
Beberapa hari berjalan Kami sudah hampir melupakan kejadian pencurian itu. Sampai pada minggu pagi hampir semua anak kost libur kerja atau sekolah kecuali Mang Jajang dan Kang Pendi yang tetap kerja, malah di hari libur biasanya warnet mereka ramai. Banyak dari kami yang me-rapel pekerjaan rumah, kayak aku, Feni, Widi, dan Anwar yang pagi itu saingan cuci baju.
" Mbak Feni, aku nanti kalau aku kurang minta sabun cuci ya?" kata Widi yang melihat Feni nenteng kemasan sabun cuci ukuran besar.
"Lhahh gue beli yang besar tuh biar nggak bolak balik ke warung bukan buat nyediain elu elu kalo kekurangan sabun" mengerucut bibir si Feni.
"Mbak Fen, amal mbaakk" tawaku
"Aku DPS yo, bukan badan amal" jawab Feni sambil melotot ke aku.
"Baru rencana minta, sudah ribet amir yak" si Widi ngedumel tapi masih bisa kami dengar.
"Piyeee!!?" dengus Feni
"Nggak kok" jawab si Widi takut takut. Secara dia yang paling pendiam di team kami, istilahnya kayak gamelan kalau nggak dithuthuk (dipukul) dia nggak bakalan bunyi. Waktu senggangnya lebih banyak buat main di warnet Mang Jajang atau baca buku pinjaman dari Kang Pendi.
"Wid, semalem kamu ngapain aja" tanya Feni tiba tiba.
"Nggak kemana mana kok Mbak, emang napa?" tanya si Widi.
"Lehermu habis digigit vampir ya?" kerling Feni memanyunkan bibirnya ke arah leher si Widi. Kami yang lagi asik kucek kucek baju reflek mata tertuju ke leher Widi.
"Ha ... ha ... ha ... vampir cowok" tawa si Anwar.
"Ah, bukan apa apa. Habis aku kerokin kok" Widi salah tingkah.
"Bentar ya mo minum dulu" sambung Widi lagi kemudian pergi meninggalkan kami.
"Emang napa sih mbak Fen kalo lehernya merah?" tanyaku polos.
"Hua .. ha ... ha ... Fennn jelasin Fen... lu ngomong sama anak dibawah umur harus jelas" tawa si anwar pecah lagi. Feni menepuk jidatnya sembari menggelengkan kepala.
"Hadeeww, dia tidurnya kemaleman so ada vampir iseng digigit deh leher si Widi" jawaban Feni malah bikin aku merinding.
__ADS_1
"Beneran ada ya vampir?" aku nggak percaya kok kayak cerita cerita di luar negeri aja.
"Iya, vampir cowok yang doyan nasi sama tumis teri" kekeh si Anwar lagi.
"Wis ra sah dibahas maning (sudah nggak usah dibahas lagi)" putus si Feni. Tapi aku yang masih penasaran soal vampir malah jadi mengganjal di hati.
Setelah selesai acara merapel pekerjaan rumah iseng iseng aku main ke kamar si Anwar yang lagi terbuka pintunya.
"Tok... tok ... tok...War ngobrol yuk" kuketuk pintu kamar si Anwar dan kulongokkan kepalaku.
"Tumben ngajakin ngobrol" sahut si Anwar.
"Iseng aja, gue masih penasaran sama vampir War" jawabku serius.
"Ooohhh ituuu??" tawa jahil Anwar
"Beneran kamu belum tau?" lanjutnya. Aku menggeleng.
"Nih gue kasih tau ya.. tapi lu kudu kuat iman" Anwar serius tapi senyum jahilnya masih ada di sana.
"Itu kerjaan pacar si Widi, dia ciumnya salah tempat. Harusnya di pipi cuma karena si Widi lagi ngambek melegos deh dia. Soo ciumnya kena di leher" jelas Anwar. Dan aku cuma manggut manggut.
"Nggak usah dipercaya Din, bo'ong diaa" ssmbar Deni.
"Ha..ha..ha ... noh tanya pakarnya" tawa Anwar sambil nunjuk Deni dan masuk kamar sambil nutup pintu tapi suara ketawanya masih kedengeran dari luar.
"Yahhh dikerjain deh" sungutku. Deni agak kasihan melihatku penasaran.
"Cerita Anwar garis besarnya bener Din, cuma nggak bisa detil. Lu kalo mau detil bisa praktek sama aku" alis Deni dijengkitkan ke atas.
"Dih!! no tengkiu Mas gue belum mau pacaran" jawabku.
"Waaaa belum tau rasanya sih, ya nggak Pen?" Kang Pendi yang baru mau buka pintu kamar kaget diajak ngomong.
__ADS_1
"Hmmm, gue masuk dulu" Kang Pendi buru buru masuk kamar.
"Lhahh tunggu tunggu ... kelihatannya itu celana panjangku deh" dumel Deni
"Tumben Den nggak setoran ke istri" Mang Jajang lari lari dari warnet menyapa Deni dan melambaikan tangan ke aku.
"Nggak" Deni balas melambai
"Penn ... Kalau naro kaos jangan sembarangan atuh" Mang Jajang ketok ketok pintu, di tangannya tersampir kaos.
"Jang!! Itu kaos siapa?" tanya Deni mendekati Mang Jajang meraih kaos di tangan Mang Jajang dan menelitinya.
"Punya gue ini mah, yang ilang kemaren ini" cerocos Deni nggak memberi kesempatan Mang Jajang menjawab.
"Punya Pendi kan?" tanya Mang Jajang.
"Waaaa nggak beres nih si Pendi" kata Deni lagi.
Malam itu kami dikumpulin semua membahas masalah pencurian yang melibatkan Kang Pendi, ada Mas Nino dan Mbak Dewi. Ternyata yang mengambil baju baju kami adalah Kang Pendi sebagian baju diloakin beberapa dipakai sendiri.Dia pakainya kalau hari Minggu karena Deni selalu pulang kampung biar nggak ketahuan si empunya.
"Lha CD-ku kamu apain Kang?" tanyaku polos.
"Nggak diapa apain, cuma disimpen aja" jawabnya kalem. Diambilnya CD-ku dari lemari dan diberikannya padaku.
"Idihhh kok gitu sih" gusarku jijik
"Aku naksir kamu Din, cuma kamu sombong. Tapi aku dah dapetin Widi gantinya kamu"
Wahhhh sakit nih orang, bathinku. Widi langsung balik kanan masuk kamar.
"Wahh kita kita nggak bisa nerima kamu kost di sini lagi Pen. Maaf ya besok kamu cari kost lain deh" Mas Nino angkat bicara.
"Ya, kost-an mah banyak nggak cuman sini doang" santai sekali Kang Pendi nggak ada rasa bersalah ataupun malu di wajahnya. Mang Jajang nggak bisa berkata apa apa cuma sesekali ambil nafas panjang.
__ADS_1
CD akhirnya aku bakar, jijik dan takut kalau mau pakai lagi 😊