dari kain sutra lembut berwarna kelabu pucat, dengan bagian ekor dan kerah renda kecil di sekitar batang leher, menjadikannya gaun terbaik, menurutnya, bagi seorang wanita berstatus sosial tinggi dan berusia dewasa, tapi apa yang gagal dia sadari sebab dia tidak pernah memikirkannya kecantikannya makin dipertegas dengan warna lembut dari gaunnya. Dia menganggap abu-abu sebagai warna paruh baya, dan kalau terpikir di benaknya bahwa rambut emasnya yang lebat tidak mungkin dimiliki oleh seorang wanita yang telah melewati masa mudanya, dia pasti akan mencari-cari di dalam lemari pakaiannya sebuah topi yang pas untuk dikenakan di kepala. Bukan berarti sebuah topi bisa meredupkan cahaya di matanya, tapi hal itu pun tidak terpikir olehnya sebab pengenalan akan kecantikannya sendiri telah menumbuhkan rasa benci dalam dirinya. Dia lebih suka memiliki rambut berwarna cokelat dan cenderung menganggap kecantikannya yang berharga agak mencolok.
Saat memasuki ruang tamu, dia berhenti sejenak di ambang pintu, seraya mengamati tamunya. Sang tamu sedang berdiri di depan perapian, seorang pria berperawakan kekar dengan rambut dan kulit gelap. Alisnya lurus dan agak tebal, dan di bawahnya terdapat sepasang mata kelabu tidak menyenangkan yang memandangi Nona Dior, ekspresi di kedua mata itu memancarkan rasa terkejut bercampur mencela. Yang menyebabkan Nona Dior marah, pria itu mengangkat kacamata berlensa satunya, seolah-olah untuk menilai dirinya dengan lebih tepat. Alis Nona Dior terangkat, dia melangkah maju, seraya berkata dengan sikap angkuh, “Tuan Constantine, saya kira?”
Lelaki itu mengangguk, seraya membiarkan kacamatanya terlepas, dan menjawab dengan kasar, “Ya. Anda Nona Dior?” Nona Dior memiringkan kepalanya, dengan suatu sikap yang berniat hendak memalukan lelaki itu.
“Demi Tuhan!” ujar sang tamu. Sungguh tidak terduga pernyataan ini memunculkan gelak tawa dari dalam diri Nona Dior. Dia menahannya dengan cepat, dan berusaha membuat pria itu merasa malu, dengan mengulurkan tangan dan berkata, dengan suara tenang, “Apa kabar? Anda ingin bertemu keponakan Anda, tentunya. Saya minta maaf karena dia tidak di rumah pagi ini.”
“Tidak, saya tidak ingin menemuinya, walau saya rasa saya diharuskan menemuinya,” sahutnya, seraya menjabat tangan Nona Dior dengan singkat.
“Saya datang untuk bertemu Anda, Nona Dior jika Anda memang Nona Dior.”
Caroline terlihat geli mendengar pernyataan ini. “Tentu saja saya Nona Dior. Anda harus memaafkan saya jika saya bertanya mengapa Anda harus meragukannya?” Dan, kalau hal itu tidak membuatmu meminta maaf atas ketidaksopananmu, tiada maaf bagimu! pikir Caroline, menunggu sambil berharap.
“Karena Anda terlalu muda, tentu saja!” jawab lelaki itu, mengecewakan Caroline.
“Saya datang ke sini dengan harapan menjumpai seorang wanita tua atau, setidaknya, wanita dengan usia sepantasnya!”
“Izinkan saya meyakinkan Anda, Tuan, meski saya tidak menganggap diri saya tua, usia saya sudah pantas!”
“Omong kosong!” ujarnya. “Anda ini hanya anak-anak!”
“Sudah pasti saya akan berterima kasih atas pujian Anda, walau diutarakan dengan tidak sopan.”
“Saya tidak sedang memuji Anda.”
“Ah, tidak! Betapa bodohnya saya! Saya teringat, setelah Anda memaksa saya untuk mengingatnya, kakak saya memberitahu Anda ini terkenal akan ketidaksopanan Anda!”
“Dia bilang begitu? Siapa kakak Anda?”
“Tuan Arthur Dior,” jawab Caroline tidak ramah.
Lelaki itu mengerutkan dahi mendengar nama itu, dalam upaya mengingat-ingat. Setelah beberapa menit, dia berucap,
__ADS_1
“Oh, ya! Rasanya saya pernah bertemu dengannya. Punya tanah di Le Havre, bukan? Apakah rumah ini miliknya juga?”
“Tidak, saya pemiliknya! Tapi, apa urusannya dengan Anda”
“Maksudnya Anda tinggal di sini sendirian?” potong lelaki itu. “Jika kakak Anda adalah tipe pria seperti yang kupikirkan, kukira dia tidak akan mengizinkan hal itu!”
“Mungkin dia tidak akan mengizinkan kalau saya memang 'hanya seorang anak-anak,” jawabnya pedas. “Tapi, kebetulan sekali saya sudah menjadi nyonya di rumah sendiri selama bertahun-tahun!”
Kilasan senyuman sinis menghilangkan rasa ketidaksetujuan yang terpancar di mata pria itu.
“Oh, terlalu dilebih-lebihkan, jadi sulit dipercaya!” Dia keberatan. “Bertahun-tahun, Nyonya? Tak lebih dari lima, palingan!”
“Anda keliru, Tuan Constantine! Saya berusia dua puluh Sembilan tahun!”
Pria itu mengangkat kacamatanya lagi, dan mengamati Caroline dengan cermat sebelum berkata,
“Ya, jelas saya keliru, sebab penampilan muda Anda-lah yang patut disalahkan. Wajah Anda milik seorang gadis, tapi sikap Anda yang meyakinkan tidak seperti anak kecil. Tapi, Anda akan mengizinkan saya untuk berkata berusia dua puluh sembilan tahun tidak menjadikan Anda wali yang pantas bagi keponakan saya”
“Lagi-lagi Anda keliru, Tuan Constantine! Saya bukan wali Cherry, juga tidak punya sedikit pun hasrat untuk menggantikan posisi Nyonya Raina. Saya menyimpulkan, dari ucapan Anda, Anda datang ke sini dari Ome, di mana, saya yakin, Anda telah mendengar”
“Saya tidak terbiasa, Tuan, mendengar jenis bahasa yang Anda gunakan,” jawab Nona Dior tidak ramah.
“Oh, hanya itu? Beribu-ribu maaf, Nyonya! Tapi, kakak Anda sudah memperingatkan Anda, bukan?”
“Ya, dan juga Anda tidak ragu untuk menindas orang-orang yang dianggap berada di bawah status Anda!” sergahnya.
Tuan Constantine terlihat kaget.
“Oh, tidak! Hanya terhadap orang-orang yang membuat saya bosan. Apakah Anda pikir saya sedang berusaha menindas? Saya tidak begitu. Anda memang membuat saya marah, tapi Anda tidak membuat saya bosan.”
“Saya sangat berterima kasih kepada Anda!” ujar Caroline, dengan rasa terima kasih yang ironis. “Anda telah meringankan beban pikiran saya! Mungkin Anda akan menambah kebaikan dengan menjelaskan apa yang Anda kira telah saya lakukan sehingga membuat Anda marah? Hal itu, harus saya akui, telah membingungkan saya. Saya menyangka Anda datang ke Rouen untuk berterima kasih kepada saya karena telah menolong Cherry, tentunya tidak untuk menekan saya karena telah berbuat demikian.”
“Jika hal itu tidak di luar harapan!” serunya tiba-tiba. “Apa saya harus mengucapkan terima kasih kepada Anda, Nyonya? Karena menolong dan bersekongkol dengan keponakan saya untuk membuat dirinya sendiri terlihat sebagai seorang panutan? Karena menyeret-nyeret saya ke dalam urusan ini? Karena”
“Saya tidak berbuat begitu!” Nona Dior menyela dengan marah.
__ADS_1
“Saya berbuat semampu saya untuk mengakhiri skandal yang mungkin muncul akibat kaburnya Cherry dari Etretats dan mengenai Anda yang terseret ke dalam urusan ini, tidak ada, izinkan saya memberi tahu Anda, maksud atau keinginan saya untuk berbuat hal itu!”
“Anda pasti sudah mengetahui si bodoh Mirela Raina akan menulis surat untuk menuntut saya agar menggunakan pengaruh saya atas Cherry!”
“Ya, Archard Blanchet memberi tahu kami bahwa dia telah berbuat demikian.” Nona Dior mengiakan, dengan nada ramah yang dibuat-buat.
“Tapi, karena Cherry tidak pernah mengatakan apa pun tentang Anda yang membuat saya berpikir Anda menyukainya, atau memiliki perhatian sedikit pun kepadanya, saya tidak berharap menerima kunjungan Anda. Sejujurnya, Tuan, perasaan awal saya ketika mendengar nama Anda disebut-sebut di depan saya adalah perasaan heran. Tapi, itu sebelum saya memiliki perasaan senang yang sangat meragukan karena berkenalan dengan Anda!”
††*****††
Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca artikel novel saya, dan sebagai info. Harusnya setiap hari ada update untuk episode baru, tapi entah karena belum cukup memenuhi syarat dalam menandatangi kontrak atau kendala teknis saya kurang paham.
Platformnya yang kadang menunda untuk menampilkan setiap hari.
Oh iya, jangan lupa vote juga ya, dan berikan saran terkait penulisan dalam cerita.
Terima kasih banyak.
________________________________
Baca Juga Novel saya yg satunya ya…
LAYLA AL-MADANI
Tema Cerita tentang “Kasih Sayang Orang Tua di masa lalu yang mengagumkan tetapi di khianati oleh bangsa sendiri, Penghianatan, balas dendam serta ambisius berskala besar..
“Setting Cerita membuat segalanya masuk akal dan alur cerita yang terentang dari masa ribuan tahun lalu menjadi latar belakang penuh warna bagi berbagai kesulitan yang di dalami oleh para pelaku utamanya”.
“Petualangan yang menggairahkan dan menyenangkan menumpas kasus yang akhirnya menyeret kepada kejadian yang tidak terduga, melibatkan beberapa Bangsa dan Kepercayaan dari tiga (3) agama dalam memperebutkan Tanah Suci dengan Politik Timur Tengah yang suram dan tidak tenang, di selingi dengan kisah romansa cinta sesaat dari pelaku itu sendiri”
Dan Jangan Lupa Vote, juga komen dan sarannya di butuhkan.
By the way Enjoy it!!!
Thanks and best regards
__ADS_1