
Selain warung Pak Kirsan yang menjadi langganan kami makan (sekarang agak jauh jaraknya ) ada warung pecel di depan kost kami yang baru. Warung pecel Mamake Fajar begitu orang sekitar bilang. Ya pecel kecombrang dan terancam, pecel sayuran biasa dengan saos kacangnya plus rebusan bunga kecombrang di atasnya. Awal makan pecel ini mau muntah aku nggak kuat dengan rasa wanginya bunga kecombrang di mulut.
"Kayak orang mati aja makan bunga" sungutku. Tapi sekarang jadi ketagihan rasa wanginya.
Kalau trancam itu irisan timun, toge mentah, daun kemangi, dan bumbu sambal kelapa. Semacam urap tapi mentah semua.
"Enak Mbak?" kudengar seseorang bertanya, aku menoleh.
"Eh Mas Ario, iya Mas. Mari makan" tawarku. Mas Ario duduk di sebelahku sambil nyomot bakwan jagung dan cabe rawit segenggam.
"Nggak mules Mas?" perutku rasanya panas lihat cara makannya. Satu gigitan bakwan disusul gigitan cabe yang nggak diitung banyaknya.
"Biasa aja, Mak pecel petis ya" bener lho nggak kepedesan dia, ngomong masih lancar. Kalau aku mah makan cabe dua airnya bisa segalon.
Aku liat Mamake Fajar ngambil cabe rawit merah tanpa menghitung untuk membuat bumbu. Untung aku sudah selesai makan, semlengeren ( tertegun ) aku lihat Mas Ario makan pecel petisnya. Bumbu yang harusnya warna hitam petis jadi coklat kemerahan karena banyakan cabenya daripada petisnya.
"Din, ntar sore lorenzo main lho di Itali" susul si Lestari
__ADS_1
"Kita lihat di Pak Kirsan ya" lanjutnya lagi.
"Pada suka liat balapan ya?" tanya Mas Ario.
Aku mengangguk.
"Dini Mas, dia mah maniak balapan" jawab Lestari.
"Oh ya? Lihat di rumah aja ngapain jauh jauh" diambilnya minum dan me-lap bibirnya dengan punggung tangan.
"Ha ... Ha ... Ha .... nggak pa pa ntar berisik bareng aku Din" Mas Ario ketawa.
"Woooo siyyaappp Mas" sahutku cepat.
"Helehh dapet bolo ( teman ) tuhh" ledek Lestari.
"Sirik aja" manyunku, Lestari cuma ketawa.
__ADS_1
Sorenya setelah pulang kerja aku sudah ngejogrok di ruang TV Pak Poer. Dan sialnya Pak Poer lagi lihat siaran berita, jam sudah mau mendekati jam siaran balapan tapi tanda tanda Pak Poer selesai dengan siarannya belum ada. Aku gelisah di tempat dudukku, mana Mas Ario nggak ada di rumah lagi. Aku sungkan mau ganti channel. Harusnya aku pake saran Lestari aja tadi ya, batinku. Aku garuk kepalaku yang tidak gatal degan gusar sudah hampir lewat sepuluh menit dari jam acara balapan motor Pak Poer belum selesai juga. Ya wes lari ke Pak Kirsan pikirku. Baru saja mau aku agkat pantatku dari kursi Mas Wayang eh ... Mas Ario masuk ke ruang TV dari pintu samping.
"Pak, TVnya gantian dong. Tuh sampe ada yang kutuan nunggu Bapak selesai liat berita" Mas Ario cengengesan. Ternyata dia sudah memperhatikan tingkahku sedari tadi.
"Wooo iya toh, lha kok nggak bilang to. Lha yo Bapak rak ngerti. Nyoohh ki remote" Pak Poer menyerahkan remote padaku. Aku jadi nggak enak hi hi hi.
"Maturnuwun Pak" aku jadi kikuk tapi aku senang.
Channel TV langsung aku ganti dan di menit berikutnya aku sudah heboh sendiri lihat jagoanku si Mas Jorge Lorenzo melibas lawanya. Lestari, Mas Ario, dan Pak Poer akhirnya ikut bergabung karena tertarik dengan kehebohanku.
"Walahhh ndak boleh kesenengen lho nduk, nonton yo nonton ning ojo sampe koyo ngono ah. Ki disambi" Bu Poer mengingatkanku sambil meletakkan singkong goreng.
"Nggih Bu" aku tersenyum malu dan tanganku terulur untuk mengambil singkong.
"Hishh Pak Poer ja belon ngambil kok, Monggo Pak" Lestari menepuk tanganku dan menyodorkan piring singkong ke Pak Poer.
"Wes sana dimakan bareng bareng santai wae" jawab Pak Poer renyah.
__ADS_1