Cinta Lama Dini

Cinta Lama Dini
PHP3


__ADS_3

Kami berlanjut ke Kaliurang dan ke pantai Parangkusumo. Kami bermain air sepuasnya. Dan yang pasti Koh Tony nggak pernah jauh dariku.


"Wah, aku nggak pernah lihat Mbak Rian ketawa kayak gini sebelumnya lho" ujar Sun Sun


"Mosok sih?" tanyaku sambil senyum


"Iya, kalo di kantor yang disenyumi cuma orang tertentu tok" tambahnya lagi sambil melirik Koh Tony


"Ora yooo ... sama Kamu aku juga sering senyum lho ya" aku membela diri


Setelah puas bermain air Kami makan mie instan di warung pinggir pantai itu.


"Ini Mbak mie-nya" Ibu penjual menyodorkan sepiring mie kepadaku. Kami masing masing sudah menghadapi sepiring mie yang masih kebul kebul alias panas kumplit dengan sayuran dan telur ceploknya.


Whaduh, porsi besar. Apa habis ini nanti? semoga habis! bathinku


"Mari makaann" tawarku


"Mariii" koor mereka hi hi hi


Whaduh baru separo jalan aja perutku sudah full, ya sutralah menyerah nggak habis mie-ku.


Aku taruh sendok garpu di atas piring dan aku pinghirkan. Kuraih es teh manis minuman favoritku. Ahh segar ...


"Nggak dihabisin Yang?" tanya Koh Tony

__ADS_1


"Nggak Koh, porsi nya kebesaren" cengirku


Tanpa ragu Koh Tony meraih piringku dan menghabiskan isinya menggunakan sendok garpu yang habis kupakai.


"Koh, itu kan bekasku" bisikk


"Kamu nggak penyakitan kan?" sambil menyuapkan mie ke mulut Koh Tony menjawab tanpa melihatku.


Terakhir Kami jalan jalan ke Malioboro, sepanjang jalan pedagang kaki lima dengan barang dagangan yang beraneka macam menggoda mata dan kantong.


"Yang, Mami nggak dibeliin oleh oleh?" tanya Koh Tony saat Kami melepas lelah dengan minum wedang ronde.


"Ntar aja Koh di Muntilan. Mami suka tape ketan sama Buntil" jawabku


"Oh ya sudah, ini buat Kamu" Koh Tony menyodorkan kotak kayu kecil padaku.


"Buka aja" jawabnya


Pelan pelan aku buka kotak itu, wahh sepasang anting bermata hijau dengan pendar pelangi yang bagus.


"Bagusnya ..., kapan dan dimana belinya?" tanyaku


"Tadi waktu pamit ke toilet ngelewatin toko perhiasan, pakai gih" pintanya


"Makasih ya Koh, mahalnya?" tanyaku lagi sambil berusaha memakai dan mengaitkan anting itu.

__ADS_1


"Nggak" jawab Koh Tony dan membantuku memakaikan anting.


"Waa bar ditabrak tabrakke njuk tukoke anting" sindir Rudy yang kelihatan masih marah sama Koh Tony


"Nggaklah cuma pengen beliin aja, aku salah tetep salah nggak bisa dibeli pakai ini" jawab Koh Tony sendu


"Wes lah Rud, orang akunya aja nggak pa pa kok" belaku


"Sudah sudah Rian sudah maafin Ha Te, Kamu seharusnya ya sudah nggak marah to Rud" tegur Mbak Wati


"Iya, maaf ya Te" Rudy mengangsurkan tangannya mengajak bersalaman


"Iya, sama sama" jawab Koh Tony menepuk pundak Rudy.


"Yuh, pulang. Ntar makan di Muntilan aja sekalian beli oleh oleh buat Mami-nya Dini' Kata Koh Tony.


Hampir semua teman temanku di kantor anak perantauan jadi di sini mereka nge kost. Diantara mereka ini hanya aku dan Koh Tony yang orang tuanya tinggal di sini.


"Lha Papah Mamahmu Koh nggak dibeliin oleh oleh?" tanyaku


"Lahh mereka sudah mblenger oleh oleh kan tiap pulang keliling aku suka beliin mereka" jawabnya


Kami mampir ke Muntilan beli oleh oleh dan makan. Karena kecapekan seharian aktivitas dan kekenyangan aku tertidur di bangku belakang saat perjalanan pulang. Saat agak pulas aku rasakan sebuah ciuman mendarat di bibirku. Karena kaget aku sedikit berteriak.


"Ahh"

__ADS_1


Ditariknya bahuku dan diraihnya kepalaku untuk bersandar di dadanya. Seketika kantukku hilang, dan aku lihat Rudy melihat Kami dari spion depan sembari menyetir dan menggeleng gelengkan kepalanya memberiku kode jangan. Aku berusaha melepaskan diri secara halus takut membangunkan teman yang lain, mereka sudah pulas. Hanya aku, Koh Tony, dan Rudy yang nyetir yang masih melek. Tapi Koh Tony tidak melepasku malah semakin mengeratkan pelukannya. Akhirnya aku menyerah, aku biarkan Koh Tony memelukku. Karena dirasa tidak ada perlawanan dariku dia mencium kepalaku. Dan akhirnya aku tertidur di pelukannya.


__ADS_2