
Aku kenal dengan dia lewat seorang comblang, dia adalah anak yg seorang kyai di pondok tempatku belajar agama saat awal aku jadi mualaf. Umurnya waktu itu masih enambelas tahun baru kelas satu Madrasah Aliyah. Dan aku sudah bekerja di perusahaan makanan jadi salesman juga. Aku dan dia selisih umur empat belas tahun. Kami kemudian dijodohkan oleh pengurus pondok dan Kami ( aku dan dia beserta keluarganya setuju ) tapi aku ingin dia lulus dulu dari sekolahnya baru aku akan menikahinya.
Karena ada penawaran pekerjaan yang lebih baik maka aku pindah ke PT Majapahit yang kemudian menjadikan Aku kenal dengan Kamu.
Awal melihat Kamu di parkiran motor aku merasa ada rasa khusus buat Kamu. Cuma karena Aku pendatang baru jadi belum berani mendekati Kamu. Dan suatu keuntungan buat aku ruang kerja kita satu tempat yang sama. Sehingga aku bisa melihatmu meskipun hanya di hari Jumat dan Sabtu saja. Dan kesempatanku semakin luas saat Kamu terbuka padaku dengan membolehkan aku menitipkan tas, ikut duduk bareng. Rasanya senang, bangga, deg deg an, nyaman sekali kalau bisa aku pengen bisa duduk bareng Kamu terus. Meskipun tiap hari Minggu aku mengunjungi dia tapi aku selalu berharap setiap hari adalah hari Jumat dan Sabtu saja.
Dan saat hanya berduaan denganmu rasanya tidak pengen berpisah. Jujur yang aku bilang waktu di mobil dulu itu keluar dari hatiku, kalau aku ingin memfotokopi Kamu. Membawa Kamu yang asli dan fotokopiannya aku kembalikan ke ortumu. Tidak ada niatan untuk melecehkanmu waktu itu, aku menciummu murni karena rasa yang aku pendam untukmu. Mungkin itu cinta tapi entahlah.
__ADS_1
Sampai suatu ketika aku harus menikahi dia karena dia sudah lulus sekolahnya sesuai dengan perjodohan Kami waktu itu. Sebenarnya bukan suatu keharusan bagiku untuk menikahinya. Hanya karena waktu itu aku berpikir jika aku menikahi seorang anak kyai maka surga adalah pahalanya. Meskipun aku tidak bisa melepaskan rasaku padamu. Aku menunjukkan padamu cincin yang akan aku berikan padanya, kuminta Kamu mencobanya. Aku berpikir Kamulah orang pertama yang akan memakai cincinku sebelum dipakainya.
Aku menikahinya dalam kesederhanaan. Kamu tahu sendiri kondisi ekonomi keluargaku dan penghasilanku saat itu. Kan Kamu yang suka ngeprint target dan komisi yang sudah aku dapat. Kami berumah tangga selama dua tahun lebih lima bulan dan status pernikahan Kami adalah menikah siri sehingga pernikahan Kami tidak tercatat secara resmi. Entah apa alasannya saat aku ingin mendaftarkan pernikahan Kami selalu ditunda. Awalnya dia mengikuti aku tinggal di rumah orang tuaku, dan karena kasus itu aku harus keluar dari pekerjaan dan berpisah dari Kamu. Setelah aku keluar kerja untuk sementara aku menganggur dan mencari kerja yang membuat dia ingin tinggal bersama orangtuanya karena otomatis aku tidak menafkahinya. Selama aku belum bekerja aku tidak pernah menjenguknya karena tidak ada ongkos jalan dan setelah aku mendapat pekerjaan mengharuskan aku seminggu sekali mengunjunginya karena rumahnya di luar kota yang jaraknya cukup jauh. Seiring berjalannya waktu ternyata orang yang menjodohkan dan mencomblangi Kami ada perjanjian tersendiri dengannya yang tidak aku ketahui.
Ternyata dia dan keluarganya mau menikah denganku karena dijanjikan akan dibelikan mobil olehku, hal ini dikatakan oleh yang mencomblangi Kami saat neneknya menagih mobil yang dijanjikan padaku. Karena aku tidak tahu dan tidak ada uang untuk membeli mobil apalagi aku baru satu bulan bekerja, neneknya memintaku untuk menceraikannya.
Itu cerita Koh Tony padaku setelah Kami ada di kafe.
__ADS_1
"Aku sudah maafin Kamu jauuhh sebelum Kamu minta maaf Koh. Tapi aku belum bisa memberikan kesempatan padamu Koh" kataku sembari menepis tangan Koh Tony yang berusaha meraih tanganku.
"Sebaiknya kita berteman saja Koh, lebih nyaman buatku" tambahku lagi.
Dia hanya terpekur sambil menatapku penuh harap.
"Tapi aku akan terus berusaha supaya Kamu memberiku kesempatan lagi" ujarnya lirih yang semakin mengiris hatiku.
__ADS_1