
Dengan selesainya pelatihan itu aku diserahi tugas oleh Pak Bos untuk berhubungan secara langsung dengan supplier tersebut. Artinya aku akan sering berhubungan dengan Pak Andre dan itu membuat panas hati Mbak Tini.
Lah biarin bukan aku yang ambisi tapi Bos yang perintah.
Dengan berjalannya waktu meskipun ada ganjalan dari Mbak Tini, aku bisa menyelesaikan tugas dengan baik.
Dan Koh Tony yang semakin tidak aku mengerti arah tujuannya mendekati, memberi perhatian yang lebih padaku cuma tidak ada kata kata yang jelas karena hampir tiap Minggu aku jalan dengannya entah makan atau pergi ke suatu tempat. Cuma tidak pernah hanya berdua selalu rame rame bersama teman salesman dan admin lain Sampai suatu saat,
"Yan, besok jalan yok" ajak Mbak Wati
Kemana aku pergi selalu ada Mbak Wati, dia yang selalu ngajak aku.
"Kemana Mbak?"
"Jogja, sama HD"
"Samperin to, motorku lagi rusak"
"Lhah emange biasanya nggak disamperin?" melotot dia hi hi hi
"Iya, cuma menegaskan aja" ngelesku
"Siyap jam enam pagi ya"
"Woke"
\=\=≠\=\=\=\=\=\=\=\=
Hari Minggu jam setengah enam pagi aku sudah siap, minum susu sarapan roti, bawaan juga sudah siap. Tas punggung kecil, jaket, topi, air minum, permen, dan bekal roti dari Mami. Anak Mami pokoknya.
Tin ... tin .... tinn...
suara klakson mobil dari halaman, aku segera berpamitan sama Mami Papi yang lagi berolahraga di halaman samping.
"Mi, pamit dulu"
"Ya ati ati salam buat temanmu"
"Pi, pamit ke Jogja dulu"
"Ya, ati ati. Bilang Tony, Papi titip anak Papi"
Dih si Papi pede, emang Koh Tony ikut? aku membatin
"Ya Piii"
__ADS_1
Aku cium punggung tangan kedua orangtuaku dan segera keluar.
Sampai depan pintu,
"Hai!" sapa Koh Tony
"Hai juga, loh ikut to Koh?"
"Iya, mana Papi Mami?"
"Di samping lagi olga"
"Tak pamitan dulu ya?"
aku belum menjawab dia sudah nyelonong aja ke samping.
"Selamat pagi Pi .. Mi"
"Hei, selamat pagi" antusias si Papi jawabnya. Sambil bersalaman dan mencium punggung tangan Mami Papi
"Pi, Mi, pamit mau ajak Dini ke Jogja"
"Ya hati hati, jagain Dini ya" pesan Papi
"Ya hati hati" si Papi Mami pada koor deh
Di Mobil ternyata sudah ada HD alias Rudy, ada HS alias Sun Sun dan pacarnya, juga Mbak Wati.
Rudy yang jadi sopir didampingi dengan Sun Sun di depan, kursi tengah di isi cewek cewek; aku, Mbak Wati, dan pacar Sun Sun, di kursi belakang Koh Tony duduk sendirian. Pengawal katanya.
Di perjalanan Kami mampir sarapan di rumah makan yang ada arena Go Kart di daerah Magelang, seperti sudah aku duga sebelumnya kalau Kami akan berpasang pasangan. Sun Sun dengan pacarnya, Mbak Wati dengan Rudy, dan aku dengan Koh Tony. Setelah sarapan Kami akan bermain Go-Kart.
"Rud, aku sama kamu aja deh. Mbak Wati biar sama HT" rengekku
"Yan, pleasee banget ni aku lagi pedekate sama Wati. Lu sama HT aja, aman aman nggak bakalan ada gosip"
"Gue males Rud dinyinyirin orang"
"Nggak usah dimasukin hati Yan, cuekin aja. Ntar juga diem sendiri"
Terpaksa aku main Go-Kart sama Koh Tony.
"Koh bawa go-kartnya pelan aja ya"
"Siyapp tuan Puteri"
__ADS_1
Tapi karena para cowok kalau sudah pegang setir mana bisa nggak ngebut. Mereka bersaing balapan, kita yang perempuan cuma bisa teriak teriak. Dan yang aku khawatirkan terjadi, karena bersaing dengan Rudy, Koh Tony berusaha mendahului pas di tikungan tanpa mengurangi kecepatan.
Dhuelll .... karena ingin menyalip dari sisi dalam otomatis Go-Kart Kami mepet dengan pembatas yang berupa ban ban bekas dan ban kanan menerjang pembatas tersebut. Go-Kart Kami sampai hampir terbalik, aku hanya mampu menutup muka dan memejamkan mata. Beruntung Kami memakai baju khusus dan helm serta seat belt yang baik.
"Yang, Kamu ada yang.sakit atau luka?" tanya Koh Tony yang langsung memeluk dan melindungi kepalaku meskipun aku sudah pakai helm. Aku yang masih syok hanya bisa diam.
"Tolong ambilin minum" teriak Koh Tony sama petugas yang menghampiri Kami.
"Ini minum dulu" dilepasnya helm fullface-ku dan tanpa melepas pelukannya diminumkan air itu padaku.
Rudy menghampiri Kami setelah menenangkan Mbak Wati.
"Te, wah nggak well Kamu" tegur Rudy sambil meninju pelan lengan Koh Tony.
"Ya sori sori" sesal Koh Tony
"Yuk Yang keluar dulu. Kita istirahat" Koh Tony menuntun setengah memapahku yang masih syok.
"Yan, minum ini, Ha Te payah! wong dolanan kok kayak beneran" gerutu Mbak Wati
"Te, Kamu dititipi anak orang lho, sing genah" Sun sun ikut ngomong.
"Iya iya sori banget nggak bermaksud jelek tadi cuma pengen pamer sama Dini" koh Tony membela diri.
"Sudah nggak pa pa. Aku cuma kaget, maaf ya ngrepotin" ujarku
"Sing ngrepotke tu ya Ha Te"sengit si Rudy.
"Sori Rud, maaf" Koh Tony pasang wajah memelas.
"Sudah aku nggak pa pa Rud, Yuh kita lanjut" ajakku setelah aku merasa baikan.
"Kamu Okay Yang?" tanya Koh Tony kuatir
"Oke Koh, sehat" senyumku
"Bener Yan sudah baikan?" tanya Rudy
"Tenan Rud, ayo lanjut" sahutku semangat.
"Ya wes Yuh" ajak Sun Sun
"Dini dibelakang aja sama aku" kata Koh Tony. Nggak ada yang menjawab.
Tak dilepasnya genggaman tangannya padaku meski aku sudah berusaha melepas secara halus. Akhirnya aku duduk belakang bersamanya.
__ADS_1