
Sesuatu yang hangat terasa di pipi-ku dengan agak malas kubuka mata.
Glodhiiaakkk ... jantungku loncat ke tenggorokan tapi nggak sampe nyangkut sih . Wajah ganteng yang semalam bikin aku susah tidur ada di depan mata. Dia bersimpuh dekat kepalaku dengan sebelah tangan menangkup pipiku, senyum lembut terpampang indah di lengkung bibir yang macho itu.
"Hai.. Selamat pagi" bisiknya lembut mungkin hanya aku yang dengar karena yang lain masih pada molor, ini kan hari Minggu jadi mereka pada santuy bangunnya.
Aku maluuu sekali, muka masih berupa kilang minyak, sudut bibir (mungkin) ada taring bekas ileran, mata (mungkin juga) masih berbelek, rambut acak acakan, pokoknya serba berantakan dan nggak enak dilihat dan di bau. Kututup muka pakai bantal sambil senyum maluuuuu banget. Mata yang tadinya males melek jadi terbuka lebar.
"Pagi Mas, tolong minggir dulu aku mau ke kamar mandi. Aku malu Mas" cuitku dibalik bantal.
__ADS_1
"Kenapa malu, kecantikan cewek yang paling paripurna itu pas bangun tidur gini" pinter juga ngrayunya.
"Gombal!" cepat ku berdiri, kulempar bantalku ke pangkuannya dan kabur ke kamar mandi. Dan di sudut mata aku menangkap seseorang memperhatikan apa yang terjadi. Memang kamar kami nggak pernah dikunci cuma pintu ditutup saja sehingga penghuni kamar bebas keluar masuk tanpa mengganggu yang lain dengan bunyi ceklak ceklek kunci pintu.
Selesai mandi aku segera kembali ke kamar saat aku intip dari dalam kamar mandi Mas macho lagi merokok membelakangiku di halaman dekat sumur. Kupakai kaos pink lengan panjang dan celana panjang putih berbahan kaos dan rambut aku kuncir kuda serta sneakers bulukku.
"Ayo Mas, jalan jalan kemana sih?" aku menghampirinya.
"Nggak sayang sama paru paru-mu ya Mas" celetukku
__ADS_1
"Aku malas kalau ada orang merokok, asapnya kemana mana, aku jadi sesak napas" lanjutku.
Tanpa menanggapi perkataanku dia meraih tanganku dan mengajakku berjalan keluar kost-an. Belum jauh kami berjalan ada seseorang berseru.
"Mas Prast aku ikut" kulihat Widi sudah siap dengan baju olah raga seksi-nya. Hotpants super pendek hitam dan kaos gantung putih ketat. Karena warnanya yang putih jadi jelas kelihatan kalau dibawahnya Widi tidak memakai bra. Aku sampe terlongong lihat pemandangan itu.
"Kamu mau kemana? kenapa nggak telanjang aja sekalian" ketus sekali tanggapan Mas Prast dengan memalingkan muka.
"Iiihhh kok malah suruh telanjang sih? jangan di sini dong kalau mau lihat aku telanjang" genit dan manja suara Widi disertai kerling nakal. Whaaduhh?? berani sekali nih anak kayaknya seperti bukan Widi yang aku kenal pendiam dan suka menarik diri.
__ADS_1
Tanpa memperdulikan Widi, Mas Prast menarikku berjalan keluar halaman kost. Widi menghentakkan kaki mengikuti kami. Setengah berlari aku mengikuti langkah panjang Mas Prast. Begitupun Widi setengah berlari mengikuti kami sambil mengerucutkan bibir. Orang orang yang kebetulan berpapasan dengan Widi menatapnya dengan pandangan melecehkan, karena mereka tidak terbisasa dengan penampilan vulgar Widi. Begitu ada kesempatan angkot lewat kami langsung menaikinya tanpa tahu tujuan dari angkot tersebut meninggalkan Widi yang melihat kami dengan pandangan marah. Kami terdiam beberapa saat, ketika pandangan kami bertemu tanpa sadar kami terkikik geli. Maafin kami ya Wid ...
Kami berjalan jalan sesuka kami, menjajal makanan yang banyak dijajakan di pinggir jalan. Minggu pagi banyak orang seperti kami yang menikmati libur.