
Sesuai instruksi Pak Andre, aku ikut bis karyawan dan turun di depan pos satpam. Tidak cuma aku yang kelihatannya baru di sini, kurang lebih ada lima belas orang-an. Ternyata supplier ini pabriknya buesuar bianget.
Kami ditunjukkan ke satu bangunan di bagian depan area pabrik itu. Di depan pintu sudah ada Mbak mbak yang menyambut Kami dengan kertas absen. Kami perwakilan dari dealer se Jawa Bali. Masing masing dealer mengirimkan satu wakilnya. Jam delapan tepat acara dimulai.
Diawali dengan pidato pidato penyambutan dari petinggi petinggi pabrik habis itu baru pelatihan dimulai.
"Selama pagi teman teman semua, perkenalkan nama Saya I Ketut Raditya, teman teman Saya panggilnya Radit. Saya yang akan mengampu teman teman semua secara teori. Untuk praktek nantinya akan di ampu oleh teman Saya Andre" Pak Andre berdiri saat dikenalkan oleh Pak Radit.
"Supaya Saya juga kenal dengan teman teman semua Saya absen ya, mohon yang namanya dipanggil berdiri untuk perkenalan ya" sambung Pak Radit. Satu per satu diabsen dan masing masing memperkenalkan dirinya. Tiba giliran ku ;
"Mbak Riandini Gunarto" panggil Pak Radit. Aku berdiri dan mengangguk ke arah Pak Radit juga Pak Andre.
"Silahkan Mbak" kata Pak Radit
"Selamat pagi jelang siang Pak Radit, Pak Andre, dan teman teman semua. Perkenalkan Saya Riandini Gunarto. Boleh panggil Rian atau Dini. Saya dari PT Majapahit Semarang. Terimakasih" demikian perkenalanku.
"Mbak boleh panggil Gunarto nggak?" celetukan yang bikin gemes membuat yang ada di ruangan itu tertawa. Ternyata Pak Radit yang melontarkan sambil senyam senyum.
"Maaf Pak, Gunarto itu nama Bapak Saya. Kalau dipanggil ntar Bapak Saya ke sini kan malah berabe" jawabku
"Malah kebetulan, Saya bisa langsung ngelamar" Blushh wajahku terasa panas dan aku duduk dengan malu.
""Maaf ya Mbak Dini jangan dimasukin hati. Yok selanjutnya" kata Pak Radit lagi.
Aku sudah nggak nyimak perkenalan selanjutnya karena ribet dengan jantungku yang berdebar nggak karuan. Aku baru nyimak saat masuk pada materi pelatihan.
Saat istirahat makan siang Pak Andre mendekati ku.
"Hai, aku makan di sini ya?" sapa Pak Andre kebetulan aku belum punya teman di sini. Entah kenapa aku lagi malas bergaul akhir akhir ini.
__ADS_1
"Silahkan Pak"
"Gimana enak nasi kotaknya?" basa basi Pak Andre.
"Enak Pak, laper nggak ada snack-nya tadi" gurauku.
"Ha... ha ... ha ... iya ntar tak usul ke atas biar dikasih Snack" agak malu dia
"Rame nih makannya bareng bareng gini" Pak Radit ikut bergabung dengan Kami.
"Makan Pak Radit" tawarku
"Ya ya mari" jawabnya
Kami makan diselingi gurauan dari Pak Andre yang hoby sekali mengerjai aku.
Satu Minggu sudah Kami belajar lagi mengenai system dari supplier, ini malam Minggu tetangga mess banyak yang mojok sendiri sendiri dengan pasangan masing-masing. Aku di kamar memandang langit-langit kamar teringat Koh Tony lagi tapi aku sudah tidak akan menangis lagi. Itu akan jadi satu kenangan indah sekaligus menyakitkan buatku.
Tok ... tok ... tok
Lamunanku buyar dengan ketukan di pintu.
"Permisi" suara laki laki di luar pintu.
Aku membuka pintu dan melihat Pak Radit berdiri canggung.
"Hai Pak, selamat malam" sapaku. Aku keluar dan menutup pintu kamar.
"Silahkan duduk Pak"
__ADS_1
Mess ini berupa rumah panjang yang disekat sekat, masing masing terdiri dari Kamar, dapur, dan kamar mandi. Di depan masing masing kamar ada teras dengan satu meja dan dua tempat duduk.
"Terimakasih" nggak seperti kalau di kelas Pak guru ku ini. Kalau di kelas bisa rileks dan enjoy berhadapan dengan Kami tapi ini teramat canggung aku jadi ikut ikutan canggung.
"Tahu mess Saya dari Pak Andre ya Pak?" tanyaku membuka percakapan. Mosok mau diem dieman terus.
"Iya eh enggak, Saya lihat di daftar tamu pelatihan" jawabnya
"Andre sudah ke sini ya?" tanyanya lagi
"Iya, malem setelah Saya sampai" jawabku
Kemudian Kami mengobrol mengenai apa saja eh bukan ding tepatnya aku yang cerita tentang apa saja yang bisa aku ceritakan untuk mengusir kecanggungannya.
Jam sembilan malam Pak Radit pamit pulang.
"Sebelum pulang boleh nggak Saya minta nomor telepon Kamu?"
"Buat apa Pak?"
"Ya mungkin saja Saya suntuk butuh cerita cerita dari Kamu" sambil malu malu dia ngomongnya.
"Kan tiap hari juga ketemu Pak, kenapa harus cerita lewat telepon?" elakku
"Oh, ya sudah kalau nggak boleh. Saya pamit dulu ya. Selamat malam"
"Malam Pak, ti ti di je Pak"
Aku langsung masuk kamar dan bersiap tidur. Aaaarrrrggggghhh Pak Guru kamu lucu sekali, gumamku
__ADS_1