Cinta Lama Dini

Cinta Lama Dini
PERSAINGAN


__ADS_3

Pelatihan rencananya akan berlangsung selama lima hari. Dari hari Senin sampai hari Jumat. Sabtu Pak Andre berencana pulang ke Jakarta.


Selama ada Pak Andre jatah makan siangku agak lumayan mewah. Biasanya Aku makan di kantin yang adanya makanan rumahan sederhana. Sekarang setiap siang aku menemani beliau makan nasi kotak yang dibelikan kantor. Meskipun nasi kotak tapi menu-nya jauh lebih enak dari yang di kantin. Dan Kami makan di mejaku setiap jam istirahat sambil membahas materi latihan.


Gubrak ... bruk ...


Aku dan Pak Andre yang sedang asik makan dan membahas materi kaget bukan kepalang. Mbak Tini melemparkan setumpuk berkas di meja-nya dengan merengut.


"Rian temanmu kok nggak ada sopan sopannya ya?" Pak Andre menegurku


"Maaf Pak, mungkin lagi PMS dikasih banyak kerjaan sama Pak Bos" jawabku minta pengertian


"Kelihatannya belagu banget ya orangnya?"


"Ah, biasa saja Pak. Bapak belum terbiasa dengan Dia aja Pak" cengirku


Pak Andre cuma geleng geleng kepala.


"Ayo Pak dilanjut" ajakku


"Oke, jadi gini ....."


Pelatihan pun berlanjut.


Di hari kedua, ternyata drama Mbak Tini masih berlanjut. Kali ini dia menendang kursi plastik yang aku gunakan untuk duduk karena kursi-ku kantor dipakai Pak Andre. Dia ingin mengambil berkas Salesman di lemari belakang tempat dudukku Dan aku sedang di toilet, saat kursi-ku ditendang karena menghalangi jalannya.

__ADS_1


Gubrak ....


Mendengar suara itu Pak Bos yang ada di ruang sebelahku langsung menuju sumber suara.


"Suara apa itu tadi?" tanya Pak Bos


"Tini nendang kursi pak" jawab Pak Agus yang kebetulan ada di ruangan. Pak Andre hanya diam saja.


"Kok ditendang? salahnya kursi apa?" tanya Pak bos, kali ini langsung ditujukan ke Mbak Tini. Mbak Tini diam saja sambil pura pura membereskan berkas di meja-nya.


"Mau Kamu apa sih? Jangan sok sok an ya, nggak ada Kamu Saya nggak rugi kok. Banyak orang lain yang mau kerja baik. Jangan merasa sok penting" Pak bos sudah merasa dan melihat gelagat Mbak Tini yang tidak suka dengan adanya pelatihan itu.


Pak Bos keluar ruangan dengan muka yang marah berpapasan sama aku.


Sampai di ruangan, belum sempat aku tanya tanya.


"Ono gempa Yan, kursi-mu njempalik" Pak Agus memberitahuku


"Lho mosok to Pak? Saya di toilet nggak kerasa apa2?" jawabku


"Tanya o Tini" Pak Agus ketawa dan berlalu keluar ruangan


"Mbuhh!!" ketus Mbak Tini ngelihat aku dan menggebrak pelan mejanya dan keluar. Aku yang bingung jadi semakin bingung.


"Ini minum dulu, biar nggak kaget" Pak Andre menyodorkan botol minumku dan tersenyum.

__ADS_1


"Ada apa to Pak?" tanyaku setelah minum.


"Sudahlah, urusannya Pak Bos-mu dan dia" tunjuk dagu Pak Andre ke kursi Mbak Tini.


"Itu lhoo tadi kursi-mu ditendang Mbak Tini, terus dia dimarahin Pak Bos" Mbak Wati menjelaskan.


"Oh, gitu. Walahh" jawabku lega


"Ayo Pak dilanjut pelajarannya" ajakku pada Pak Andre.


Di sela sela pelajaran, tanpa melirikku sama sekali Pak Andre menghela napas dan bilang:


"Kamu kok bisa sepolos dan secuek itu sih Rian?"


"Maksudnya Pak?" tanyaku nggak mengerti


"Kamu bisa santai selagi ada orang yang iri dan berbuat yang tidak baik sama Kamu"


"Siapa to Pak yang iri dan tidak baik sama Saya?' tanyaku masih nggak mengerti.


"Kamu kerja di sini sudah berapa tahun?" Pak Andre mengalihkan pembicaraan


"Dua setengah, hampir tiga tahun Pak"


"Saya yang baru dua hari aja tahu, kamu yang sudah dua tahun lebih nggak tahu" Aku melongo, "Lah biar aja lah Pak, yang penting Saya niatnya kerja nggak nyakitin orang nggak ngerugiin orang" jawabku.

__ADS_1


__ADS_2