
Sebelum tertidur sayup aku dengar gumaman Koh Tony, "Andai Kamu bisa dicopy. Aslinya bisa aku bawa pulang copy-anmu aku balikin ke Mami" Dan dibenamkannya hidungnya dipucuk kepalaku.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hari hari setelah piknik bareng ke Jogja itu, hari hari Kami lalui dengan sedikit canggung. Tapi aku terus berusaha menepis rasa canggung dan menyuburnya rasa suka ku pada Koh Tony. Aku selalu mengingatkan diriku sendiri kalau dia sudah punya pacar eh calon malahan kata dia. Terkadang aku bingung dengan perlakuannya padaku, kalau sudah punya calon kenapa punya perhatian lebih padaku kenapa berani cium cium aku? Dan pertanyaan itu menggantung sampai saat ini.
≠\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hari ini rasa hati ku agak melow entah karena apa aku sendiri tidak tahu. Atau karena hari ini aku tidak melihat Koh Tony yang seharusnya sudah ngantor aku sendiri tidak tahu. Aku dengar dari Mbak Wati kalau Koh Tony ijin dua hari ada keperluan keluarga.
Kebetulan hari Sabtu ini Pak Bos memintaku untuk ikut meeting untuk pengajuan kontrak baru pada supplier. Kami meeting sampai lepas Maghrib, dan sialnya aku sedang tidak bawa motor. Kempes tadi bannya saat mau aku pakai dan komplitnya lagi kuota-ku habis so aku nggak bisa panggil ojol. Terpaksa naik angkot dan masuk ke gang rumahku jalan kaki. Lumayan jauh sih ya lima ratus meteran dari jalan raya.
Turun dari angkot entah kenapa hati yang dari pagi sudah melow jadi tambah melow apalagi suasana sangat mendukung. Jalanan yang sepi, remang remang, udara yang sedikit dingin karena mendung membuat air mata keluar tanpa sadar sehingga terisak kayak orang yang kehilangan sesuatu.
Sampai rumah tanpa memberi salam sama Papi dan Mami yang lagi duduk di teras menungguku, aku langsung ke kamar berganti baju kemudian mandi juga masih terisak. Kenapa ini, aku juga bingung sendiri.
Tok ... tok ... tok ...
"Din, kenapa pulang pulang kok nangis?" tanya Mami kuatir
"Nggak tahu Mi, aku cuma pengen nangis aja. Nggak tahu" tangisku makin keras
"Ya dah, dipuasin dulu nangisnya. Nanti turun makan malam ya" Mami mengelus punggungku dan keluar kamar. Aku hanya mengangguk dan meneruskan tangisku.
Setelah reda tangisku aku keluar kamar menuju meja makan. Papi dan Mami sudah mulai makan duluan. Mami mengambilkan piring dan nasi beserta lauknya ke hadapanku.
"Dah makan dulu, dihabiskan, jangan mikir macam macam. Disyukuri makanan yang ada" kata Mami dan aku cuma mengangguk. Aku makan dalam diam, bingung dengan perasaanku kenapa bisa sesedih ini dan akan air mata berasa akan tumpah saja tapi aku tahan. Tidak baik menangis sedih di depan makanan di depan rejeki itu tanda manusia yang tidak bersyukur atas karunia Allah, begitu kata Mami selalu.
Selesai makan, Papi membiarkan aku dan Mami ngobrol berdua.
"Mi Papi ke kamar dulu mau rebahan" pamit Papi
"Jangan rebahan duduk aja istirahat orang baru makan kok" nasehat Mami
Papi mengedipkan sebelah matanya memberi kode Oke dengan jari dan gerak mulut.
"Di kantor tadi ngapain aja?" Mami membuka obrolan
"Biasa aja Mi, ya cuma kerja" jawabku malas
__ADS_1
"Apa Pak Bos marah tadi?"
"Nggak Mi, orang tadi lembur meeting bareng kok"
"Lha terus kenapa kok nangis sampe kayak gitu"
"Nggak tahu Miiiii .... cuma pengen nangis ajaa .... " tangisku pecah lagi
Mami mendekatiku dan memelukku.
"Kalau ada masalah mbok ngobrol sama Mami"
"Nggak ada masalah apa apa Mi"
"Kabarnya Ha Te gimana?"
"Baek Mi, kenapa nanyain Koh Tony?" tanyaku heran
"Ya kali kali aja Kamu bertengkar sama Ha Te"
"Nggak Mi, orang Koh Tony ijin nggak masuk dari kemarin kok"
"Oohh"
Hari Senin seperti biasa aku malas ke kantor.
"Din sudah jam setengah tujuh lho, ntar terlambat" tegur Mami sedang aku masih santai lihat Upin Ipin di Tivi 😀
"Iya Mi bentar" sahutku
Tok ... tok ... tok ...
"Permisi Tante, Riannya ada?" tanya si tamu
"Dari mana ya?"
"Temen kantornya Rian, Tante"
"Mari masuk, Dini lagi liat Upin Ipin"
__ADS_1
Mami masuk dan memberitahuku, ngapain temen kantor datang kesini? bathinku. Dan aku keluar menemuinya.
"Oh, hai Rud! tumben" sapaku
"Iya, mau jemput kamu. Berangkat bareng yuk, sudah siang lho"
"Oh, oke Ayuk"
Aku ke dalam berpamitan pada Mami Papi.
"Tante, Om, Saya pamit. Rian bareng sama Saya" pamit Rudy
"Ya hati hati ya" jawab Papi, Mami hanya menganggukkan kepala.
Sesampai di parkiran kantor.
"Rian aku mau ada omongan dikit ke Kamu" kata Rudy. Nhaaa ini yang aku tunggu, pasti ada udang dibalik rempeyek. Nggak biasa biasanya Rudy jemput aku.
"Ada apa sih? nggak usah sungkan" jawabku
"Mmmm kamu jangan kaget atau sedih ya!?? Ha Te sudah nikah kemaren" dhegghh .... cuma aku berusaha biasa saja toh selama ini aku juga sudah tahu kalau dia sudah punya calon.
"Oh, kapan?" aku berusaha cuek
"Kemaren Sabtu"
"Resepsinya kapan? kok belum ada undangan?" tanyaku
"Nggak ada resepsi, cuma ijab qobul aja"
"Oowwh"
"Yang diundang cuma aku sama Pak Agus"
"Owwhh"
Kami berjalan ke tempat absen dalam diam.
"Koh Rudy, belum berangkat keliling?" sapa Novita sambil melirik tajam ke arahku. Dan tidak aku gubris dan langsung masuk ke ruangan ku. Sedikit sobek hatiku mendengar kabar Koh Tony menikah.
__ADS_1
"Belum, lagi pengen jemput Rian, ada masalah?" ketus Rudy.
Novita sambil cemberut berjalan ke meja-nya.