
Hampir dua minggu aku bersama sama teman teman team dan kost dengan berbagai cerita, kejadian, dan pengalaman.
Warung Soto Banjar Pak Kirsan secara tidak resmi jadi katering Kami. Pak dan Bu Kirsan kalau kami jajan buat makan malam selalu tanya besok mau makan apa? H h h kaya Mami kalo aku di rumah. Jadi inget Mami ... hiks kangen. Ntar malam telepon agak lama ah. Kebiasaanku kalau malam cuma say hello aja sama Mami sekedar absen biar Mami nggak kuatir. Rasa rindu rumah teralihkan dengan adanya teman teman baru dan pengalaman baru.
Pagi ini aku bangun dengan badan bentol bentol seperti biasa, semenjak kost setiap bangun tidur badanku selalu begitu. Tapi herannya cuma yang nempel kasur aja yang diserang bentol. Dan bukan hanya aku tapi beberapa teman juga mengalami. Tadinya aku pikir karena debu di kasur.
"Bentol lagi Din?" tanya Mas Sikro saat lihat aku menaburkan bedak gatal di lengan dan kakiku.
"Iya Mas, wah susah kalo tiap hari gini. Bisa thing mblaker ( bhs. Jawa \= kaya cakaran ) badanku"
Selesai urusan balur membalur bedak aku piket membersihkan kamar tiap Sabtu bareng Ika. Hari ini Aku kebagian nyapu dan ika bagian, ngerapihin kasur tugas bersama. Kasur harus dapat perhatian ekstra nih, selain ada di lantai kasur tempat aktifitas kami. Makan di atas kasur, ngobrol, main kartu, de es be lah pokoknya. Sebelumnya aku sudah minta seprai pengganti ke Mbak Dewi karena sudah dua minggu belum diganti. Kami; aku dan Ika dibantu lestari juga Nitha melepas seprai seprai yang akan diganti.
"Ih, apa nih? kok ada binatang ginian?" seruku.
"Semut paling" Lestari yang disebelahku menyahut.
"Bukan ya Les, lebih gede dari semut. Gendut lagi" Ika menimpali.
Nitha melongok melihat kasut.
"Wahhhh kepinding itu, ihhh banyaakkk. Hiiiyyy" seru Nitha bergidik dan lari ke luar.
__ADS_1
"Kepinding ki opo sih ( kepinding tuh apa sih)?" tanyaku
"Halah bahasa jawa-ne tinggi itu lho, kalau betawi ******* namanya" Lestari menjelaskan.
"Wis yuh di jemur aja biar pada mati" kata Mas Sikro.
"Mas aku jijik" kataku
"Ya sudah kamu nata kursi ja buat alas jemur kasur"
Akhirnya kasur kasur kami jemur semua total ada 10 kasur berjajar di halaman. Untung halaman kost luas. Dan Kami memutuskan untuk libur hari ini, karena Mas Sikro juga belum mendapat tempat untuk demo kami.
"San, kalau cuma dijemur kepinding nggak bakal hilang, mereka cuma ngumpet didalam. Coba kasih serbuk kapur barus campur minyak tanah" seru Deni melihat kehebohan kami mengurus si kepinding itu.
Setelah campuran minyak tanah dan serbuk kapur barus jadi kami rame rame mengoles kasur kami masing masing. Bener juga kepinding kepinding besar kecil pada berjatuhan setelah kami oles dan kena panas matahari.
"Oooo jadi ini yang bikin badan bentol bentol" gumamku bergidik jijik. Hihhh sama nyamuk aja aku jijik, ini kok selama dua minggu nggigitin badanku aku nggak tahu. Baru tahu bentuk kepining dan merasakan gigitannya.
"Wahh ntar malem bisa tidur pules kamu Din" senyum Ambar sambil colek pipiku. Iya selama ini aku lebih dekat ke Ambar dibanding sama teman teman satu team yang lain.
Sore-nya kami melepas lelah setelah seharian berkutat sama kasur dan kepinding.
__ADS_1
"Beli roti bakar sama susu jahe yuk, di Kebondalem" ajakku ke Ambar.
"Traktir to?" kerling Ambar
"Siapa takut" senyumku
"Ntar aku ganti baju dulu"
Kami berjalan kaki ke Kebondalem, area jajanan. Banyak pedagang kaki lima menggelar lapak makanan di sana, tinggal pilih dan sesuaikan kantong hi hi hi....
Saat Kami baru menapakkan kaki di seberang jalan.
"Din, mau ke mana?" teriak seseorang di gerbang kost-an.
"Mas Prast?" gumamku
Aku lihat Mas Prast ganteng sekali dengan kaos biru muda dan celana jeans menenteng kresek hitam. Kami balik lagi menuju kost-an.
"Lhoh Mas Prast? kok ke sini? team ada masalah?" tanyaku
"Emang nggak boleh aku main sini, harus ada masalah dulu to baru aku boleh ke sini" cemberut dia.
__ADS_1
"He ... he... he ... ya nggak-lah, yuk Mas masuk" semburat merah pipi-ku malu.
Malam itu kami ada perbaikan gizi berkat kedatangan Mas Prast yang membawa martabak telor dan ayam goreng.