Cinta Lama Dini

Cinta Lama Dini
LAMARAN2


__ADS_3

Kurebahkan badanku dikasur, kulihat langit langit kamar, aku harus gimana?? di satu sisi masih ada rasaku untuknya tapi di sisi lain aku masih menyimpan luka itu.


Tak sengaja kakiku menyentuh bungkusan di ujung tempat tidur. Ahh bungkusan darinya, berisi baju. Dia berharap aku mau memakainya, penasaran aku buka bungkusan itu. Seperti apa sih seleranya. Sebuah baju terusan berwarna kuning warna favoritku, entah karena kebetulan atau memang dia tahu. Seingatku aku selalu bilang Ijoo jika ditanya oleh siapapun apa warna favoritku. Baju berpotongan sederhana yang manis dengan hiasan korsase mawar kuning berputik orange yang juga merupakan bunga kesukaanku.


Iseng aku coba dan ternyata baju itu sangat pas di badanku. Di depan kaca aku melihat pantulan sepertinya baju itu khusus dibuat hanya untukku. Sejenak aku merasa tersanjung, tapi mengingat perlakuannya padaku rasa sakitku timbul lagi.


Okelah akan aku pakai baju ini, aku sayang untuk melepasnya.


"Diinnn ayo segera bersiap sebentar lagi tamu nya akan datang lho" teriak Mami dari luar kamar.


"Iyaaa" balasku. Biasanya Papi akan komen, kaya di hutan aja pada teriak teriak kaya Tarzan.


Aku segera mandi dan hanya berbedak tipis dan sedikit lipstick warna peach di bibirku. Aku tidak suka berdandan meskipun aku bisa berdandan. Kusisir rambutku dan sedikit kucepol ke atas, biasanya hanya aku gerai saja. Baru saja aku selesai berdandan Mami sudah mengetuk pintu kamarku.


"Din tamunya sudah datang" bisiknya dan balik pintu


"Iya Mi" sahutku berbisik pula.

__ADS_1


Aku lihat sekali lagi pantulan seluruh dandananku di kaca. Lumayanlah, gumamku seraya keluar kamar.


Sampai di ruang tamu yang sudah disulap Mami sedemikian rupa sehingga muat untuk menerima tamu. Aku lihat dia diantara dua orang tua dan beberapa laki laki dan perempuan yang kemungkinan adalah saudara saudaranya karena wajahnya mirip.


"Lhaaa ini kenalkan putri Saya Riandini, Kami memanggilnya Dini kalau dikantornya orang nggak tahu nama Dini tahunya Rian" Kelakar Papi saat memperkenalkan aku pada anggota keluarganya.


Aku hanya menangkupkan tanganku kepada semuanya. Dan dia memandangku dengan tatapan yang sulit aku artikan.


"Nak Dini dan Bapak Ibu, giliran Saya mengenalkan satu persatu personil yang Kami bawa" Bapak yang ads disampingnya angkat bicara.


"Saya pamannya Tony dari pihak Mamanya mewakili Papanya Tony yang sudah berpulang. Dan ini Mamanya Tony" Aku maju menyalami dan mencium punggung tangan Om dan Mamanya.


"Wahh bajunya pas ya, Bersyukur bisa cocok dan cantik kamu pakai. Itu bikin sendiri lho" ujar seorang perempuan mungkin kakaknya.


"Oh ya? Cici penjahit to?" tanyaku


"Iya, Tony cuma ngasih ciri ciri dan ukuran kira kira saja lho. Wah beruntung banget bisa pas" ujarnya gembira

__ADS_1


"Terimakasih lho Ci kalau sudah merepotkan" kataku tulus


"Oh Ndak Ndak pa pa malah seneng Saya kalau bisa dipakai" Selama perkenalan berlangsung aku sama sekali tidak menghiraukannya, meskipun di ujung sana dia selalu memperhatikan aku


"Nak Dini, Mamanya Tony ada sedikit permintaan pada Nak Dini. Mohon Nak Dini mau mendengarkan. Tidak usah langsung ditanggapi, Nak Dini mau mendengarkan saja Kami sudah berterimakasih" tiba tiba suasana jadi hening saat pamannya bicara.


"Panggil Dini saja Om Tante" kataku.


"Baik kalau maunya Dini begitu. Mama mewakili Tony anak Mama, Mama mohon maaf sebesar-besarnya kalau Tony pernah menyakiti Dini. Dan seperti yang pernah Tony bilang Mama mohon beri kesempatan dia untuk memperbaiki kesalahannya" aku sudah mengeluarkan bulir bulir air mataku saat dia diikuti oleh Mamanya merosot dari tempat duduk berusaha bersimpuh di hadapan Kami semua. Kami kaget tidak menyangka akan sebegitunya. Rasaku jadi tidak karuan kalimat penolakan yang sudah di ujung lidahku kembali tertelan dengan kejadian itu. Rasa sakit, gemes, ada sedikit dendam padanya atas perlakuannya padaku dan yang lebih berasa adalah rasa bersalah karena membuat seorang Mama memohonkan maaf untuk anaknya.


Akhirnya dengan sedikit terbata bata aku mengungkapkan rasaku.


"Sebelumnya Dini mohon maaf pada semuanya yang ada di sini terutama pada Mama, Dini mohon maaf sebesar-besarnya karena sudah membuat Mama merendahkan diri untuk memintakan maaf untuk Koh Tony. Saya sudah memaafkan Koh Tony jauh sebelum ini terjadi. Tetapi hanya untuk Mama juga Saya mencoba memberikan kesempatan untuk Koh Tony membuka lembaran baru bersama Saya. Cuma Saya mohon dimaklumi kalau besok besok ada sikap Saya yang kurang berkenan, karena jujur masih ada rasa sakit di sini" jelasku. Kupegang dadaku ada rasa nyeri di sana tapi juga kelegaan sudah mengatakan perasaanku.


"Ton, Dini sudah maafin Kamu sudah kasih Kamu kesempatan buat kamu. Jangan sia sia kan" wejang Om-nya yang kemudian aku tahu namanya Om Gunawan.


Dia hanya manggut-manggut dengan mata berkaca-kaca memandangku seraya menangkupkan tangan.

__ADS_1


"Lhaa terus kesempatan itu mau Kamu gunakan buat jadi apanya Dini? teman, pacar, apa misua?" tanya Papi sambil terkekeh


"Inshaa Allah Saya ingin hidup bersama dengan Dini seterusnya Pi" dia mendekatiku memegang tanganku dan menggenggamnya. Aku lihat kesungguhan di matanya.


__ADS_2