
Setelahnya hampir setiap hari Jumat dan Sabtu Koh Tony selalu ada di depan kantorku untuk menjemputku. Kalau aku membawa motor maka dia akan mengiringiku dibelakang motorku. Kalau aku tidak membawa motor dengan senang hati dia mengantarku sampai ke rumah dan selalu mampir sekedar ngobrol dengan Mami atau Papi, meskipun aku setelahnya tidak pernah ikut mengobrol bersama. Ataupun jika aku dijemput ojol dia akan setia mengikuti Kami untuk menjagaku. Dan dia selalu tahu apakah hari itu aku bawa motor atau tidak.
Lama lama aku risih juga dan tidak enak dengan teman temanku yang mengenal Koh Tony juga. Beruntung ada seorang teman yang bisa aku gali informasinya tentang Koh Tony dan istrinya. Sama dengan yang pernah diceritakan kepadaku mengenai kondisi rumah tangganya sekarang.
"Setahuku Dia sudah hampir satu tahun pisah sama istrinya" kata temanku yang bisa aku percaya. Dan aku juga minta pendapat Mami mengenai hal ini.
"Mi, Koh Tony pengen serius sama aku enaknya gimana ya?" tanyaku sama Mami
"Serius apa nih? pacaran, nikah, apa temenan?" tanya Mami
"Nggak tahu tuh. Dia cuma minta kesempatan kedua" jawabku
"Nhaa kalau gitu tergantung Kamunya. Mau kasih kesempatan jadi apa? pacar, suami, atau teman? harus jelas dong biar nggak kayak kemarin lagi" tandas Mami.
"Mmmm iya juga sih, kudu jelas biar nggak keulang lagi" gumamku
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Suatu ketika sesampai di rumah setelah menjemput aku pulang kerja. Mami mengajak duduk Koh Tony dan aku di teras belakang rumah. Di sana sudah ada Papi dengan kopi dan camilannya.
__ADS_1
"Sore Pi" sapa Koh Tony
"Ya sore juga Ton, apa kabar?" tanya Papi
"Alhamdulillah Pi, baik dan sehat" katanya
"Nak Tony, Mami mau tanya agak serius ke pribadi Kamu. Boleh?"
"Boleh Mi silahkan" jawabnya
"Maaf ni tujuan Nak Tony setiap kali menjemput atau mengantar Dini apa ya?" Mami to the point
"Ehm, sebenernya biar Saya diberi kesempatan lagi sama Dini Mi"
"Kesempatan buat bisa dekat lagi sama Dini Mi"
"Dekat sebagai apa nih? teman? pacar? atau calon suami?"
"Emmmm kalau diijinkan Mami sama Papi. Saya pengen dekat sebagai suami" katanya sambil menunduk
__ADS_1
"Lhah katanya Dini, nak Tony sudah menikah?" cecar Mami
"Betul Mi, Saya sudah menikah secara siri tapi sekarang sudah selesai Mi" semakin menunduk dia
"Maksudnya sudah selesai?" Mami sampai menyipitkan matanya.
"Kami sudah bercerai Mi" jawabnya sambil melihat Mami
"Betul sudah kamu talak istrimu? Saya tidak mau lho anak Saya dituduh pelakor"
"Inshaa Allah sudah Mi, Saya talak di hadapan dia, ayah, dan nenek nya" matanya beralih ke Papi seolah minta dukungan.
"Kalau kamu serius kapan orangtuamu akan kesini?" tanya Mami
Wushh aku kaget setengah mati, kok segitunya Mami. Kan belum tanya aku, mau kasih kesempatan dia lagi ata nggak maen selonong aja orangtuanya suruh datang.
"Tapi Mi ..." belum selesai aku bicara Papi memberi kode aku untuk diam.
"Inshaa Allah Sabtu Minggu depan Mi" jawabnya mantab
__ADS_1
"What!?" teriakku
"Kok gitu sih Mi, kan aku belum bilang setuju atau nggak? kok sudah maen suruh kesini aja orangtuanya?" protesku sambil menghentakkan kaki aku berlari ke kamarku. Aku menangis tapi entah apa yang aku tangisi. Sakit hatiku yang dulu terasa nyeri lagi aku merasa jadi orang yang terkasihani. Ibarat kertas aku sudah diremas remas dan dibuang kemudian dipungut kembali dan dirapikan. Meskipun mungkin bisa rapi kembali tapi guratan bekas remasan akan tetap ada.