Cinta Lama Dini

Cinta Lama Dini
WAYANG 2


__ADS_3

"Kamu bener bener suka balapan motor ya Din?" tanya Mas Ario


"Fans berat Mas" jawabku singkat


"Jenis balapan apa aja yang Kamu suka?" tanyanya lagi.


Ihhh ceriwis amir nih orang ganggu aja, gerutuku dalam hati


"Semua otomotif Mas, tanyanya ntar pas iklan aja ya" jawabku cuek.Pak Poer ngakak keluar dari ruang TV. Mas Ario tersenyum kecut denger jawabanku. Selesai liat siaran Mas Ario medekati aku.


"Sudah boleh tanya tanya nggak Din?"


"Ha ... ha ... ha ... boleh Mas. Maap Saya kalo liat balapan nggak bisa pecah konsentrasi"


"Iyo Mas, dia kaya di dunia lain kalo liat balapan" samber Lestari.


Kami semua lagi ngumpul di teras samping kamarku. Di sana hanya ada satu set kursi tamu, duduk berdempet dempet ada yang ngglosoh di lantai ada yang pake dingklik suka suka lah pokoknya. Kami satu team kumpul semua kecuali si Widi yang lagi asyik chattingan di Kamar, Wina + Ade + Andar yang Mahasiswa UnSoed, dan Mas Ario.


"Minggu besok kalau kalian mau, boleh kok liat aku latihan offroad" Senyum Mas Ario


"Wehh?? serius Mas?? Mas Ario offroader??" membulat mataku tak percaya. Secara badan cungkring gitu bawa mobil yang gunjang ganjing di lumpur or medan berat.


"Wahh kamu ngenthengke wong entheng ( wah kamu meremehkan orang kurus )" cibir Mas Sikro


"Lhah photo di ruang tengah itu photo siapa coba kalo bukan Mas Ario" sahut Andar.

__ADS_1


"Whaduhh? aku nggak pernah perhatiin" aku langsung melesat ke ruang tengah penasaran photo apaan sih.


Bu Poer yang lagi santai sampe kaget liat aku yang tau tau muncul.


"Astaqfirrullahhh, kaget aku" jenggit Bu Poer.


"Maaf Bu, Nuwunsewu he ... he ... Assalamu'alaikum" cengirku.


"Nopo to Din kok grasak grusuk ( ada apa to Din kok tergesa gesa)?" Bu Poer masih memegang dada-nya.


"Eh ini Bu, mo liat photo Mas Wayang eh nuwunsewu Mas Ario" aku masih cengengesan nutupin malu.


"Walah lha wong orangnya ada kok ngapain liat photo-nya" Bu Poer malah geli liat tingkahku.


Aku lihat photo yang nempel di dinding, Mas Ario di segala pose dengan mobil offroad beserta piala-nya. Wahhh keren, bathinku kagum. Aku keluar setelah permisi sama Bu Poer.


"Naaaa kan! apa kubilang tadi" celetuk Lestari.


"Emang Lu bilang apa tadi? kalian ngomongin aku ya?" sambarku


"Uwis ra sah dibahas, ngomongin kamu yang baik baik kok Din. Ra sah baper" sahut Santi


"Gimana? Mau lihat aku latihan?" tanya Mas Ario.


"Woooo ya mau banggeedd Mas" cepat aku jawabnya.

__ADS_1


"Tenan tooo cepet jawabe (benar kaann cepet njawabnya" Kata Feni sambil tertawa yang diikuti tawa yang lain.


"Eh Mas, omong omong nama keren Mas Ario di dunia offroader apa sih? tanyaku penasaran. Biasanya ya para pembalap punya julukan kaya The Doctors buat si Valentino Rossi.


" Ada sih ... aku biasa disebut Wayang"


"Whatt?" menganga mulutku.


"Iya, hidungku kayak hidung wayang kulit. Kata mereka sihh"


Kok bisa pas gitu ya sama pikiranku. Lestari nyenggol lenganku menahan ketawa-nya.


"Mingkem" bisiknya. Seketika mulutku mengatup untung lidahku nggak kegigit.


Aku pernah bilang ke Lestari soal Mas Ario yang hidungnya kayak hidung wayang.


"Woke, Minggu ya siap siap jam 6 sudah ready lho biar nggak kesorean pulangnya" Mas Ario menegaskan lagi. Secara kalau hari Minggu kita pada santuy bangunnya.


biibb .... biibb ada pesan masuk di HP-ku.


"Yayang tuhh" Mas Sikro memajukan dagunya ke arahku.


"Oooo sudah punya Yayang ya?" telisik Mas Ario.


"LDR Mas" jawabku malas. Pacaran LDR nggak ada enaknya. Kalau kangen susah, kalau mau curhat susah juga. Yang diobrolin nggak mutu, paling sudah makan belum?, mau bobok ya?, atau lagi ngapain? lama lama bosen chatting chattingan.

__ADS_1


"Oowwhh" Mas Ario cuma ber-oh ria.


__ADS_2