
Kledung Pass Resto tempat Kami makan siang. Siang itu agak sepi karena belum jam makan siang, karena tadi Kami berangkat agak lebih awal dan jalanan lancar.
" Di sini yang enak sop buntutnya, kamu dah pernah ke sini?" tanya Mas macho
Aku menggeleng sambil tersenyum.
" Belum Mas, aku nggak pernah pergi ke mana mana. Di rumaaahhhh aja, kalo luar kota paling ke Yogya itu juga sama keluarga"
" Aku anak rumahan Mas, anak Mami tepatnya" jawabku.
" Oohh, Kamu cobain deh sop buntutnya" kata mas macho sambil manggut manggut.
" Iya"
Untuk Nasi dan beberapa lauk sistemnya prasmanan alias ambil sendiri, sedang untuk item tertentu berdasar order kayak sop buntut atau bakso.
Ambil nasi dan tumis daun pepaya plus tempe goreng.
" Mbak, sop buntut 1 ya" orderku sama mbak pelayan.
Mas macho makan nasi gudeg plus bakso.
Setelah mendapatkan makanan kami antri di kasir.
" Hitung berdua sekalian ini ya Mas" Mas macho nunjuk nampan makananku sama Mas kasir ( ya ... kasirnya cowok )
" Mas Prast, aku bayar sendiri aja kan makan nggak ditanggung perusahaan" kataku.
__ADS_1
"Ih, kamu tu ya... mbok jaga gengsiku dikit napa? moso bawa cewek makan suruh bayar sendiri" jawab Mas macho berlalu dengan bawa nampan makannya. Kami makan dengan tenang tidak ada percakapan diantara kami. Sesekali aku liat Mas macho sedang memperhatikan aku. Dan aku akan semakin menunduk kalau kami kebetulan bersitatap.
Saat aku nyendok sop-ku dan mencicipinya mmmmm..... sedap pol, nggak sadar mataku sampe merem melek h h h.
" Kita join ya Non sop buntutnya" tanpa permisi Mas macho nyendok sop-ku dipindahkan ke piringnya sebagian.
" Lhah kan dah kena bekas mulutku Mas"
" Nggak pa pa, malah tambah gurih" jawabnya cuek. Aku tertawa mendengarnya.
Selesai makan Kami keluar resto hawa dingin pegunungan Dieng menyapa kami.
"Brrrrr, dingin" kataku sambil menggosok gosok tanganku.
" Dingin ya? Kita duduk dulu yuk di sana nunggu nasinya melorot" mas macho senyum meraih tanganku dan menggenggamnya erat. Pipiku memerah seketika, tapi bibirku senyum malu malu.
Kami masih saling diam menikmati kebersamaan kami, bikin syahdu di hati. Aku yang biasanya nggak bisa diam kali ini dibikin bisu sama Mas macho cuma karena digenggam aja. hiks ... senang maksudnya 😄
" Mmm ... Mas ... Aku mo ke toilet bentar ya" sebenarnya aku masih pengen gini terus cuma dah nggak tahan mo pipis.
Mas macho memandangku sejenak dan menganggukan kepala, melepas genggamannya dengan enggan.
" Bentar ya Mas " aku langsung ngacir ke toilet takut keburu ngompol.
Selesai menunaikan hajat aku kembali ke gazebo.
" Mbak .. Mbak... " suara seorang laki laki memanggil. Aku menoleh melihat siapa yang dipanggilnya. Tidak ada orang selain aku di sini.
__ADS_1
" Saya Mas?" tanyaku sambil menunjuk dadaku.
" Iya " dia menganggukkan kepala.
" Napa Mas?" tanyaku lagi.
" Mbak tahu alamat ini nggak" katanya sambil membuka lipatan kertas kecil. Dia memegang kertas itu sedemikian rupa sehingga kalau aku mau lihat harus berdekatan dengan dia. Perasaan ni orang cari cari masalah deh, batinku.
" Wah maaf Mas, Saya nggak tau" aku melangkah menjauh. Belum sempat meangkah lebih jauh tanganku ditariknya dan dia berusaha menjangkau dada dan menciumku. Reflek aku langsung berteriak
" Heh, apa apaan sih ini". Aku peluntir tangannya seperti yang diajarkan di dojang-ku dulu. Ternyata dia bisa mengelak dari peluntiranku dan masih berusaha menyentuhku.
Bugh ... brakk....
Mas macho tiba tiba sudah memukul dan mencengkeram leher laki laki itu kemudian mendorongnya sampai terjatuh menimpa tong sampah. Mas macho maju merangsek ke laki laki itu tapi aku pegang lengannya.
" Mas Prast, sudah" kataku. Kupeluk lengan kekar Mas macho. Kutarik lengannya menjauhi laki laki itu.
" Kita lanjutin jalan Mas" kataku lagi
" Kamu nggak pa pa kan Non?" tanyanya sambil pegang pundakku dan meneliti badanku dari atas ke bawah. Hiii .... merinding ... bulu bulu halus di badanku berdiri semua diperhatiin cowok macho yang entah karena apa hari ini tidak melambai.
" Nggak Mas, masih utuh kok" kataku sambil nyengir.
" Huufftt " Mas macho menghela nafas lega.
Setelah meredakan emosi, kami melanjutkan perjalanan. Kami diam satu sama lain dengan pikiran kami masing masing. Lama lama mataku nggak kuat melek dan aku tertidur di sisa perjalanan itu.
__ADS_1