Cinta Kilat Perawan Tua

Cinta Kilat Perawan Tua
CHAPTER XXXIX


__ADS_3

Archard menguji tali pelananya, mengencangkannya, memberi tahu Cherry dengan tegas untuk ingat bahwa tangannya masih asing bagi si kuda betina, dan untuk berhati-hati dengan sekitarnya, dan mengayunkan tubuhnya naik ke pelananya sendiri.


Mereka lalu bergerak maju, Cherry dan Archard memimpin, dan Tuan Constantine, mengikuti dekat di belakang mereka bersama Nona Dior di sebelahnya, mengawasi anak perwaliannya. Dia kelihatannya segera merasa puas bahwa pengertian di antara si kuda betina kelabu dan penunggangnya mulai terbangun sebab dia mengalihkan pandangannya dari mereka, dan memalingkan kepala untuk berbicara kepada Nona Dior, “Tidak perlu mengikuti begitu dekat, dia kelihatannya tahu cara menangani kuda asing.”


“Ya.” Nona Dior sependapat. “Archard meyakinkanku tidak perlu khawatir tentangnya karena dia penunggang kuda yang baik sekali.”


“Memang sudah seharusnya,” sahut Tuan Constantine. “Saudaraku menaikkannya ke pelana saat dia belum benar-benar lepas dari tali bantu berjalan bayi.”


“Ya,” katanya lagi. “Dia menceritakannya kepadaku.” Keheningan tercipta di antara mereka. Suasana tetap hening sampai mereka sudah keluar kota, lalu kuda Archard dan Cherry berderap lebih cepat. Tuan Constantine saat itu berkata, dengan caranya yang blakblakan, “Apa kau masih marah kepadaku?”


Nona Dior agak terkejut sebab sedari tadi dia asyik dengan pikirannya sendiri, lalu menjawab dengan tawa ragu-ragu, “Oh, tidak! Sepertinya aku sedang asyik melamun!”


“Kalau kau tidak lagi marah kepadaku, siapa atau apa yang telah membuatmu kesal?”


“Aku ... aku tidak kesal” Nona Dior tergagap.


“Mengapa ... mengapa kau harus berpikir begitu hanya karena aku membiarkan pikiranku melayang ke mana-mana selama satu-dua menit?”


Tuan Constantine kelihatannya memikirkan pertanyaan ini. Dahinya yang sedikit berkerut menyatukan kedua alisnya, dan pandangan tajam di antara kedua matanya yang menyipit, yang memandang melalui kuping kudanya ke kejauhan, gagal memberinya sebuah jawaban sebab, setelah berhenti sejenak, dia tersenyum masam, lalu berkata, “Aku tidak tahu. Tapi, aku sungguh tahu suatu kebetulan telah membuatmu sangat marah, yang sedang berusaha kau tahan.”


“Oh, astaga!” Nona Dior mendesah. “Begitu jelaskah?”


“Bagiku, ya,” Tuan Constantine menjawab singkat. “Kuharap kau akan memberitahuku apa yang telah menghilangkan ketenanganmu, tapi kalau kau memilih untuk tidak bercerita, aku tidak akan mendesakmu. Apa yang ingin kau bicarakan?”


Nona Dior menoleh dan memandangnya kagum, senyuman terulas di bibirnya, dan di benaknya muncul pikiran bahwa pria ini tidak dapat diduga. Pada satu saat, pria itu bisa kasar dalam berperilaku dan berbicara, serta tidak berperasaan: lalu, ketika pria ivu membuatnya sangat marah, suasana hati pria itu kelihatannya berubah, dan kemarahannya mencair karena rasa simpati, walau diungkapkan secara kasar, yang dia dengar dalam suaranya, dan temukan dalam pandangan mata yang melembut. Sekatang, ketika menatap kedua mata tajam pria itu, dia melihat binar senyuman di sana, dan menyadari dorongan untuk memberinya kesempatan, setidaknya sedikit saja, untuk mengetahui rahasianya. Tidak ada orang lain yang kepadanya dia dapat menceritakan masalahnya, dan dia benar-benar membutuhkan orang kepercayaan yang dapat diandalkan, sebab semakin dia menyembunyikan kebencian, semakin dalam perasaan itu menguasainya. Mengapa dia harus mempertimbangkan Tuan Constantine sebagai orang kepercayaan yang dapat diandalkan adalah pertanyaan yang tidak pernah terpikir olehnya untuk ditanyakan kepada diri sendiri, dia merasakannya, dan itu sudah cukup.


Nona Dior merasa ragu, dan sesaat kemudian, Tuan Constantine berkata jujur, “Kau sebaiknya berbicara secara terbuka, sebelum semua amarah yang meluap-luap dalam dirimu membuka paksa penutup yang menahannya, dan membakar segala hal yang terlihat.”

__ADS_1


Ucapan ini membuat Nona Dior tertawa. Dia berkata, “Seperti cerek air yang mendidih? Itu akan jadi sangat buruk! Memang benar aku sangat marah, tapi bukan masalah besar. Kakakku tiba di Versailles semalam, untuk memberitahuku dia mengirim istri, dua anaknya, perawat mereka, dan aku menduga pelayan saudari iparku, padaku hari ini, selama menurut kakakku beberapa hari. Tanpa memberitahuku terlebih dulu. Aku sangat menyukai saudari iparku, tapi hal ini sangat menjengkelkanku!”


“Kukira pasti begitu. Mengapa kau dijadikan sasaran serbuan ini?”


Mata Nona Dior bersinar. “Karena dia” Dia berhenti, tiba-tiba menyadari tidak mungkin mengungkapkannya kepada Tuan Constantine, dari semua orang, alasan Tuan Arthur yang sebenarnya. “Karena Luke, keponakan kecilku, sakit gigi,” katanya.


“Kau seharusnya memikirkan alasan yang lebih baik dari itu!” protes Tuan Constantine. “Kuyakin kau menganggapku orang bodoh, tapi kau keliru: aku tidak bodoh! Aku tidak bisa memercayai kebohongan semacam itu!”


“Aku tidak memikirkan sesuatu seperti itu,” jawabnya pedas.


“Kalau kau ingin kebenarannya, aku menganggapmu orang yang sangat sempurna, serbabisa!”


“Kalau begitu, kau seharusnya tahu lebih baik daripada berusaha membohongiku,” ujar Tuan Constantine. “Membawa seluruh keluarganya ke Rouen karena Luke sakit gigi? Kebohongan besar!”


“Yah, aku harus akui kedengarannya memang seperti itu, tapi itu bukan cerita bohong. Saudari iparku berencana membawa Luke ke dokter gigi terbaik yang ada, dan dia dianjurkan untuk mendatangi Westcott. Kalau kau berpikir itu konyol, aku pun begitu!”


“Dengan senang hati! Kau mengungkapkan perasaanku dengan tepat! Merusak semua rencanaku tanpa izin membuatku sangat sakit hati sehingga aku ingin mengamuk! Kau tidak perlu memberi tahu kalau aku membesar-besarkan masalah kecil sebab aku sadar itulah yang kulakukan!”


“Oh, tidak, aku tidak akan begitu! Kau bertabiar terlalu baik untuk melampiaskan amarah kepada Dior, jadi mengamuklah kepadaku.”


“Jangan mengada-ada! Kau bukan, dalam hal ini, penyebab kejengkelanku.”


“Oh, jangan biarkan itu memengaruhimu! Aku dengan sangat yakin akan berjanji memberimu cukup provokasi untuk mengomeliku dengan cara yang menyenangkan! Jangan ragu untuk memanfaatkan aku!”


“Tuan Constantine,” ujar Nona Dior, dengan bibir yang gemetar. “Aku sudah memintamu agar tidak mengada-ada!”


“Tapi, bukankah aku berjanji memberimu provokasi?”

__ADS_1


“Salah satu hal yang sangat tidak kusukai pada dirimu, Tuan, adalah kebiasaanmu yang tidak menyenangkan untuk selalu menimpali” Nona Dior memberitahunya. “Dan, secara umum,” tambahnya “menimpali dengan kasar!”


“Ayolah, ini jauh lebih baik!” katanya dengan memberi semangat. “Kau sudah membebaskan dirimu sendiri dari sebagian kesengitanmu! Sekatang, katakan kepadaku tepatnya apa pendapatmu tentang diriku karena telah mengatakan hal yang tidak adil padamu semalam, dan karena telah meninggalkan pesta jamuanmu dengan sikap yang sangat kasar. Jika hal itu tidak membebaskanmu dari sisa kesengitanmu, kau bisa mencela, dengan lebih semangat dari yang kau pernah lakukan di Ruang pompa saat itu, tentang penyimpangan hidup dan sifatku! Dan, kalau hal itu tidak berhasil”


Nona Dior memotongnya, rona merah mewarnai pipinya. “Aku mohon kau tidak berkata-kata lagi! Aku seharusnya tidak mengatakan apa yang sudah telanjur kukatakan dan aku menyesalinya begitu kata-kata itu terlontar dari mulutku, dan... dan sejak itu aku ingin meminta maaf kepadamu. Tapi, entah bagaimana kesempatan untuk melakukannya tidak pernah ada. Sekatang muncul kesempatan itu, dan ... dan aku sungguh meminta maaf kepadamu!”


Tuan Constantine tidak segera membalas, dan, dengan memandangi wajah pria itu diam-diam, Nona Dior melihat mulutnya membentuk senyuman mencurigakan. Dia berkata,


“Salah satu hal yang sangat tidak kusukai pada dirimu, lebahku yang mempesona, adalah kemampuanmu untuk membuatku terpojok! Sungguh memalukan kalau aku sampai tahu mengapa aku sangat menyukaimu!”


††*****††


Baca Juga Novel saya yg satunya ya…


LAYLA AL-MADANI


Tema Cerita tentang “Kasih Sayang Orang Tua di masa lalu yang mengagumkan tetapi di khianati oleh bangsa sendiri, Penghianatan, balas dendam serta ambisius berskala besar..


“Setting Cerita membuat segalanya masuk akal dan alur cerita yang terentang dari masa ribuan tahun lalu menjadi latar belakang penuh warna bagi berbagai kesulitan yang di dalami oleh para pelaku utamanya”.


“Petualangan yang menggairahkan dan menyenangkan menumpas kasus yang akhirnya menyeret kepada kejadian yang tidak terduga, melibatkan beberapa Bangsa dan Kepercayaan dari tiga (3) agama dalam memperebutkan Tanah Suci dengan Politik Timur Tengah yang suram dan tidak tenang, di selingi dengan kisah romansa cinta sesaat dari pelaku itu sendiri”


Dan Jangan Lupa Vote, juga komen dan sarannya di butuhkan.


By the way Enjoy it!!!


Thanks and best regards

__ADS_1


“Saya yang lagi benerin genteng bocor”


__ADS_2