
Hari hari berikutnya telepon genggam-ku bisa lima sampai enam kali berdering telepon dari Mas Prast dari yang sekedar say hello atau curhatan curhatan aneh. Aneh? ya kupikir yang suka curhat tu cewek eehhh ternyata cowok yang lagi mabok cinta juga suka curhat. Tapi entah kenapa aku seneng aja denger curhatannya. Telepon, video call, chatting, mendominasi hari-ku. Telepon dari Mami atau ke Mami hanya sesekali kalau lagi manyun aja. Hi ... hi ... hi ... anak durhako Ya aku belum dapat giliran libur. Dalam satu bulan Kami dapat libur satu hari di hari Sabtu untuk pulang kampung. Dan Kami harus bergiliran, meskipun tiap hari Minggu Kami juga libur tapi tidak boleh pulang kampung.
Briefing Sabtu pagi ada pengumuman dari Santi, kalau besok Kami akan pindah kost.
" Team, kita nanti ulang agak awal ya. Tolong demo dipersingkat nggak usah bertele tele langsung approach buat jualan. Kita kemas kemas besok pindah kost" kata Santi.
Dengung gumam dari Kami bergema.
"Ada masalah apa ya Mbak Santi?" tanya Ika
__ADS_1
"Pindah ke kost yang lebih baik aja, nggak ada masalah apa apa" jawab Santi.
"Omzet kita di bulan pertama bagus jadi MP mengusulkan fasilitas kost kita diperbaiki' timpal Feni. MP sebutan Feni buat Mas Prast 😀
"Wahh si Dini nggak jadi kesemek lagi dong kalau pagi" tawa Mas Sikro disusul dengan yang lain.
Singkat kata Kami hari Minggu pindah ke kost yang baru di daerah Berkoh masih di Purwokerto juga dan masih dekat juga dengan kost-an milik Mbak Dewi. Kali ini semang Kami sepasang lansia, Mbah Poer namanya. Entah Poer siapa lengkapnya aku tidak tahu. Kost baru ini lebih nyaman dibanding kost lama. Kami dapat empat kamar masing maaing ditempati; Mas Sikro dan barang dagangan, Santi+Feni+Dian, Ika+Nitha+Ambar, Lestari+Widi+aku. Kami menempati deret kamar di sayap Kanan rumah. Rumah berbentuk kotak dengan halaman terbuka di dalamnya atau ditengah rumah. rumah induk ada di sayap Kiri, di bagian depan sebelah garasi sebuah paviliun ditempati sepasang suami istri Mas dan Mbak Tommi. Di samping Kami atau sayap belakang beberapa ditempati mahasiswi UNSOED semester akhir.
Hari pertama tidurku nyenyak sekali, kasur nyaman nggak ada binatangnya dan nggak bercampur sama cowok ( Mas Sikro ). Dulu aku kalau tidur harus jaim karena sebelahku Mas Sikro meski ada pisah jarak sedikit. Aku nggak bisa tidur seenaknya. Kalau sekarang ibaratnya daster sobek pun Oke h h h.
__ADS_1
Mbah Poer putra putrinya sudah menikah semua dan tinggal terpisah, kecuali putra bungsunya Mas Ario. Mas Ario orangnya ceking, putih, berhidung mancung ( kayak hidung wayang ), lumayan sih cuma lebih cakep Mas macho menurutku.
"Kenalkan Nak, ini anak Saya yang bungsu namanya Ario. Mungkin diantara anak ini ada yang mau jadi mantu Ibu? Dia jomblo abadi" kerling Bu Poer saat kami pindah dan mengenalkan diri dan Mas Ario baru keluar kamar mau pergi. Kami tertawa tidak enak hati sama Mas Ario, karena diolok olok Ibu-nya.
"Ibu tinggal pilih aja mana yang mau dijadiin mantu, mereka juga jomblo semua" tukas Mas Sikro mengangkat daguny untuk menunjuk kami.
"Hush rak sopan, ndudohi Ibu kok nganggo janggut ( hush nggak sopan nunjukin ke Ibu kok pake dagu )" Nitha mendelik.
"Ra po po Mbak ( nggak pa pa mbak) santai wae nek karo Ibu ( santai aja kalau sama ibu ). Anggap koyok Ibu-ne dhewe ( anggap kayak ibu sendiri )" tukas Bu Poer.
__ADS_1
Pak Poer hanya tersenyum saja mendengar candaan kami sambil meneliti KTP kami satu satu dan mencatat identitas kami di bukunya.