
Sengaja pagi ini aku pengen bangun siang, area kerja hari ini cuma di kampung sebelah. Jadi bisa agak santai. Tapi itu cuma harapanku saja ternyata.
Sehabis shalat Subuh aku lanjutin mimpi indahku. Mensyukuri nikmatnya menjomblo. Tanpa harus terusik dengan dering telepon yang harus diangkat ataupun pesan yang harus dan kudu dibalas ( tp kalau itu dari Mami sih harus wajib dan kudu cepet direspon ).
"Diiinnn bangun, molor bae!" teriak Shanty di telingaku.
"Hihh kaget aku" dengan mata setengah terbuka dan kepala berdenyut karena kaget aku kumpulkan nyawa-ku perlahan lahan.
" Apaan sih, heboh bener!" aku mengerucutkan bibir.
"Lu packing dah semua barang barang Lu, ntar sore kita pindah" bibir Shanty nggak kalah manyun.
"Lhah emang napa Shan? kok kita pindah? pan dimari dah bayar 3 bulan" tanyaku keheranan.
"Lu tanya sendiri noh sama si bonceng" sewot jawaban Shanty.
Whatt?? Mas Prast? Napa ya? perasaan omzet baik baik aja, meningkat malah. Secara tempat kost yang sekarang ini strategis karena padat pemukiman, kemana mana dekat karena di tengah kota.
__ADS_1
"Fen, kok kita pindah kost napa ya?" tanyaku penasaran
"Ntar juga Lo bakalan tau, kita briefing dl sebelum berangkat kerja" jawab Feni.
"Maka ne nek kerja ki fokus sama kerjaan ora pacaran bae" si Widi langsung nyolot ke aku
"Hushh wes wes nggak ribut dewe, ayo cepetan packing. Ntar pulang kerja langsung pindah" Feni menengahi Kami.
Ada apaaa ya? bathinku.
Akhirnya rasa penasaranku terjawab saat briefing.
"Intinya tunda dulu pacaran pacaran atau acara acara yang nggak perlu" tambahnya lagi.
"Dini, tolong kita jauh dari keluarga kalau bisa jaga sikap & perilaku untuk menjaga nama baik kita semua satu tim ini dan keluarga di rumah" Feni langsung ke arah ku. Aku lihat Widi tersenyum mengejek ke arahku.
"Lhah emang salahku dimana Fen? sikapku yang mana yang salah?" cecarku
__ADS_1
"Info yang didengar leader pusat, Lo sering gonta ganti cowok" kata Mas Sikro
"Whatt?" desisku sambil mengernyitkan dahi
"Info dari mana sih? picik sekali orang yang kasih info" Dian yang pendiam angkat bicara
"Apa sekedar pergi bareng, ngobrol, makan bareng bisa dibilang pacaran? punya temen banyak kan nggak ada salahnya? kenapa itu jadi alasan? nggak masuk akal banget" cerocos Dian lagi.
"Lha kalau cuma teman kan nggak mungkin to Mbak Dian, pergi berduaan dari esuk umun umun sampai petang, laki perempuan pergi berdua? ngapain coba kalau nggak pacaran?" si Widi angkat bicara. Aku langsung ngakak denger kesaksian Widi. Woooo ini to biang keroknya ... woalahhh
"Yo wes lah, sak karepmu Wiiiddd ..." sahutku yang masih terpingkal dengan jalan pikiran si Widi.
"Woke lah aku terima kalau ini karena aku. Asal kalian tau ya aku cuma temenan doang nggak lebih dan kami pergi nggak cuma berdua tapi rame rame. Tapi aku nggak akan minta maaf atas kejadian ini, karena aku merasa nggak ada yang salah dengan sikapku" kelasku panjang lebar.
"Ya sudah kita akhiri briefing nggak enak pagi ini, semoga nggak mempengaruhi semangat kerja kita, yuk siap siap kita berangkat" pungkas Shanty
Kami kembali ke kamar masing masing untuk bersiap.
__ADS_1
"Din, kok nggak kamu bantah to omongan si Widi?" tanya Dian
"Lah males Mbaakk ngurusi orang kurang piknik" jawabku santai