Cinta Lama Dini

Cinta Lama Dini
I LOVE YOU


__ADS_3

"Mas sarapan lontong opor itu yuk kelihatannya enak" tunjukku ke arah penjual lontong opor di depan kantor telkom itu. Pembeli duduk di trotoar lesehan, atau di bangku bangku pendek yang disebut dingklik. Beberapa pembeli mengerumuni seorang Bapak setengah baya bertopi kupluk putih.


"Belum kenyang makan jajanan tadi?" tanya Mas Prast


"Belum" sahutku pendek mataku tak lepas dari penjual lontong opor itu.


"Kelihatan dari mana kalau itu enak?"


"Noh tuh liat yang jajan aja sampe berjajar menuhin trotoar belum tuhh yang lagi antri. Yuk ah" Nggak sabar aku langsung masuk ke antrian tanpa menunggu persetujuan Mas Prast.


Setelah dapat yang kami pesan, lontong opor kumplit yang terdiri dari tujuh potong lontong, ayam suwir yang diatasnya ditaburi bubuk kedelai dan santan kental, ditambah sedikit sayur lodeh keluwih dan kuah santan encer. Hmmmm aromanyaaa .... Hayooo pada ngeces kann?? 😊


oh ya ... buah keluwih itu sejenis kayak sukun tapi daging buahnya agak liat.


"Non cobain deh ini enak" sesendok lontong kuah bertabut bawang goreng disodorkan Mas Prast ke mulutku. Mau tak mau aku membuka mulut disuapi Mas Prast karena beberapa pasang mata sedang melihat kami.


"Iya enak disuapin" sahutku cuek menahan malu.


"Gantian dong aku disuapin" pinta Mas Prast


"Ogah ah, ntar sendokku bau rokok" aku memang anti sama orang merokok.


Mas Prast kaget dengan keterusteranganku.


"Iya deh aku usahain berhenti merokok" jawabnya kalem


"Waaaa berhentinya jangan karena aku dong Mas, tapi niat dari sini" tunjukku ke dada-ku.

__ADS_1


"Mana mana asalnya niat" matanya melihat jari telunjukku yang tadi aku pakai menunjukin dada.


"Sini nih" dengan polosnya aku tunjuk lagi dadaku.


"Oooo dari sit ..."


"" Hehh awas ya tangan " tepisku kala Mas Prast mau ikut ikutan nunjuk dada-ku


"Ha ... Ha ... Ha..." gelaknya


"Yuk ah, makan keburu dingin ntar nggak enak" ajaknya Kami menikmati lontong opor tanpa memperdulikan orang orang di sekitar kami karena saking enaknya. Wajar kalau yang beli berjubel, enak gini.


Kami makan sambil bercerita segala macam, eh bukan kami ding 😀. Aku yang banyak bercerita sedangkan Mas Prast sesekali menimpali ataupun menanyakan sesuatu. Setelah habis makan sepiring lontong opor dan segelas teh Mas Prast merogoh saku.


"Hayooo mau merokok ya???" tebakku. Mas Prast tersenyum kecut.


Cup ..


Satu ciuman di pipi membuatku terdiam, aku melirik kiri kanan sudah sepi. Cuma ada satu pasangan di ujung tikar yang lagi mesra mesraan juga. Mataku tertumbuk pada Bapak penjual yang tersenyum tipis sambil membuang muka. Aku tertunduk malu.


Tanganku terasa hangat, ada seseorang menggenggamnya. Mas Prast. Aku semakin menunduk dan dag dig dug Lenganku juga terasa hangat karena ada yang memeluk. Ya ... Mas Prast. Dia merapatkan pelukannya, aku bisa merasakan hembusan nafasnya yang bau kuah opor di telingaku.


"Non, I L O V E. You" bisiknya. Whaduhhhh aku terlonjak kaget dipelukannya.


"Aku pengen kamu jadi masa depanku" bisiknya lagi sambil mempermainkan jariku. Aku cuma bisa diam ini pertama kalinya aku ditembak cowok. Aku sibuk mengendalikan jantungku yang lonjak lonjak, duhh kok nggak mau anteng sih.


"Diterima atau ditolak pernyataanku barusan?" tanyanya lagi. Aku sedikit membalaz genggaman tangannya.

__ADS_1


"Alhamdulillah, trims ya Non" katanya.


"Terimakasih atas apa nih" tiba tiba aku ingin mengodanya, kujauhkan badanku dari pelukannya.


"Lha ini tadi kamu meremas tanganku" melongo dia 😊 dengan muka sedikit memerah.


"Iyya tanganku gerah tau digenggam terus"


"Oh" kecewa dia ... kasihan juga liat wajah macho yang kecewa.


"Terus jawabannya?" tanyanya lagi belum menyerah dia.


"Lah kan sudah aku jawab tadi"


"Kapan?"


"Tadiii, dah ah yuk pulang. Sudah siang" ajakku. Dengan wajah kecewa dia beranjak membayar makanan dan kami pun pulang tanpa ada obrolan sepanjang jalan.


Sesampai di kost-an sudah hampir jam sebelas siang. Setelah berbasa basi dengan anak anak team Maa Prast pamit ke hotel sekalian langsung pulang ke Semarang dengan travel jam satu nanti.


"Non, aku pamit dulu jaga diri baek baek" kami bersalaman dan dikecupnya keningku di depan semua orang yang ada di situ.


"Terimakasih Mas sudah menjadikan aku masa depan Mas" bisikku lirih dengan senyum malu malu.


"Eh, iya ya" gugup dia .. seketika tersenyum lebar dia dan meremas pundakku pelan.


"Thanks"

__ADS_1


__ADS_2