
Mumpung masih cuti, aku manfaatin hari ini buat olah raga dan setelah itu rencananya mau bersih bersih kamar sekalian mau pindah pindah barang supaya ganti suasana
Sehabis Subuh aku sudah siap dengan baju joggingku, sudah lama aku tinggalkan salah satu hobyku ini. Untuk pemanasan aku mengitari komplek perumahan dulu dan tujuanku ke arah atas dekat dengan rumah gubernur ada taman yang nyaman untuk berolah raga.
Selain itu kalau pagi banyak pedagang makanan, itu sebenarnya tujuanku he he ..
Aku sudah sampai taman, biasanya enteng saja lari lari kecil dari rumah sampai taman. Tapi kali ini rasanyaaa beraaatt banget. Sambil tetap gerak badan aku istirahat sejenak sebelum melanjutkan joggingku mengitari taman.
Drrttt ... drrttt... drrttt...
ponsel di kantong belakangku bergetar, siapa nih pagi pagi telepon. Home? duh da pa nih orang rumah telepon.
"Ya halo?"
"Din, kamu dimana?" tanya Mami
"Napa Mi? aku di taman gubernur"
"O, ya dah di situ aja dulu. Ada yang mau jemput"
Tuuttt ... telepon putus sepihak
Paling Papi mau ngikut jogging, waktu aku keluar rumah beliau sedang shalat. Kesiangan kata Mami.
Aku melanjutkan joggingku mengitari taman. Lumayan dapat dua putaran, target empat putaran terus pulang ah kalau Papi belum nyampe juga, pikirku.
Di putaran ke tiga aku merasa diikuti seseorang menggunakan motor. Aku menoleh dan kulihat pemotor itu melambaikan tangannya. Aku berhenti ternyata Koh Tony.
"Hai" sapanya
"Hai Koh, ada apa nih pagi pagi?" balasku berusaha biasa saja.
__ADS_1
"Nggak pa pa. Kangen aja"
"Jangan gitu ah ... Kasihan nyonya kalau denger Koh Tony" aku sedikit nggak suka dengan sikapnya.
"Yuk duduk di situ" dia memarkirkan motornya di pinggir taman dan menyusulku duduk di kursi taman.
"Gimana kabarnya?" Koh Tony membuka percakapan
"Baek Koh"
"Habis darimana aja?"
"Dari rumah terus kiter kiter sini aja"
"Nggak kemaren itu lho"
"Oh, jalan jalan"
"Capek Koh kerja terus, emang dikirain ngapain? kawin?" sindirku
"Kok nggak ajak ajak kalau mau jalan jalan"
"Takut ganggu yang lagi hanimun" sahutku asal
"MMM Yang, aku masih boleh dolan bareng kan?"
"Koh, panggil nama aja Rian boleh Dini juga boleh. Aku risih Koh" aku mengajukan keberatanku
"Aku mau cerita, mau dengerin nggak?" tanyanya serius
"Tapi jangan panjang panjang ya aku mau berbenah kamar"
__ADS_1
"Aku kan punya guru ngaji, yang kebetulan punya anak perempuan tapi waktu itu masih di bawah umur baru 18 tahun. Sama guru ku aku dijodohkan dengan anaknya tapi nikahnya ntar kalau sudah umur 20 tahun. Aku setuju karena dengan menikah dengan anak guruku pengetahuan agama dan keimananku aka. semakin baik. Istilahnya aku nunut suwargo padanya. Nha awal tahun kemaren dia sudah 20 tahun jadi aku menepati janjiku berjodoh dengan dia. Makanya hari Sabtu itu aku menikahinya. Dan aku juga sudah cerita tentang Kamu sama dia" bebernya panjang lebar.
"Apa yang kamu ceritain ke dia?" tanyaku penasaran
"Aku punya temen Deket yang sangat aku sayang di Semarang" jawabnya
"Reaksinya?"
"Dia cuma jawab ya nggak pa pa kan cuma temen" duh asli jawaban yang bikin mencelos hati
"Oh, gitu. Sori Koh aku cuma mau meluruskan omonganmu tadi. Kalau kamu hanya nunut suwargo sama dia. Bukannya kebalik? kalau surganya seorang istri itu ada pada suaminya, sedang surganya suami ada pada Ibunya"
"Oh, gitu"
"Iya, eh sudah ya Koh sudah siang. Apa Kamu nggak berangkat luar kota?"
"Aku nggak bisa berangkat kalau belum ketemu kamu"
"Lah ini sudah ketemu, sudah ya" aku ingin segera menyudahi percakapan ini.
"Yang, kita masih kayak kemarin kemarin kan?" matanya penuh permohonan
"Koh, kamu sudah punya istri tolong tenggang perasaan istri kamu. Aku juga perempuan pasti punya perasaan yang sama. Nggak suka dan nggak rela kalau suaminya deket dengan perempuan laen. Sori Koh aku nggak mau kita kayak kemarin kemarin. Kita temenan biasa aja. Panggil aku kayak kamu panggil temen yang lain" aku keluarkan uneg unegku
"Tapi Yang, aku ... aku sayang kamu" dhegg ... pernyataan itu semakin menabur perih di hatiku. Ibarat luka yang dikasih air jeruk nipis.
"Sori Koh aku nggak bisa terima rasa sayangmu. Permisi Koh aku pulang dulu" aku bangkit hendak melangkah ketika tanganku diraihnya.
"Yang, please jangan kayak gini"
"Harus Koh, kasihan Nyonyamu. Tolong hargai perempuan. Kamu punya Ibu punya saudara perempuan juga gimana perasaanmu kalau mereka ada di posisi ku atau istrimu?"
__ADS_1
Segera aku tinggalkan Koh Tony, dengan berpura pura melanjutkan joggingku tapi dengan air mata yang mengalir deras.