Cinta Lama Dini

Cinta Lama Dini
yKOST


__ADS_3

" Non bangun dong dah sampai nih" akhirnya kubangunkan Dini dari tidur lelapnya. Tak ada sahutan ... Kutepuk tepuk sayang pipinya, " Nooonn bangun, dah sampai" ku elus sayang pipi nya yang halus.


" Engghhh " dikerjapkan mata cantiknya sambil merentangkan tangan ke atas ( ngulet bahasa Jawa-nya ) Duuhhh sexy sekali batinku. Dadanya yang penuh ikut terangkat sesuai pergerakan tangannya. Kutelan kasar ludahku.


" Dah sampai ya Mas? maaf ya kalau tadi Dini keriduran" dikucek matanya yang masih memerah.


" Kumpulin dulu deh nyawa-mu baru ntar turun bantu aku"


Wahhh gaswat nih kalo masih di sini bisa bisa nggak bisa turun, si otong bawah perutku dah berontak aja batinku.


Segera aku turunin tas - tas para DPS yang sepuluh itu plus stok mereka selama satu minggu di teras depan pavilliun dibantu 2 anggota DPS yang sudah datang. Giliran tas si Dini aku buka cuma pengen nge-cek aja extra set kosmetik yang kemarin aku kasih masih ada atau tidak.


Jreng ... jrengg ... ternyata tidak ada. Setelah Dini turun dari mobil dan membantu nurunin stok aku berbisik sama dia, " Ekstra set kosmetik yang aku kasih di mana?" tanyaku.


" Aku kasih ke Mami Mas" jawabnya polos.


Spontan aku langsung lemes, duhhh nih anak. Orang aku kasih tu buat dia kok malah dikasihin emaknya sih. Bener bener deh.


" Napa Mas? " tanya Dini dengan tatapan yang super polos.


" Nggak pa pa, harusnya itu buat kamu aja. Mami kamu ntar ada sendiri" gerutuku.


" Oowwh " sahut Dini

__ADS_1


Just oowwhh??! sabaaarr sabarr bathinku.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Tempat kost-ku terdiri dari rumah induk yang menyambung ke belakang dengan bangunan panjang yang berjajar kamar - kamar, ada 6 kamar. Pemilik rumah adalah pasangan muda dengan 2 anak laki laki yang masih kecil kecil 2 dan 4 tahun. Mbak Indah dan Mas Nino namanya. Kost-ku ada dipinggir jalan raya. Depan kamar kost kami adalah ruang terbuka berupa halaman yang luas. Di sudut kanan halaman ada sumur untuk mencuci. Kamar mandi ada dua buah diujung sebelah kanan.


Sedangkan kami ber-10 terbagi di 2 kamar paling ujung sebelah kiri. Ya ... 2 kamar ☺ 1 kamar ditempati Shanti, Feni, dan Ambar. Kamar itu merangkap gudang, tempat tas tas demo kami dan stok selama satu minggu. Bisa dibayangkan betapa sesaknya di kamar yang berukuran 2X3 meter itu. Dan kamar 1 untuk kami ber-7 : Lestari, Dian, Widi, Ika, Nitha, aku, dan Mas Sikro. Ya Mas Sikro, cowok satu satu-nya di team kami. Tidur bareng cowok??? ntar di episode berikutnya ada ceritanya 😀


Kecuali Aku,Nitha, dan Ika, anggota team kami adalah orang lama. Jadi mereka sudah tahu banyak bagaimana di kost-an dan cara kerjanya. Kami ber-3 tinggal mengikuti saja.


" Mas Prast pulang kapan? " tanyaku saat kami lagi berduaan, sedang istirahat setelah serah terima produk dan briefing dengan Mas Prast.


" Besok pagi, napa? mo ikut pulang?" mas prast balik tanya sambil mengepulkan asap rokoknya.


Beberapa orang teman kemudian bergabung.


" Mas, bener nggak sih pacaran sama mbak Anneke?" tiba tiba Dian angkat bicara.


" Siapa? Aku?" tanya Mas Prast kembali dengan logat melambainya. Aku melengos risih.


" Hu um" Dian menganggukkan kepala.


" Enggaklah Shayyy, Anneke nggak bakal mau sama gue. Dia tuh ya mau-nya coeok tajir not kaleng kaleng" kemayu-nya masih bertengger aja. Karena risih liat Mas Prast melambai lagi, aku pergi kembali ke kamar diam diam diikuti pandangan Mas Prast yang .... ahh nggak tahu lah apa maksudnya.

__ADS_1


Teman team-ku masih bercanda di teras depan dengan penghuni kost lainnya, saling berkenalan dan mengenalkan diri. Sedangkan aku di sini di kamar sendiri dengan perasaan yang entah apa ini namanya, hanya satu yang ada di benakku .. Mas Prast.


" Hehh! kok menyendiri sih?" tiba tiba mas macho sudah nyender di pintu. Gaya yang kasual macho khas cowok sedang diperlihatkan Mas Prast. Kaya bunglon nih orang, bathinku.


" Nggak pa pa, aku cuma risih liat Mas gitu" jawabku sendu


Dia masuk dan duduk disebelahku.


" Gitu gimana?" dikeluarkannya sebatang rokok, diketuk ketukkan di lantai dimasukkannya disela bibirnya yang .... siap mau disulut.


" Mas jangan ngerokok di kamar dong" kumanyunkan bibirku


" He ... he ... he .. iya, sori. Eh tadi itu aku gitu tu gitu yang gimana?" tanya Mas macho


" Aku risih liat Mas kemayu " jawabku lirih.


Hhhhfffttt ... mas prast menghembuskan nafas dengan berat.


" Ya, aku nggak akan gitu lagi kalo kamu nggak suka"


" Bener?" kutatap Mas Prast dengan senang.


" Aku akan berusaha" jawabnya memastikan, digenggamnya tanganku kemudian perlahan dibawanya ke dada-nya. Aku bisa merasakan getaran detak jantungnya. Aku tersenyum malu dan Mas Prast mencium punggung tanganku lamaaa.... Aku semakin menunduk malu.

__ADS_1


__ADS_2