Cinta Lama Dini

Cinta Lama Dini
MASALAH


__ADS_3

Ijin Papi dan Mami sudah di dapat, Kami lega. Dan dia sudah berani langsung meminta nya pada orangtuaku, membuat aku semakin percaya padanya.


"Masuk yuk Bli" ajakku


"Lampunya sudah hijau ya?" guraunya


"Iya" aku cengengesan


Setelah dia duduk di ruang tamu.


"Bentar ya Bli aku buatkan minum" kataku


"Iya buruan, Saya sudah nunggu dari datang tadi" katanya polos


Seketika aku ngakak, mendengarnya. Kasihan ... dan betapa teganya aku mengerjainya.


Aku persilahkan dia istirahat di kamar tamu setelah bebersih diri dan sarapan karena nanti sore akan langsung pulang dengan pesawat terakhir.


Tapi sepertinya kamar itu hanya untuk transit tas-nya saja. Sepanjang hari itu Kami seperti tak ingin terpisahkan. Kami ngobrol, bercanda, menuntaskan rasa rindu dan belajar mengenal satu sama yang lain. Tak terasa hari sudah sore waktunya Bli Radit pulang.


"Sayang, antar aku sampai bandara ya?" pintanya. Sapaannya padakupun sudah berubah, membuat hatiku berbunga dan mungkin pipiku memerah.


"boleh, tapi ijin Mami Papi ya"


"Ya harus kalau itu mah"


Kami berpamitan ke bandara, sepanjang jalan tanganku tak lepas dari genggamannya.


"Jadi berat pulang nih" keluhnya


"Lah kan bisa telponan atau VC an, semangat Bli" gurauku


Sampai di bandara, di tempat yang agak sepi Bli Radit berpamitan. Kami bersalaman, kucium punggung tangannya, dan dia membalas dengan mencium kedua pipiku.


"Hati hati di jalan Sayang, sudah persen taxi nya kan?" katanya


"Iya, Bli juga hati hati. Sudah pesen barusan" kataku.


"Ya sudah aku pamit dulu. Dua Minggu lagi aku ke sini lagi. Dah sana Sayang keluar duluan, baru aku masuk check on" Aku hanya bisa mengangguk menahan air mata.


"Nggak usah nangis" sambungnya lembut.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Rutinitas Kami kemudian, selama kurang lebih dua tahun ke belakang. Setiap dua Minggu sekali Bli Radit apel ke rumah dari Jakarta. Dan tiap hari tak ada yang terlewat saling kabar via telepon, pesan, atau video call.


Sampai pada suatu ketika Bli Radit memberi kabar kalau ayahnya dari Bali akan datang ke Jakarta. Bli Radit memintaku ke Jakarta pula untuk dikenalkan pada ayahnya.


"Sayang hari Jumat Sabtu bisa ambil cuti nggak?" kata Bli Radit malam itu, seperti biasa telepon cinta pengantar tidur.


"Bisa aja, emang ada apa sih Bli?" tanyaku penasaran


"Bapak mau ke Jakarta, aku pengen ngenailn kamu sama beliau" jelasnya


"Oh, bisa aja sih cuma aku ijin Papi Mami dulu" jawabku


"Maksudku kalau Sayang oke, aku yang minta ijin sama Mami Papi. Ntar aku jemput" Waahhh antara seneng dan deg deg an mau ketemu camer akunya.


"Ya, oke lah. Besok aku mengajukan cuti, tapi betul ya dijemput" manjaku


"Iya pasti, kabari aku kalau cutinya di acc"


"Woke Bli, tapi aku deg deg an lho" kataku sambil terkikik antara geli dan senang.


"Iihhhh ge er. Malu, seneng, dan kuatir mau ketemu camer" jawabku


"Ha ... ha... ha... ya itu rasaku dulu pas pertama ke rumah. Ketemu Papi Mami"


"Gitu ya?"


”Sudah santai aja Bapak nggak galak kok, sekarang Sayang bobok. Besok cutinya diajuin ya?"


"Iya, Met bobok juga ya Bli. Selamat malam"


"Selamat malam juga"


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Yuk, Bapak sudah menunggu" kata Bli Radit sesaat setelah tiba di hotel tempatku menginap. Ya, aku memilih nginap di hotel karena Bli Radit tinggal sendiri di rumahnya, pembantu hanya ada di jam kerja saja. Aku tidak mau terjadi hal tidak baik pada Kami berdua, dan aku menjaga nama baik dan kepercayaan yang diberikan Mami Papi padaku.


"Ayo" aku mengiyakan. Sekilas aku lihat lagi penampilanku di kaca. Dress selutut warna hijau muda dengan bunga bunga yang manis aku pilih untuk bertemu camerku.


Setengah jam perjalanan membelah Jakarta yang kebetulan jalanan tidak begitu padat. Kami sampai disebuah rumah sederhana yang asri dan minimalis.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum" aku mengucap salam. Aku lihat Bli Radit sedikit kaget karena salamku tadi.


"Ayo masuk. Silahkan duduk dulu, mau minum apa?" tanyanya


"Air putih dingin aja Bli" jawabku.


Tak berapa lama si bibik menyajikan minuman dingin.


"Silahkan Non" kata si bibik


"Terimakasih Bik" si bibik mengangguk dan tersenyum segera berlalu ke belakang.


Tak berapa lama Bli Radit keluar setelah berganti baju rumah, diikuti seorang laki laki. Untuk ukuran orang seusianya beliau masih terlihat gagah dan berwibawa terkesan sedikit galak menurut ku.


"Rian, kenalkan ini Bapakku. Bapak ini Rian yang kemarin aku ceritakan" Bl Radit mengenalkan Kami.


"Riandini, Bapak" aku mengenalkan diri dan mengulurkan tangan ingin menjabat tangan beliau dan mencium punggung tangan beliau seperti yang biasa aku lakukan kepada kedua orang tuaku.


"Hmmm" tapi hanya itu yang aku dengar dan tanganku dibiarkan tergantung tanpa sambutan. Dengan agak kikuk aku berdiri menunggu apa yang akan beliau lakuka. atau sampaikan. Sedang Bli Radit hanya memandangku sambil mulutnya komat-kamit membentuk kata maaf.


Akupun duduk setelah beliau duduk. Suasana jadi sangat canggung.


"Sudah berapa lama kalian kenal?" tanya Bapak


"Dua tahunan lebih Pak" jawab Bli Radit


"Kenal dekat sudah berapa lama?" tanyanya lagi


"Ya dua tahunan itu Pak, aku kenal langsung bilang kalau aku ingin serius" jelas Bli Radit dan aku hanya diam menunduk.


"Kalian sudah tahu kekurangan masing masing?" beliau berbicara sambil bersedekap.


"Sedikit banyak sudah Pak, Kami pacaran untuk saling mengenal dan Kami ingin lebih serius lagi" Bli Radit menjawabnya aku hanya diam mengira kemana arah pembicaraan si Bapak.


"Kalau sudah tahu kekurangan masing masing tapi Kamu tidak tahu agama dia apa?" si Bapak berkata sambil menatap tajam ke arah Bli Radit. Ah ... iya ... selama ini Kami tidak pernah membahas perbedaan Kami ini.


"Kami bisa menjalaninya meskipun beda agama Bapak" jawab Bli Radit


"Mana bisa rumah tangga landasannya berbeda, pikirkan lagi untuk lebih serius. Kamu yang ikut dia atau dia yang ikut Kamu. Pilih salah satu' setelah berkata itu Bapak masuk meninggalkan Kami berdua.


Huffft ternyata tidak mudah menjalin hubungan lebih serius. Tidak hanya cukup saling cinta saja, banyak hal lain yang perlu dipikirkan dan disesuaikan.

__ADS_1


__ADS_2