Cinta Kilat Perawan Tua

Cinta Kilat Perawan Tua
Chapter XXVI


__ADS_3

Cherry terkikik sebentar mendengar itu, tapi juga mengungkapkan kelegaannya, dengan mengatakan terang-terangan dia pikir hidup bersama Nyonya Besar Lambourn bahkan lebih tak tertahankan dibanding hidup bersama Nyonya Raina. “Lagi pula, aku hampir tidak mengenalnya,” tambahnya, sebagai alasan yang menentukan. “Sungguh, kukira aku menemuinya tidak lebih dari sekali dalam hidupku, dan itu pun sudah bertahun-tahun lalu, ketika Mama mengajakku untuk mengunjunginya pada pagi hari. Waktu itu aku masih kecil, tapi bibi kelihatannya tidak sakit. Aku ingat dia sangat cantik dan amar anggun. Dia memang memberi tahu Mama dia jarang bisa membanggakan dirinya dalam kondisi sehat walafiat, tapi dia tidak mengatakannya dengan cara yang akan menyebabkan orang mengira dia menderita suatu penyakit yang tak bisa disembuhkan.”


“Ah, itu pasti sebelum dia berstatus janda!” sahut pamannya.


“Lambourn bersikap bijak dalam mengambil tindakan ketika dia menyadari apa yang mungkin terjadi.”


“Betapa banyaknya musuh yang Anda timbulkan gara-gara lidah Anda.” Nona Dior mengamati. “Bolehkah aku mengusulkan, daripada melontarkan kata-kata yang ku curigai bisa menjadi fitnahan terhadap saudari Anda, Anda mengalihkan pikiran ke pertanyaan tentang kerabat manakah yang dinilai menjadi orang paling tepat untuk mengemban tanggung jawab atas Cherry sampai Nyonya Besar Trevisian bebas memperkenalkannya ke masyarakat kalangan atas?”


“Tentu saja,” sahut Tuan Constantine, dengan sangat ramah.


“Aku akan berupaya sebaik mungkin untuk mencarinya, tapi saat ini aku mendapati diriku kebingungan, dan dengan berat hati harus memohon Anda untuk meneruskan pekerjaan sebagai penjaganya.”


“Kalau begitu,” ujar Nona Dior, seraya bangkit dari meja, “Tidak ada lagi yang perlu kami lakukan di sini. Kami pamit, Tuan Ayo, Cherry! Berterima kasihlah kepada pamanmu atas keramahannya yang baik, dan mari kita pulang!” Tuan Constantine tidak berusaha menahan mereka, tapi bergumam dengan provokatif, seraya menyelempangkan syal Nona Dior di sekitar bahunya, “Terimalah salam ku, Nyonya! Bersediakah Anda memaksa diri agar tidak menjadi marah karena upaya itu?”


“Oh, tidak, sama sekali tidak!” jawab Nona Dior dengan pedas, tanpa ragu sekejap pun. “Ayahku mengajarkanku bertahun-tahun lalu untuk tidak pernah menaruh perhatian sedikit pun terhadap hal-hal tidak bijaksana yang diucapkan oleh orang-orang cerdas tapi kurang sopan!”

__ADS_1


Tuan Constantine tertawa kencang. “Tamparan telak!” akunya. Dia berpaling dari Nona Dior untuk menyentil pipi Cherry dengan satu jari dalam gerakan acuh tak acuh. “Au revoir, Ponakan!” ucapnya dengan senyum ramah. “Tolong, berusahalah untuk mendapatkan kembali reputasi keluarga yang telah kau tempatkan dalam kondisi bahaya.”


Dia lalu mengantar mereka turun, dan, sementara kereta Nona Dior dipanggil, mengajak wanita itu berbasa-basi dengan sangat sopan. Basa-basi ini disela oleh kedatangan seorang pria berpenampilan agak parlente yang begitu mata tajamnya melihat Nona Dior, langsung menghampiri dengan cepat seraya berseru, “Ah, yah, tidakkah aku tahu keberuntungan akan menyapaku hari ini? Nyonya yang sangat terhormat, bagaimana kabar Anda?”


Nona Dior menyodorkan tangannya, yang segera diarahkan pria itu ke bibirnya, dan berkata, “Bagaimana kabarmu, Tuan Damitri? Kukira kau berada di Rouen untuk mengunjungi nenekmu. Aku harap dia sehat.”


“Oh, dalam keadaan terlalu baik!” ujarnya, dengan tampang jenaka. “Marah-marah juga! Sangat mengecewakan!” Nona Dior mengabaikan ini, dan dengan singkat memperkenalkan pria itu kepada kawan-kawannya. Sikap Nona Dior, yang agak dingin, seharusnya tidak mendorong pria itu untuk berlama-lama tinggal, tapi rupanya pria itu tidak mempan terhadap isyarat-isyarat, dan setelah saling mengangguk dengan Tuan Constantine, yang sudah dikenalkan kepadanya, dia berpaling untuk berbicara dengan Cherry, yang dia lakukan demi maksud baik agar gadis itu memberi tahu Nona Dior, dalam perjalanan berkereta ke Versailles, bahwa pria itu orang paling menyenangkan dan lucu yang pernah dijumpainya.


“Benarkah?” tanya Nona Dior, dengan acuh tak acuh.


“Masa? Benarkah?” teriak Cherry, terkejut. “Ya, aku bersedia, Nyonya! Dan, bolehkah kita mampir di Ruang pompa? Stonehenge akan ada di sana, dengan ibunya, dan aku bilang kepadanya akan menanyai Anda apakah aku bisa ikut dengannya.”


“Ya, tentu saja. Dan, sementara kita berada di kota, kita harus membeli sepasang sarung tangan baru untukmu, untuk dipakai di pesta jamuan makan kita.”


“Sarung tangan untuk malam hari?” Cherry bertanya dengan penuh semangat. “Sarung tangan itu akan jadi yang pertama yang pernah kumiliki sebab bibiku hanya mau membelikan ku sarung tangan berjari terbuka, seolah aku ini hanyalah anak sekolahan! Apakah pamanku bilang aku boleh memiliki sarung tangan itu juga pelayan baru?”

__ADS_1


“Aku tidak menanyainya,” sahut Nona Dior. “Dari apa yang telah ku perhatikan tentang dia, aku sangat yakin dia akan menjawab dengan cara membosankan dia tidak tahu-menahu soal hal-hal semacam itu, dan aku harus melakukan apa yang ku anggap paling baik.”


Cherry terkekeh dan berujar, “Ya, tapi masalahnya, akankah dia membayar semua itu? Sebab, aku tahu betapa mahalnya sarung tangan panjang, dan ... dan uang sakuku tinggal sedikit!”


“Kau tidak perlu memikirkan hal itu! Tentu saja dia akan membayarnya!” jawab Nona Dior, seraya menambahkan, dengan kepuasan yang jail, “Harga dirinya membuat dia kesulitan dipaksa untuk mengizinkan anak perwaliannya tinggal bersamaku, sebagai tamuku, dan aku sangat puas karena telah mengilhaminya dengan cukup rasa hormat untuk mencegah dia mengusulkan untuk membayar ku karena telah menjagamu. Aku tidak akan heran kalau dia berusaha mengirimkan uang tunjangan kepadaku. Tentang keberatan saat diminta untuk membayar biaya apa pun yang mungkin kau beli, dia sangat mungkin malah mendorongmu untuk menjadi boros. Kalau kau masih khawatir dia menolak membayari tagihan mu, biar aku yang melakukannya.


Ketika Nona Dior dan Cherry tengah berjalan keesokan harinya menyusuri Upper Versailles dalam perjalanan menuju Gay Street, mereka bertemu Archard Blanchet, yang menghampiri mereka. Segera menjadi jelas pemuda itu berjalan susah payah dan perlahan dengan disertai perasaan sangat kesal, sebab tanpa menunggu untuk memberi salam kepada mereka, dia tiba-tiba menyampaikan informasi yang agak kurang penting bahwa dia datang untuk mengunjungi mereka, dengan menambahkan secara cepat dan mendadak, “Menurut Anda apa yang telah terjadi, Nyonya?”


“Aku tidak tahu,” jawab Nona Dior. “Ceritakan kepada kami.”


“Saya memang akan menceritakannya. Anda tidak akan memercayainya! Saya sendiri hampir tidak percaya! Yang saya maksudkan, jika Anda mempertimbangkan semua hal yang telah terjadi, dan bagaimana ini adalah kesalahan mereka, dan bukan kesalahan saya yah, itu membuat saya sungguh amat marah, dan siapa pun juga akan marah!”


“Tapi, ada apa?” tuntut Cherry dengan tidak sabar.


“Kau memang bisa bertanya! Tapi, kau akan marah besar kalau aku memberitahumu! Karena dari semua” Cherry memotong seraya menghentakkan kaki dan merapatkan mantel bulu yang dikenakannya untuk melindungi tubuh dari embusan angin kencang.

__ADS_1


“Demi Tuhan, ceritakan saja daripada berbicara dengan cara bodoh seperti itu, dan membuat kami berdiri di tengah terpaan angin menyebalkan ini?” Dia nyaris berteriak.


__ADS_2