Cinta Lama Dini

Cinta Lama Dini
tMALING


__ADS_3

Beberapa hari ini kalau siang hujan, entah hujan gerimis atau lebat. Yang pasti saat kami pulang jemuran kami teronggok di kursi depan kamar, nggak tahu siapa yang berbaik hati karena temen kost kamar lain nggak ada yang ngaku. Kami berterima kasih sih, cuma mau tau orangnya saja.


Beberapa bajuku ada yang belum kering, terutama jeans jeans pendekku dan beberapa pakaian dalam.


Aku membuat jemuran darurat di teras depan kamar menggunakan rafia, soalnya kalau nggak gitu bisa bisa besok aku nggak pake baju dalam hi hi hi.


" Lu ngapain Din, pecicilan naik ke plafon?" tanya Mas Sikro saat aku mau menambatkan tali di plafon.


" Mbikin jemuran darurat Mas" jawabku.


" Wah iya ya .. bisa tuh. Ntar nebeng ya" cengir Mas Sikro


" Boleh, ... wani piro?..." godaku. Mas Sikro berlalu dan tertawa ngakak.


Ide-ku ternyata brilian, anak kost yang lain pada ikut ikutan bikin jemuran darurat. Alhasil kost kami bak penampungan pengungsi kumuh. Penuh dengan crantelan jemuran.


Keesokan harinya anak anak kost dihebohkan dengan teriakan si Deni.

__ADS_1


" Wahhh baju baju gue mana nih? woooiii bangun ... kita kemalingan nih"


gubrak ... gedubrak ... hampir serempak pintu pintu kamar pada dibuka. Secara kami anak kost kalau bangun pada lemot alias siang. Lha ini masih jam 5 pagi dah heboh.


"Huaaaa .... celana jeans-ku ilaaaanggg" tangis Nitha ( dia yang paling muda diantara kami, tapi kalau soal cowok dia yang paling berpengalaman. Dia umur 18 tahun sudah menikah dan punya anak satu )


" Mosok sih ... ojo ojo duweku yo ilang ( masak sih ... jangan jangan punyaku juga hilang) Si Ambar langsung panik sambil nge-cek baju baju-nya.


" Ni maling kebangeten deh moso CD-ku diembat" gerutuku.


" Opo Din? CD?" Mas Sikro tergelak


Setelah kejadian itu Deni tidak berani ninggal jemuran sampe malem. Baju dia hampir habis dimaling, itu jemuran baju seminggu.


Dua hari kemudian Mbak Dewi si Ibu Kost nyamperin kami yang lagi bercanda, ditangannya membawa beberapa baju.


" Caahhh .... Ini baju baju siapa ya? Kok nglumbruk di deket tandon air" Kami langsung bergegas menghampiri Mbak Dewi.

__ADS_1


" Alhamdulillah jeans-ku kembali" kata si Nitha.


" Lainnya punya Deni tuh" kata Iwan temen sekamar Andi. Kebetulan Deni lagi bekerja.


" Mmm .. Mbak Dewi nemu daleman nggak?" tanyaku kecewa campur malu.


" Whaduh cuma ini tuh yang ada di sana, emang ada apa to, baju bisa sampai tandon air?" tanya mbak Dewi


" Itu mbak ada maling dua hari lalu" jawab Feni


" Kok kalian tidak laporan?" sesal Mbak Dewi.


Tidak ada yang bicara diantara kami.


" Eh, secara ya tandon air kan letaknya masuk rumah induk ya? berarti malingnya punya akses masuk rumah induk dong" analisa si Anwar setelah mbak Dewi pergi.


" Iya juga sih, masa Mas Nino sih? kurang kerjaan banget" kataku. Mas Nino orang yang super sibuk, hampir satu minggu kami menempati kost belum pernah sekali-pun ngobrol dengan beliau. Jenis usahanya banyak, ada hotel, angkot, photocopy, dan kost kost-an. Jadi tidak mungkin beliau kurang kerjaan ngambilin jemuran kami.

__ADS_1


" Eh, atau Mang Jajang ya? kan dia kalau buka warnet lewat rumah induk ya?" Nitha nimbrung setelah merendam celananya yang sudah ditemukan dicucian.


"Bisa jadi tuh" jawab Mas Sikro. Aku cuma diam mendengar mereka memberikan analisa akan orang orang yang mereka curigai. Aku sampai detik ini berpikir, kok cuma CD-ku aja yang raib CD orang lain nggak. Buat apa si maling ngambil CD-ku ada tujuan jahat ke aku atau cuma kebetulan CD-ku teramnil. Tapi hampir semua baju yang diambil ketemu, kecuali CD-ku dan dua potong baju si Deni.


__ADS_2