Cinta Lama Dini

Cinta Lama Dini
OFFROAD2


__ADS_3

Aku sudah siap di depan TV luar, sambil nunggu Mas Ario iseng aku buka pesan dari Mas Prast.


Mas Macho :


Non lagi ngapain? kok telponku nggak diangkat?


Mas Macho :


Angkat doongg Yang ...


Mas Macho :


Kamu kenapa sih? Kalo marah bilang dong


Mas Macho :


Lahhh kok malah dimatiin hp-nya?


Mas Macho :


Ooooo kamu dah punya yang baru ya? OK tapi caranya nggak gini dong. Kok bisa2nya sih kamu cewek kaya gini, maen dua2an


Dasar!!


Huffttt ... kulepas nafas panjang setelah baca pesannya ini.


"Napa? kesel? apa nyesek?" ada suara yang mengagetkan aku.

__ADS_1


"Ihh, Mas Ario ngagetin aja" sahutku


"Yuk ah, keburu siang" lanjutku


Mas Ario memandangku sekilas kemudian menggandengku ke garasi. Dibukanya pintu mobil tak berkaca jendela itu.


"Hati hati ntar kepentok" katanya sambil menutupi kepalaku dari besi.


"Buat apa sih Mas besi ada di sini?" tanyaku pebasaran.


"Biar kalo ada guncangan penumpang nggak terlempar keluar dari samping" jelasnya.


Aku hanya ber-oh ria aja.


Mas Ario langsung melajukan mobilnya menuju arena latihan. Karena masih pagi embun-pun masih sedikit bergayut dan metahari belum berani memperlihatkan sinarnya. Jalanan masih sepi dan Kami terhanyut dalam pikiran masing masing.


"Ah enggak Mas, biasa aja" jawabku malas.


"Emang Mamas-Mu ngapain sih? kok keliatannya kamu ogah ogahan sama dia" tanya Mas Ario


"Sorry kalau aku kepo" lanjutnya lagi


"Mamas apaan sih? gak ada Mamas Mamas-an" jawabku cemberut.


"Ya sudah kalau ga mau cerita" sahutnya.


Perjalanan kembali hening, aku sibuk dengan pikiranku yang malas melanjutkan hubungan membosankan dengan Mas Prast. Dan setelah aku renungkan sepertinya aku nggak ada rasa sama Mas Prast hanya rasa sayang dan kagum ternyata dibalik gemulainya Mas Prast ada sisi yang sangat macho.

__ADS_1


"Mmmm aku rasa aku mau akhirin aja hubunganku sama cowokku Mas" akhirnya aku buka suara


"Kenapa?" tanya Mas Ario


"Aku bosan dan kayanya aku nggak ada rasa sama dia" curhatku


"Bukan karena ada aku kan? terus kalian bertengkar?"


"Nggak sih Mas, sebelum kenal Mas Ario aku sudah mau akhirin cuma aku masih ragu sama perasaan aku. Eh tapi Mas Ario jangan GeEr yah ... Kan Mas Ario temenku" secara halus aku juga mau bilang kalau aku juga nggak ada rasa sama Mas Ario, hanya sebatas teman saja.


"Ha ... ha ... ha ... siapa juga yang GeEr? tapi kalau dikit dikit boleh dong?" tawanya


"Naaahhh ini nih yang aku nggak mau, pokoknya teman aja, titik!"


"Iya ... teman... nggak lebih ..." sahutnya tersenyum. Dan Kami pun kembali terdiam.


"Dah mo sampe nih" kata Mas Ario.


Hampir satu jam perjalanan Kami, masuk di perkampungan yang jarak antar rumah jauh jauh dibatasi dengan sawah dan kebun kebun warga. Kami masuk di semacam padang lumayan luas.


Di sana sudah berkumpul beberapa mobil semacam mobil Mas Ario yang ditempeli stiker stiker warna warni dengan aneka macam tulisan dan angka.


Dan kostum yang mereka pakai juga macam para pembalap yang sering aku lihat di TV.


"Kok Mas Ario nggak pake kostum kaya mereka sih?" tanyaku heran


"Menyesuaikan kamu aja, biar kamu nggak merasa sendirian" jawabnya.

__ADS_1


Tanpa janjian baju yang kami pakai hampir senada. Kaos putih dan celana jeans cuma warna sneakers kami aja yang beda. Aku pakai warna abu abu dan Mas Ario warna hitam.


__ADS_2