
Semua prosesi pernikahan sudah Kami jalani, sekarang yang ada tinggal capeknya. Oh iya .. aku lupa cerita kalau Mas Prast, Pak Andre, dan Bli Radit juga teman teman kantorku dan Koh Tony, aku undang juga lho dipernikahanku.
Hanya Bli Radit yang tidak hadir tapi beliau sudah kasih ucapan melalui medsos.
Mas Prast datang dan terlihat bahagia dengan istrinya yang tengah hamil 6 bulan. Sementara Pak Andre datang sendiri tanpa istrinya.
"Lhoh Nyonya mana Bos" sapaku
"Nyonya dirumahlah, berat di ongkos neng" kelakarnya. Istri Pak Andre baru punya bayi umur 4 bulan dan belum berani dibawa pergi jauh.
Setelah para Tamu pulang Aku dan Koh Tony dibantu Ibu perias dan para asistennya melepas satu persatu atribut pengantin yang Kami kenakan di kamar hotel yang Kami sewa. Dan menghapus riasan Kami sambil sesekali menggoda Koh Tony.
"Om, belum boleh nutul Mbak Rian lho" kata salah satu asisten Ibu perias
"Kenapa Bu? kan sudah halal?" dia terkejut dan memandang ku dengan wajah penuh tanya, dan aku hanya tersenyum menanggapinya. Ya aku tadi cerita sama Ibu perias kalau di tanggal tanggal sekarang ini biasanya jatah mens-ku datang.
"Lhaa kalau belum keluar ya nggak pa pa to nutul wong sampe mblesep juga boleh kok" Ibu Perias berkata disusul gelak tawa yang lain
"Tapi kalau sudah rembes ya nggak boleh Mas Ton" lanjutnya
__ADS_1
"Harap sabarrr!" komen yang lain
"Wahh Mas Ton, jatah kecut ini" kelakar mereka yang tidak menghiraukan Koh Tony yang bingung dengan apa yang didengarnya dan aku yang malu mendengar kelakar saru mereka. Setelah selesai urusan melepas baju dan puas mengerjai Kami, para Ibu perias itu berpamitan.
"Wes Ibu pamit dulu, maturnuwun sudah mempercayakan riasan mantennya sama Kami. Mas Tony sama Mbak Rian sudah halal. Sing sabar saling ngemong, Mugi jadi keluarga sakinah" pesan dan doa Ibu perias
"Ntar malem pelan pelan wae lho Mas, agek pertama jeeee" dan merekapun cekikikan meninggalkan Kami. O, ya Kami menyewa sebuah hotel kecil yang asri agak di pinggir kota untuk acara resepsi Kami, Dan mendapatkan bonus menginap selama tiga hari yang Kami manfaatkan untuk malam pengantin biar nggak diganggu 😀
"Yang, kamu mens? kayak yang dibilang mereka tadi?" tanyanya takut takut
"Kalau iya kenapa? kalau nggak kenapa?" aku iseng menjahilinya.
"Ya nggak pa pa semuanya sihh.. cuma kalau Kamu mens cuti nikah tiga hari-ku percuma dong"
"Ya bIsa lah, kalau kamu mens trus aku ngerjain apa dong?" dan aku masih belum paham dengan jawabannya itu
"Oh gitu?"
Karena capek aku rebahan di kasur yang sudah dihias sedemikian rupa.
__ADS_1
"Mau sekarang Yang?" tanya Koh Tony
"Apanya yang sekarang? aku balik bertanya
"Itunya" malu malu tapi mau dia
"Ish mikir itu Mulu sih, bentar lagi makan malam lho" pipiku menghangat
"Kok nggak selesai selesai ya acaranya?"
"Ya Papi pengen lebih mendekatkan dua keluarga"
"Habis duit berapa ya Papi? aku jadi nggak enak"
"Sudah jadi niat Papi Koh dah biarin aja. Ntar aja kalau kita punya rejeki gantian kita yang ngajak Papi seneng seneng" aku jadi ikut melow.
Tok .... tok .... tok .....
"Permisi Pak, sudah ditunggu keluarga di resto bawah" seorang petugas hotel menyambangi kamar Kami
__ADS_1
"O, ya Mas terimakasih" Koh Tony yang membuka pintu
"Ayo Yang dah ditunggu lho" ajaknya lagi.