Cinta Lama Dini

Cinta Lama Dini
MALAM PERTAMA 2


__ADS_3

"Ton, Saya serahkan Dini kepadamu. Sudah jadi kewajibanmu sekarang untuk memnimbing, menjaga, dan mengasihi putri Papi. Jangan buat dia sedih apalagi menangis. Sabar itu kuncinya" wejang Papi saat akan pulang setelah Kami makan malam bersama.


"Inshaa Allah Pi, Saya janji memenuhi itu semua" direngkuhnya bahuku di hadapan Papi. Papi kemudian m melukku dan memegang dua tanganku.


"Dia Imam-mu surga-mu ada padanya. Sabar dan raih ridhonya, Inshaa Allah Sakinah" Papi cium keningku dan mengelus rambut ku sebelum melangkah ke mobil. Mami yang biasanya usil sore ini nggak ada kata katanya cuma hidungnya yang kembang kempis dan bibir terkatup yang melebar menahan tangis. Dipeluknya lamaa dan diciumnya pipiku.


"Kalau sakit ntar jangan heboh ya" bisiknya


Whattt? masih sempet sempetnya mikir gitu Miiii


Aku jadi malu dan terharu cuma mengangguk.


Sekarang cuma ada aku dan Koh Tony di kamar pengantin ini.


Hawa kecanggungan sudah terasa sejak awal kami masuk ke kamar.


"Mmm Yang mau langsung tidur atau ...." dia sengaja menggantung kalimatnya sambil nyengir dan garuk garuk kepala.

__ADS_1


"Ya tidurlah, capek!" cuek aku naik ke kasur setelah berganti dengan daster.


"Kamu nggak mau sekarang?"


"Mau apa sih?"


"Kamu nggak penasaran gimana rasanya malam pertama?" tanyanya


"Emang rasanya gimana?" aku balik bertanya. Kutegakkan badanku lagi dan duduk bersila di kasur bersiap mendengar ceritanya.


"Biasa aja sihh kaya malam pertama nya orang orang"


"Tak praktekin ya?"


"Boleh"


Kemudian dia beranjak menyusulku di ranjang.

__ADS_1


"Eh, mau ngapain Koh?"


"Katanya suruh praktek! gimana sih! dah diem diem dan cermati. Oke?!" aku hanya mengangguk


Diambilnya tanganku diremas perlahan dibawanya ke mulutnya. Diciuminya tanganku dengan penuh perasaan diusap usapnya pelan menuju ke lengan. Seketika badanku merinding, bulu bulu di tubuhku seperti berdiri semua. Ditangkupnya wajahku bibirnya mulai mendekati bibirku dan tahu tahu sudah menempel. Dihisap dan dilumatnya, nafasku kian memburu tapi aku hanya bisa memejamkan mata menikmati semua sentuhannya. Memang meskipun sudah berpacaran dengan yang lain tapi untuk urusan cium mencium apalagi ciuman bibir aku selalu ogah. Sedikit jijik kalau harus mulut dengan mulut beradu πŸ˜€


Untungnya dengan Koh Tony ini rasa jijik ku lenyap. Aku rasakan ada tangan menyeruak ke dalam dasterku dan ahhhhh ... usapan lembut yang memabukkan.


"Buka ya?"


"Hmmm" dilolosnya dasterku ke atas. Angin malam dari jendela kamar menyapa kulitku. Dan selanjutnya aku tidak tahu lagi harus berkata apa. Hanya ada rintihan rintihan dariku dan kata maaf darinya. Yang aku tahu kemudian, dipakaikannya baju ku dan dia tidur di sebelahku.


"Sakit Koh" rengekku


"Iya, maaf. Aku sudah pelan pelan tadi. Kamu masih pertama jadi belum kebuka, ya sakit. Maaf ya" dipeluknya aku dan dicium keningku.


"Aku juga minta maaf belum bisa ngasih ke Kamu" setitik air bening sudah siap di ujung mataku

__ADS_1


"Sudah nggak pa pa, besok kita coba lagi ya?" aku mengangguk dan kemudian Kami tidur sambil berpelukan. Entah karena kecewa karena belum berhasil membobol gawang atau karena kecapekan Koh Tony sudah merem aja.


Dan aku karena rasa nyaman dipeluk karena aku takut tidur sendiri di tempat yang baru dan kecapekan juga kesakitan πŸ™Štak lama aku juga terlelap.


__ADS_2