Cinta Lama Dini

Cinta Lama Dini
MELARIKAN PERASAAN3


__ADS_3

Aku berangkat pakai bis ekonomi ke Surabaya dari Stasiun Terboyo Semarang Kamis malam sepulang kerja. Lepas Isya aku diantar Papi ke stasiun.


"Hati hati, kalau sudah sampai kabari rumah ya" pesan Papi


"Siyap Bos" aku berhormat kayak pak tentara hi hi hi


"Habis mbolang harus lebih percaya diri menghadapi hidup, Okay!??" Hu hu hu ... Papi emang the best dah


Aku peluk Papi tersayangku, ditepuknya pelan punggungku.


"Hati hati, Papi tunggu di rumah Senin malam"


Dan aku menaiki bis yang sudah hampir penuh. Aku duduk di dekat jendela biar dapat dadah sama Papi.


Jam delapan bis berangkat dengan muatan penuh, aku dadah dadah dengan Papi. Tak terasa aku menangis lagi, entah apa yang aku tangisi aku tidak tahu.


"Baru pertama pergi sendiri Dek?" tanya Bapak disebelahku.


"Iya Pak"


"Turun mana?" tanyanya lagi


"Bungurasih Pak"


"Owh, sama kalau gitu. Saya juga turun sana" aku hanya mengangguk.


Tak berapa lama Pak kernet menarik karcis.


"Turun mana Mbak?"


"Bungurasih Pak"


"Lima Puluh Lima"


Aku serahkan uangku dan diberi kembalian Lima ribu rupiah.


Dan kemudian aku tenggelam dalam pikiranku sendiri. Sampai tanpa aku sadari tertidur dengan memeluk tas-ku. Sampai di Jombang aku terbangun, sudah hampir sampai nih. Lama juga aku tidurnya, Bapak disebelahku masih terbang ke alam mimpi. Tak berapa lama aku sampai di stasiun Surabaya Bungurasih.


Masih terlalu pagi untuk bertamu meskipun aku sudah mengabari kalau aku mau datang. Masih jam setengah empat pagi, aku ke toilet dulu. Dan toiletnya bersihh sekali bagus, kesan toilet umum stasiun yang kotor dan jorok nggak ada. Selesai urusan toilet sambil menunggu Subuh aku ke Masjid stasiun dulu. Selesai shalat Subuh dan ikut ndarus sebentar kala matahari sudah mulai nampak aku keluar masjid mencari sarapan dulu di sekitar stasiun. Belum sampai sarapanku selesai, seseorang menyapaku.


"Din, lha kon kok sarapan dhisik Ki piye Tah? tak goleki Ket mau"


( Din, kok sarapan duluan tu gimana? aku mencarimu sedari tadi )

__ADS_1


Jindul tiba tiba sudah duduk di sebelahku. Dia memang anak stasiun, suka bantu parkir bis bis dengan imbalan sejumlah uang. Dia lebih muda dua tahun dariku.


"Hehh piye kabare? wes ayo sarapan bareng" aku jabat tangannya khas Kami.


"Wes disediake Mak e Yo" jawabnya


"Nggak pa pa, masakane Mak e nggo siang wae. Wes ayo meh malem opo" balasku


Kami sarapan sambil bercerita apa saja yang Kami alami selama tidak ketemu terutama tentang aktivitas naik gunung.


"Mau ke rumah dulu apa ke Iwonk sama Nopek dulu?" tanya Jindul


"Ke rumah dulu lah, aku kangen Mak e" jawabku


Sampai di rumah Jindul, si Mak sudah menyambut di depan pintu.


"Waaahh wong ayu Seko Jawa Tengah lagi Katon" sambut Mak e


(Wah si cantik dari Jawa Tengah baru kelihatan)


"Iyo Mak, Saiki wes kerjo nek meh dolan dolan angel Mak"


Kami berpelukan kangen kangenan, ngobrol saling menanyakan kabar keluarga masing masing. Si Mak ini punya anak tiga cowok semua dan yang paling bontot si Jindul.


"Yo yo, wes sana tidur dulu"


aku langsung ngeloyor ke kamar si Jindul yang sudah disiapkan Mak e buat ku, untuk sementara Jindul tidur di karpet depan Tivi.


Jam sepuluh pagi, ngantuk sekali aku. Baru mau merebahkan kepala ada telepon masuk, Mami ternyata. Wah iya lupa ngabari kalau sudah sampai. Setelah berkabar kabar dengan Mami, bantal baru aku tata ehhh masuk telepon lagi. Kali ini dari nomer yang tak dikenal. Memang aku selektif sekali membagi nomer teleponku.


"Halo" sapaku


"Hai" seberang telepon menjawab, lah?? darimana dia tahu nomerku?? Mbak Wati yang tiap hari bareng sama aku aja nggak tahu nomerku.


"Hai juga, darimana nih?" aku pura pura nggak kenal suaranya.


"Aku Yang"


"Siapa Ya?"


"Banyak ya yang suka panggil Yang?" mulai gusar dia.


"Whaduh, maaf. Kalau nggak mau nyebut nama Saya tutup ya" ancamku

__ADS_1


"Tony!"


"Owwh, Koh Tony. Ada apa Koh?"


"Kamu dimana sekarang?"


"Lagi cuti Koh"


"Iya aku tahu Kamu cuti, kamu lagi dimana sekarang?"


"Lagi luar kota Koh, udahan ya Koh kalau nggak ada yang penting" aku putus sepihak sambungan telepon. Tak berapa lama telepon berbunyi lagi, sama dari Koh Tony.


"Ya?"


"Kamu marah sama aku?"


"Marah karena apa Koh?"


"Kok nggak mau terima teleponku?"


"Bukannya nggak mau terima, cuma ini aku lagi di luar kota"


"Luar kota mana?"


"Surabaya"


"Sama siapa?"


"Sendiri"


"Coba share lokasi Kamu, aku susul"


"Lahh aku mau pergi muncak"


"Muncak gimana?"


"Mau ke gunung kalau nggak ke Bromo ya ke penanggungan"


"Owh, jauh sekali. Sendirian muncaknya?"


"Nggak sama temen kok. Sudah ya ngantuk tak tidur dulu" aku putus telepon dan aku matikan pesawatnya.


Gimana bisa muv on kalau ditelepon terus.

__ADS_1


__ADS_2