Cinta Lama Dini

Cinta Lama Dini
GODAAN


__ADS_3

Suatu kali pak Sobri sakit tidak bisa mengantar Kami, padahal jadwal kami hari itu ada di pinggir kota hampir 75 menit perjalanan.


" San gimana enaknya?" tanya Dian


" Ya terpaksa aku cari angkot sewaan di terminal" jawab Santi. Sebagai ketua team dia yang bertanggung jawab semuanya.


" Minta tolong temani siapa ya?" tanya Santi.


" Din, coba kamu rayu Mang Jajang. Bilang suruh nemenin aku cari angkot" lanjut Santi.


" Oke, sebentar" aku berlari kecil ke warnet depan.


" Maamang .. lagi ngapain?" aku lihat Mang Jajang lagi bersih bersih komputer di room 3 yang terlihat dari depan.


" Napa neng? tumben nyamperin saya" Mang Jajang meninggalkan pekerjaannya dan menghampiri aku.


" Nggak pa pa, cuma mau minta tolong aja" kataku manja


" Mau minta tolong apa?" sok cool si Mamang


" Itu, si Santi minta tolong temenin ke terminal gih. Pak Sobri sakit nggak bisa anter demo" aku masih manja sambil kuremas jemariku ( kayak anak kecil minta permen ke ayahnya he he ).


" Sama kamu nggak?" tanyanya


" Nggak dong, kan pake motor nggak boleh bonceng ber-3 kan?"

__ADS_1


" Sama si Pendi aja ya" tawarnya


" Lha mana Kang Pendi-nya"


" Dah balik sana, ntar aku yang bilang Pendi" katanya lagi.


" Ma'achih Mamang ganteng" sahutku sambil berjalan balik ke kost-an.


" Mbak Santi ntar dianter Kang Pendi" teriakku dari kejauhan. Santi mengacungkan jempolnya.


Akhirnya kami berangkat demo dengan angkot sewaan punya Mas Ambon ( entah nama aslinya siapa ) dan kami sepakat kalau Pak Sobri nggak bisa nganter Mas Ambon siap nganter. Karena belum begitu kenal dengan Mas Ambon, kami berangkat ditemani Kang Pendi.


Sore hari waktu pulang diperjalanan aku sambil ngisi laporan penjualan. Rasanya aku capek sekali jadi laporan aku buat sekarang ntar sampe kost tinggal serahin ke Feni dan aku bisa istirahat. Karena tersenggol Lestari pulpenku jatuh ku cari di bawah kaki kok nggak ada. Ya sudahlah nanti malam laporannya, pikirku. Selagi aku mau memejamkan mata terasa kaki kanan-ku ada kaki yang mengelus elus. Karena aku duduk dipojok kanan jadi nggak mungkin orang disebelahku yang mengelus bisa dipastikan manusia di depanku pelakunya. Sedangkan yang duduk di depanku Kang Pendi, apa ya maksudnya. Pelan pelan aku melihat ke bawah, benar ternyata kaki Kang Pendi yang usil. Angkot kan duduknya hadap hadapan. Orangnya sih kelihatannya merem ehhh ternyata kakinya usil.


Kaki dia masih dengan aktivitasnya mengelusku.


" Ya?" jawabnya malas dengan sedikit membuka matanya.


" Lu gatel atau iseng sih?" sungutku


" Apa?" jawabnya sok cool


" Eh, Elu ya ... berhenti dong kakinya" aku agak sedikit berteriak


" Eh, lha orang aku nggak ngapa ngapain kok. Ge Er kamu" katanya tanpa dosa

__ADS_1


" Lu jangan kurang ajar doongg" gemas aku dengan wajah jeleknya.


" kurang ajar gimana? aku nggak ngapa ngapain" sahutnya mengejek. Temen temen pada ngelihatin kami.


" Sudah yang akur" kata Santi melerai kami. Aku melotot pada Kang Pendi, dia malah mencibir ke arah-ku.


Sesampai di kost selesai urusan stok dan keuangan sama ketua, aku ke warnet depan mau aku aduin kelakuan Kang Pendi ke Mang Jajang.


" Mang, lagi banyak kerjaan nggak?" tanyaku


" Mo ngapain lagi Neng?" jawab Mang Jajang


" Mau curhat Mang" kataku sambil cemberut.


" Bertengkar ya sama temennya?" senyum Mang Jajang


" Noh temen Mamang noh yang kurang ajar" sahutku sewot. Aku ceritakan semua ke Mang Jajang apa yang dilakuin Kang Pendi ke aku.


" Dia naksir kali neng..." tebak Mang Jajang


" Ya kalo naksir nggak gitu dong caranya, saya malah ngerasa dilecehkan Kang Pendi" semburku


" Lhahhh kok segitu dalemnya Neng punya pikiran. Sudah ntar Mamang kasih tahu si Pendi-nya biar minta maaf sama Lu" kata Mang Jajang menghiburku dan menepuk pundakku.


" Makan yuk ke Pak Kirsan, dia tadi buat sambel bawang. Katanya pesenan si Lestari. Kita duluin yok" ajaknya

__ADS_1


__ADS_2