
"Mas Prast, nginep sini?" tanya Santi
"Nggak-lah, gue lagi nggak dalam rangka kerja. Gue dah sewa hotel deket sini" jawab Mas Prast.
"Oh ya sudah, soalnya tadi kita habis perang sama kepinding Mas, kapuknya sama kepindingnya sama banyak" Santi mengadu.
"Oh ya?? Wahh nggak sehat dong lingkungannya" kata Mas Prast. Aku lihat Mas Prast banyak berubah, sudah tidak melambai lagi gestur tubuh ( cieeee ... gestur ) sesuai penampilan, macho abis.
"Iya Mas, tiap pagi Dini berubah kaya kesemek" Mas Sikro ketawa disusul teman yang lain.
"Lhah kok bisa?"
"Itu bentol bentol digigit kepinding dibalur pake bedak" jelas Nitha.
"Ooooo tak pikir habis digigit kepinding Dini jadi manis manis sepat kaya kesemek mengkal" canda Mas Prast melirikku.
"Kok malam ini kamu kalem Din? biasanya kaya cucakrowo" sindir Feni
"Kan ada Mas Prast, ja'im atuh" kerling Mas Sikro
__ADS_1
"Ih, apaan sih kalian. Kekenyangan tau!!" kupukul lengan Mas Sikro malu.
"Waaaa .... merah tuh mukanya" ledek Nitha.
"Eh, gimana penjualan kalian? aku dengar kalau kerja kalian bagus" Mas Prast mengalihkan topik pembicaraan sambil senyum melirikku.
"Alhamdulillah Mas lumayan, anak anak kerjasamanya bagus mungkin pengaruh ke penjualan juga" jawab Santi sang ketua.
Kami ngobrol sampai malam, tapi aku lebih banyak diam curi curi pandang ke Mas Prast. Dia juga sesekali melihat ke arahku dengan pandangan yang bikin jantungku akrobat di dalam.
Setelah puas ngobrol dan malam makin larut Mas Prast pamit pulang ke hotel setelah memesan ojol.
"Non, besok pagi jam 6 gue jemput ya. Kita jalan jalan" bisiknya saat berpamitan padaku. Dan aku cuma bengong menahan nafas menikmati nafasnya yang berhembus di telingaku. Dan setelah Mas Prast pergi kami masuk kamar masing masing.
"Ooh, besok dia ngajak jalan jalan" jawabku jujur.
"Kamu ada hubungan ya sama dia" telisik Widi lagi.
"Ada-lah" spontan aku jawab, aku sedikit nggak suka dengan kekepoannya.
__ADS_1
"Sudah jadian?" keningnya berkerut
"Maksudnya jadian?" aku sok nggak ngerti maksudnya.
"Ya dia sudah nembak kamu dan kamu terima" jelasnya. Aku tertawa dalam hati, duhhh gue tau yang lu maksud cuman kenapa sekepo itu mau tau urusan orang banggeed.
"Mati dong gue ha ... ha ... ha ... Nggak Wid hubungan gue ma Mas Prast cuma hubungan kerja" aku malas meladeni introgasi-nya.
"Syukutlah" gumamnya lirih tapi masih jelas di telingaku.
"Kamu naksir Mas Prast?" tanyaku balik.
"Nggak tau lah, aku cuma tertarik ma dia"
"Whatt? Lah trus Kang Pendi?" sergahku
"Cerita lalu dia mah, cuma buat pengusir sepi.
Hahhh??? sampe melongo aku dibuatnya, aku nggak menyangka Widi yang pendiam jiwanya bergelora juga 😋 ternyata di dalam jiwa yang tenang terdapat asmara yang menghanyutkan.
__ADS_1
Aku tidak dapat memejamkan mata mengingat besok akan jalan jalan sama Mas Prast. Kumpul rame rame aja jantungku loncat loncat, badanku panas dingin, rambutku serasa berdiri semua, pokoknya gemringging (bhs. Jawa \= merinding ) apalagi ntar kalau berduaan. Duuhhh, aku tidur bolak balik semua posisi nggak enak semua ditambah bau minyak tanah campur kapur barus yang masih agak menyengat. Untungnya Mas Sikro nggak tidur di kost-an, dia lagi apel pacar laki laki-nya. Ya dia tidur di kasur sebelahku, kami cuma dibatasi jeda satu ubin. Alhamdulillah no sinyal 😀😀😀 Dan sebelahku yang lain si Lestari, dia mah ***** ( nempel bantal molor ) kaya orang pingsan kalau tidur pules banggeedd.
Akhirnya aku tertidur karena kelelahan.