
Setelah pertemuan di Jakarta itu, Kami lebih sering terdiam saat bertelepon. Saling sungkan mengungkapkan perasaan.
"Bli, aku rasa kita harus ketemu untuk membahas masalah kita" ujarku malam itu saat Kami bertelepon.
"Iya, Minggu besok aku ke Semarang" jawab Bli Radit
"Semoga kita menemukan jalan keluar ya Bli" harapku
"Iya Sayang, aku juga berharap seperti itu" Kami terdiam beberapa lama.
"Bli sudah malam, bobok dulu yuk. besok sambung lagi.
"Ya, kita berdoa terus ya Sayang biar bisa bersama" katanya
"Iya, Inshaa Allah. Selamat malam Bli' putusku
"Selamat malam Sayang"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Mi, mau curhat boleh nggak?" tanyaku
"Nggak" jawab Mami pendek, jawaban yang mengejutkanku.
"Miii, plissss Aku sudah mentok Mi. Bingung Mi harus gimana?" aku mulai terisak.
Mami mengelus pundak ku dan mengangkat dagu ku.
"Heh bocah cengeng, sejak kapan Mami nggak mau denger curhatan kamu. Tanpa kamu sadari tiap hari kamu tu curhaaatttt Mulu. Mi capek, Mi pusing, Mi pegel" cerocos Mami sambil bibirnya menjeb menjeb.
"Lhaa ini curhatnya bukan hal remeh temeh Mi!"
"Lha trus hal apa, coba Mami tak denger ceritanya"
"Mi, aku ditolak Bapaknya Bli Radit"
__ADS_1
"Ya iyalah ditolak kan Kamu sudah sama anaknya masak mau sama Bapaknya juga? ish Maruk kamu!" lhaaaa si Mami masih bisa becanda aja.
"Nggak gitu Mi, aku ditolak jadi calon menantu"
"Alasannya?" tanya Mami
"Kita beda agama Mi" jawabku
"Lha ya betul Bapaknya Radit, menikah beda agama kan tidak diizinkan. Meskipun kita sama sama menyembah Tuhan" santuy sekali Mamiku ini
"Tapi kita kan saling cinta Mi"
"Kalian sudah dewasa, kalau memaksakan menikah ya harus pilih salah satu. Kamu yang ikut dia atau dia yang ikut kamu. Yang dipikirkan bukan kalian berdua saat ini tapi kalian berdua ke depannya. Karena akan ada anak anak kalian yang perlu diberikan landasan keagamaan. Kalau kalian belum sejalan trus gimana dengan anak anak kalian?" wejang Mami
"Jangan karena cinta Kamu tinggalkan agamamu dan jangan karena cinta kamu masuki agama baru, agama urusannya dengan Tuhan, hati, dan kepercayaan yang mantab" lanjut Mami lagi.
Dan aku cuma melongo mendengarkan Mami.
"Kamu sudah dewasa, Mami percaya kamu bisa menyelesaikan masalah ini. Apapun keputusan kamu, Mami dan Papi akan selalu ada dan mendukung Kamu. So do the best Ok?!!" kata Mami menepuk pundak ku dan berlalu meninggalkan aku sendiri di taman depan dengan cahaya mentari yang mulai redup.
Minggu yang Kami rencanakan untuk bertemu dan membicarakan masalah Kami tiba. Dia sampai ke rumah jam empat pagi, naik travel malam karena sudah tidak sabar mencari pemecahannya.
"Bli, istirahat dulu di kamar tamu ya. Ntar setelah sarapan bisa kamu ya bicarakan" kataku sesaat setelah kedatangan nya. Dia hanya mengangguk dan mengekoriku menuju kamar tamu.
'Silahkan Bli, aku tinggal dulu ya" kebetulan adzan subuh berkumandang. Aku berlalu ke kamar untuk menunaikan kewajibanku.
Setelah sarapan Kami sudah standby di teras belakang rumah. Di belakang lebih teduh banyak pohon buah kesayangan Papi, ada mangga, durian, rambutan, dan ketela. Yang semuanya belum pernah berbuah kecuali ketela.
"Bli, silahkan bicara duluan deh. Gimana seharusnya kita?" aku membuka percakapan setelah beberapa saat Kami saling diam.
"Aku bingung mulai dari mana?" rambut ditariknya satu satu, kebiasaan buruk Bli Radit kalau sedang berpikir.
"Mulai aja dari alasan Bapak yang menolak aku" kataku
"Sebenernya Bapak tidak menolak Kamu" jawabnya lirih
__ADS_1
"Trus?" desakku
"Beliau hanya memikirkan masa depan kita"
"Maksudnya?"
"Landasan hidup yang dipaksakan atau karena terpaksa akan tidak baik nantinya"
"Iya juga sih, cumaaa ..."
"Cuma apa?"
"Kalau salah satu dari kita ikhlas menjalani aku kira bisa" kataku yakin
"So sekarang aku tanya, Kamu ikhlas meninggalkan agama-mu untuk aku?"
"Ih, nggak mau lah" jawabku cepat
"Kalau aku nggak mungkin, aku satu satunya anak laki laki Bapak yang masih ada. Jadi aku nggak mungkin mengikuti Kamu" keluhnya
"Terus?" pancingku
"Entahlah" dijambakinya rambut dengan kesal.
Sampai sore Kami tidak menemukan solusi masalah Kami. Sehingga saat dia berpamitan untuk pulang aku mengambil keputusan sepihak.
"Bli, aku rasa kita sudah cukup dewasa untuk tahu bahwa kita tidak bisa disatukan. Sebaiknya kita sahabatan saja"
"Kok segitu gampang nya Kamu bilang itu?" tanyanya heran
"Habis mau gimana lagi? aku capek mikirnya" jawabku putus asa
"Kita usahakan bareng bareng ya? pelan pelan dengan kepala dingin" jawabnya sembari mencium keningku. Armada travel sudah datang, dia berpamitan pada Papi Mami.
"Om Tante, Saya pamit pulang dulu. Mohon doa buat Kami berdua"
__ADS_1