
Jam Dua siang aku baru bangun, ternyata Iwonk dan Nopek sudah datang.
"Kon ngapa Tah mrene dewekan?" tanya Iwonk
"Galau Wonk" jawabku tanpa basa basi, memang dengan mereka aku bisa terbuka dengan hal apapun. Urusan perempuan sekalipun aku tidak merasa malu menyampaikan sama mereka. Dan mereka pun tidak merasa risih atau sungkan.
"Nek galau Ojo ke Penanggungan, abot. Mending ke Bromo wae. Seneng seneng kari sewa sewo aja" Nopek ikut bicara.
"Iyo pengenku ya ngono muncak sing HEPI hepi" kataku.
"Ayo wes mangkat saiki, pakai montor anyar e Nopek" ajak Jindul
Supaya nggak kemaleman sampai kaki Bromo Kami segera berangkat setelah menyiapkan segala sesuatunya.
__ADS_1
Sesampai di Kaki Bromo Kami mencari parkir yang nyaman untuk tidur. Aku tidur mobil di jok tengah, sedang para cowok tidur di luar menggunakan sleeping bag masing masing. Udara Bromo saat itu tidak begitu menusuk tulang jadi Kami bisa tidur cukup nyaman.
Jam dua pagi Kami bangun untuk melanjutkan perjalanan. Kami memutuskan menyewa mobil Jeep untuk sampai di kaki Bromo. Karena harus melewati lautan pasir yang susah dilewati mobil biasa.
Kami bercanda sepuasnya. Aku menghibur diri dengan mereka. Sejenak terlupakan kegalauanku.
Sampai di kaki Bromo Kami harus menaiki tangga sampai ke bibir kawah untuk melihat Sun rise. Kami naik dengan tertib, candaan Kami simpan untuk pulang nanti. Diantara pendaki ada perjanjian tidak tertulis, setiap menuju puncak candaan harus dihentikan, kita harus berusaha lebih mendekatkan diri pada Sang Pencipta Alam dengan mengagumi keindahan ciptaan nya.
Tak berapa lama Kami sudah sampai puncak, di sana sudah banyak pendaki tua maupun muda bahkan ada anak umur lima tahun ikut orang tua nya muncak.
Tatkala sinar kemerahan pelan pelan menunjukkan pesona nya Kami terpukau dengan keindahan alam yang disuguhkan oleh Sang Maha Pencipta.
Setelah puas melihat Sun rise Kami satu per satu mulai turun dari puncak dengan rasa puas dan bersyukur.
__ADS_1
Kami berjalan beriringan dari kaki Bromo melewati lautan pasir dengan mengambil jalan pintas sehingga tidak perlu menyewa Jeep lagi. Kami melewati pura, satu satunya bangunan yang ada di lautan pasir itu. Sampai di parkiran Kami istirahat sejenak, tujuanku selanjutnya pasti toko souvernir yang berada di sekitar Bromo.
Sambil melepas lelah , aku hidupkan ponselku. Ada 2 missed call dari Mami semalam dan pagi tadi. Dan entah puluhan missed call dari Koh Tony. Biarinlah ponsel hanya aku silent saja biar deringnya nggak mengganggu.
Di toko souvenir aku membeli beberapa gantungan kunci bunga edelweis untuk teman teman kantor.
"Ndul, kalian kalau mau pulang dulu nggak pa pa. Aku tak di sini dulu masih nginep semalam lagi" aku masih enggan pulang, masih pengin jalan jalan di sekitaran Bromo.
"Enak wae, mengko nek Mak e tekon piye coba jawabku opo?" Jindul menolak
"Opo Kon Yo arep nginep juga?" tanyaku
"Yo mestilah"
__ADS_1
Akhirnya Kami menyewa paviliun dengan 2 kamar, satu untukku dan satu untuk mereka. Meskipun pada kenyataannya mereka tidak tidur di kamar tapi di depan Tivi. Ada yang di sofa, ada yang di lantai pakai sleeping bag.
Esok hari Kami hanya berjalan jalan di sekitaran kaki Bromo di antara rumah rumah penduduk melihat kehidupan mereka.