
"Pi, Saya ngikut rencana Papi aja. Menikah dua Minggu lagi dengan Dini" sepulang kerja Koh Tony langsung menghadap Papi.
"Woke good, tapi harus Kamu ingat lho. Jika Kamu sudah mengijab putri Papi, itu berarti tanggung jawab Kami sebagai orang tua sudah selesai. Dan Dini akan menjadi tanggungjawab mu sepenuhnya" urai Papi
"Inshaa Allah Pi" jawabnya mantab
Mempersiapkan pernikahan hanya dalam waktu dua Minggu, sungguh sangat menguras tenaga dan pikiran.
"Din, besok Kamu ijin kerja berangkat siang. Kita ke KUA ketemu dengan Bapak Penghulu jam delapan" perintah Papi
Degghh !! Lhahhh katanya dua Minggu masak baru empat hari sudah suruh hadap penghulu??
"Besok Pi? katanya di minggu lagi Pi" jawabku terkejut
"Iyaaa nikahnya dua Minggu lagi tapiiii Pak Penghulu mau mastiin ke kamu dulu" Papi mengacak rambutku dan tersenyum
Esoknya Aku dan Papa menghadap Pak Penghulu di KUA
Kami mengantri untuk dipanggil menghadap, ternyata yang ingin menikah di Minggu itu bukan aku saja tapi ada dua pasangan lain.
"Riandini!" namaku dipanggil petugas KUA
"Silahkan masuk Pak Mbak" petugas mempersilahkan Kami
"Selamat Siang Pak" aku dan Papa hampir berbarengan mengucap salam
__ADS_1
"Siang siang Pak, Mbak. Monggo silahkan duduk" kata Pak Penghulu
"Ini Saya akan memastikan saja pada Anda, Mbak Riandini Gunarto? betul itu ya nama pemohonnya?"
"Iya betul Pak" jawabku agak sedikit gugup
"Calon suami nama Anthony Wijaya, betul?"
"Betul Pak"
Semua data diri ditanyakan oleh Pak Penghulu supaya dalam pencatatan tidak ada kesalahan. Tetapi ada satu pertanyaan yang membuat aku marah sekaligus malu.
"Status Anda sekarang ini apakah perawan?"
Wuahh aku langsung berdiri, Papi sampai kaget.
"Dinn, Ojo nesu siikkk. Ora ngono maksude Pak Penghulu" Papi mengelus lenganku
"Lha terus maksude opo kok tanya aku perawan apa nggak?" aku masih saja nyolot
"Mbak status di KUA itu cuma ada tiga yaitu : perawan atau jejaka, janda, dan duda. Saya nggak peduli dan nggak tanya Mbak e itu-nya masih segelan atau sudah bukaan! Saya tanya status thok thil" si Bapak menunjuk dengan dagunya ke arah bawahku dengan wajah masygul.
"Ohh gitu ya, maaf Pak" malu, aku duduk lagi
"Ya sudah langsung aja-lah, daripada Saya dikira tanya yang aneh aneh. Anda sudah mantab menikah dengan calon suami? dan tidak karena terpaksa?" senyum kecut menghiasi bibir Pak Penghulu.
__ADS_1
"Ya Pak, Saya mantab dan tidak terpaksa"
"Buat Bapak Gunarto, apa panjenengan mengijinkan putri panjenengan Mbak Riandini menikah?"
"Saya mengijinkan Pak" mantab Papi ngomongnya.
Akhirnya semua administrasi baik dari pihakku maupun Koh Tony sudah selesai, berkas sudah komplit semua.
Semua persiapan akad dan resepsi sudah beres dan undangan sudah disebar. Termasuk super kilat persiapannya, sampai orang orang terdekatku heran.
"Loh Yan, perasaan nggak ada rasan rasan kamu mau nikah kok ujug ujug nyebar undangan" Mbak Wati menyatakan keheranannya.
"He he he ... kejutan kok Mbak" sahutku cengengesan
"Tapi Kamu nggak curi start to Yan?" tiba tiba Pak Bos sudah ada di belakangku
"Maksudnya Pak?" tanyaku bingung
"Gini duluan" tangannya memperagakan gerakan perut buncit.
"Wah enggak-lah Pakk, amit amit. Saya masih anak baik dan Sholehah Pak"
"Sholehah dari manaa??" sembur Pak Agus sambil ngakak
"Weee lha Saya ini baek, tidak sombong, menjaga kehormatan, dan sayang sama teman. Opo nggak Sholehah itu namanya?" sewotku
__ADS_1
"Iyo Iyo Sholehah, percoyo!!" Pak Bos tertawa dan memberi kode Pak Agus supaya berhenti mengerjaiku.