
"Yang, pulangnya arah mana nih?" tanya Koh Tony setelah keluar dari tempat parkir.
"Hah? oh ke arah Tugu aja Koh" jawabku. Aku terpesona dengan panggilan Yang dari Koh Tony.
"Okee ready? Go!!"
Aku cuma bisa senyum galau. Masih terasa cengkeraman tangan Mas Prast di lenganku. Dan deg deg an ku juga belum hilang.
Sepanjang jalan aku diam saja hanya menanggapi sepatah dua patah kata saja dari cerita Koh Tony yang sepanjang perjalanan ceritaaa terus. Entah cerita apa aja.
"Yang, sudah masuk daerah Tugu nih" Koh Tony memecah lamunanku
"Oh, lurus aja Koh. Ntar ada masjid besar kanan jalan masuk ke gang di depannya. Rumahku paling ujung"
"Siyaap tuan puteri"
"Halah, apa to tuan puteri tuan puteri nan barang" aku tersipu serasa melayang he he ...
"Yang pager ijo ya?" tanya Koh Tony saat masuk ke gang rumahku.
"Iya Koh"
"Nah dah sampe"
Kami masuk ke halaman rumah, kebetulan Mami sama Papi lagi berduaan di teras.
"Malem Om, Tante" Sapa Koh Tony
"Ya malem, Dah pada kenyang?" tanya Papi tanpa basa basi
"Ha ... Ha ... Ha .... iya Om Kami habis makan makan tadi ditraktir Manajer" jelas Koh Tony.
__ADS_1
"Ih apaan sih Papi nanya kok gitu" gerutuku.
"Lah emang nggak boleh tanya kayak gitu ya Mi?" tanya Papi ke Mami
"Hayyah Bapak Anak kalau ketemu kok musuhan. Ayo Mas masuk dulu" jawaban Mami untuk Papi telak yang langsung membungkam Papi.
"Terima kasih Tante, Saya langsungan aja sudah malam" pamit Koh Tony
"Wah iya, bener nih nggak masuk dulu Nak ....?" pertanyaan menggantung Mami
"Antony Wijaya Bu"
" Owh iya Mas Tony, terimakasih lho sudah anter Dini pulang"
"Iya Tante, sama sama. Saya permisi pulang dulu, Om, Rian, Saya pamit" Koh Tony mohon diri. Papi cuma mengangguk dan tersenyum.
"Apik kelihatane anaknya" gumam Papi tapi masih terdengar jelas.
"Ya nggak Din?!" senyum nakal Mami mulai beraksi, dijenggitkan alisnya padaku.
"Apaan sih Mami, orang temen juga" sungutku.
"Lah Mami kan minta pendapat Kamu, ihh anak Mami ge er an" cibir Mami
"Dah sana mandi, ah bau tau. Mami tak pacaran dulu" Mami mendorongku masuk dengan menutup hidungnya.
Setelah mandi aku istirahat di kamar, apa ya maksud Koh Tony kok panggil aku Yang. Apa cuma karena keterusan melindungi aku dari Mas Prast atau memang ada hati sama aku. Ihh ge er bener kata Mami. Entahlah yang pasti niatan berteman baik. Akhirnya aku terlelap sendiri.
\=\=\=\=\=\=\=\=
Hari Senin, hufft kenapa ya ada hari Senin? dan kenapa kalau hari Senin rasanya malaaaasss banget kerja.
__ADS_1
Sampai kantor aku lihat beberapa temanku masih berada di luar pagar, ada apa ya? perasaan kemarin nggak ada rencana pada mau demo.
"Mbak, kok belum dibuka pagarnya?" tanyaku pada Mbak Wati yang kebetulan juga sudah datang.
"Lagi nunggu Cik Lani, karena Pak Tris lagi sakit"
"Owh"
Pak Tris satpam yang bawa kunci pagar utama, dan Cik Lani kepala gudang yang membawa duplikatnya.
Tiba tiba pundakku ditepuk seseorang.
"Mbak Rian, Koh HT udah berangkat ya? Minggu ini jalan kota apa pinggir?" pertanyaan beruntun yang aku rasa tidak sewajarnya ditujukan kepadaku
"Lah kok tanya-nya ke aku Nov?" selidikku pada Novita, orang yang mengajukan pertanyaan tadi.
"Lha sama siapa lagi kalau bukan sama Mbak Rian?" tambah nyolot dia
"Sori nih, hubungannya sama aku apa ya? aku kan admin pembelian. Kalau mau tahu ya tanya sama asisten manajer to ya" aku jadi sengit. Bau bau-nya ada udang di balik gimbal ini.
"Yoo yang lebih tahu Mbak Rian to ya" semakin kelihatan ada sesuatu di balik senyum sinisnya.
"Lha emang aku apanya Koh HT? kok harus tahu sedetil itu?" semakin penasaran apa maksud ucapan Novita itu.
"Lha emang situ apanya? kok malah tanya" waduh ngajak perang ini nadanya, sudah membentak dia sambil berkacak pinggang di depanku dengan dagu terangkat.
"Wes wes uwis, HT berangkat nanti jam 10an jatah jalan kota. Tanya tu sama Aku wong aku manajernya. Nek Rian mbok tanya-i yo nggak mudheng" Pak Agus yang baru datang langsung nyamber.
Huuuffftt selamett selamett dari pertanyaan nggak mutu yang Marmosi ( Marai emosi ).
Ada gosip apa nih soal aku sama Koh Tony. Dan ada apa kok sampai ada yang panas hati.
__ADS_1