
Tak terasa satu bulan aku lewati di Jakarta mengikuti pelatihan. Awal awal aku dapat kabar dari Mami kalau Koh Tony pernah ke rumah dan kadang telepon Mami tanya kabarku juga minta nomer telpon ku. Aku sudah wanti wanti supaya Mami nggak bagi bagi nomor telepon ku tanpa konfirmasi dulu ke aku.
Juga Pak Radit beberapa kali minta tapi selalu aku tolak secara halus.
Di hari terakhir ini pihak supplier minta nomor telepon Kami untuk dimasukkan ke grup pelatihan supaya mempermudah komunikasi jika ada kesulitan di tempat asal Kami.
"Pak Radit, Pak Andre, terimakasih sudah bantu Saya selama Saya di sini. Saya pamit pulang dulu" pamitku pada mereka. Diantara anggota pelatihan hanya aku yang pulangnya diantar mentor nya sampai bandara hi ... hi ...
"Hati hati ya, jangan di reject kalau ada nomer tak dikenal masuk hp mu ya. Mungkin itu salah satu dari Kami" gurau Pak Andre sambil melirik Pak Radit dan yang dilirik jadi salah tingkah.
"Ya kalau mau telpon bilang dulu nggak asal telpon jadi nggak Saya reject" balasku
"Tuh dengerin" Pak Andre menepuk pundak Pak Radit jadi semakin salah tingkah dia.
"Sudah Pak, Saya pamit dulu. Sekali lagi terima kasih"
Aku Salami mereka berdua, Pak Andre hanya tersenyum saat aku dan Pak Radit bersalaman.
"Hati hati" singkat padat dan jelas pesan Pak Radit
"Siyaap bos" candaku. Aku pun masuk ke Bandara.
\=\=\=\=\=≠\=\=
"Yan, ntar sore pulang kerja ikut nglayat nggak?" tanya Mbak Wati di hari pertama aku ngantor lagi saat Kami hanya berdua setelah rame kangen kangenan sama teman teman kantor karena sebulan nggak bertemu.
"Siapa yang meninggal?" tanyaku kaget
"Papahnya Ha Te, di rumah duka"
__ADS_1
"Oh kapan meninggalnya? karena sakit ya?" tanyaku
"Kabarnya tadi pagi sih karena sakit"
"Ya ikut to ya, nggak enak kalau nggak ikut"
"Kalau ketemu nyonya e gimana?"
"Ya nggak pa pa lah, lha emang Napa to?"
"Kamu nggak pa pa kan?"
"Nggak Mbak, aku oke kok"
Alhamdulillah masih ada teman yang care dengan perasaanku.
Sorenya Kami serombongan menuju rumah duka untuk melayat. Selesai Kami berdoa Koh Tony menghampiri.
"Terimakasih Pak dan teman teman semua" jawab Koh Tony.
Mbak Wati menyenggol Koh Tony dan berbisik
"Nyonya mu mana?" sambil kami mengambil tempat duduk.
"Barusan aja pulang" jawabnya tanpa sedikitpun melihatku.
"Oh, Yan kamu duduk sini" Mbak Wati mengarahkan ku duduk bersebelahan dengan Koh Tony.
"Maaf aku tak nemuin tamu yang lain ya" hindar Koh Tony berdiri dan menuju ke teman yang lain.
__ADS_1
"Wes lah Mbak, nggak usah macem macem" tegurku
Mbak Wati hanya menggerakkan bibir membentuk kata sorry dan aku hanya mengangguk.
Perih rasanya dicueki diabaikan tapi memang ini kan yang aku harapkan dari Koh Tony?
Sampai dengan berpamitan pulang tak selintas pun Koh Tony melihatku. Sepertinya dia sudah nyaman bersama istrinya. Ya Alhamdulillah jadi aku enteng untuk menata hati dan hidup ku.
Derrrt ... derrrtt
Ponselku bergetar ada pesan yang masuk dari nomor tak dikenal, Dari Pak Radit.
081XXXXXXX
Selamat malam,ini nomor Saya Raditya. Kalau Saya mau telepon bisa nggak?
Mohon dibalas ya
Terimakasih
*Dini Cantek
Selamat malam Pak, maaf Saya masih di jalan.
Terimakasih
*081XXXXXXX
Oh, oke hati hati ya**
__ADS_1
Hanya aku baca pesan itu tanpa aku balas.