Cinta Lama Dini

Cinta Lama Dini
PULANG


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 11 siang, ketika Kami tiba di penginapan Kami.


"Din, Kon apeh pulang kapan?" Jindul yang sebenarnya lebih muda dari aku kalau ketemu selalu menempatkan diri selayaknya kakak buat aku.


"Ngko mbengi ae" sahutku


"Ojo-lah arek wedok mbengi ijih nok dalan. Mending siki moleh, ngko sore numpak sepur ae lungo Semarang e"


"Iyo, Din. Nek onok apa apa ne Kon, dhewe Nok kene kesalahan" timpal Iwonk


"Iyo, Din manuto wae tah" tambah Nopek


"Ya wes lah, ayo moleh" aku menyerah kalah


Kami pulang dengan sedikit ganjalan karena aku yang nggak rela untuk pulang.


"Pek, mampiro Nyang TP. Ben Dini rodo adem" kata Jindul, TP itu Tunjungan Plasa salah satu mall di Surabaya.


"Duwitku entek Ndul" sahutku tertawa

__ADS_1


"Lhahh kan Ra kudu blonjo tah?"


Akhirnya Aku bisa menerima maksud baik mereka. Mereka sebenarnya menghawatirkan aku, mereka sayang aku.


Kami cuci mata di mall itu, pegang ini pegang itu, coba ini coba itu, tapi nggak dibeli. Setelah puas Kami pulang ke rumah Jindul dan jam sudah mepet jam keberangkatan kereta.


Aku hanya turun berpamitan sama si Mak dan Bapak yang kebetulan baru pulang ngojek, kemudian buru buru ke stasiun Pasar Turi masih diantar ke tiga cowok itu.


Selesai urusan tiket, aku berpamitan sama mereka. Kami bertiga berpelukan lamaaa.


"Ati ati ya Din" Nopek menepuk pundak ku


"Kon nek galau gak usah aneh aneh, sholato ae. Wong lanang ora gur sitok. Kon iku ayu gak usah kuatir ra payu" nasehat Jindul bikin aku tertawa, ngena banget. Aku sudah cerita ke mereka rasaku saat itu, sekarang sudah jauh lebih baik dengan dukungan mereka. Meskipun mereka bukan orang pinter, Jindul yang tukang parkir bis, Iwonk yang penjual rujak keliling, dan Nopek seorang sopir mobil carteran tapi mereka dengan perhatian dan kata kata lugasnya bisa memberiku semangat.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Kereta berangkat jam lima sore dari Surabaya, perkiraan sampai Semarang jam sebelas malam. Belum terlalu larut untuk ukuran kota besar.


Sampai stasiun Poncol di Semarang aku naik ojol sampai rumah.

__ADS_1


Tok ... tok ... tok ...


Mami yang membuka pintu.


"Assalamu'alaikum Mi" aku cium punggung tangan Mami


"Wa'alaikumsalam, lha katanya Senin pulangnya?" tanya Mami


"Cukup lah Mi, kelamaan sampe Senin. Kangen Mami" dengan manja aku peluk Mamiku tersayang.


"Papi mana Mi?"


"Sudah tidur lagi nggak enak badan, habis kerja bakti tadi pagi"


"Sudah makan? tanya Mami lagi


"Sudah Mi tadi di kereta, nasi goreng. Mi aku langsung istirahat ya, capek. Ceritanya besok ya, kan masih cuti" pamitku, Mami hanya menganggukkan kepala.


Aku masuk ke kamarku, hufftt rasanya kangeeenn tidur di kasur ini. Meskipun bau iler kata Mami, bagiku serasa bau surga.

__ADS_1


Setelah membersihkan diri aku rebahan di kasur, aku ingat lagi semua perlakuan manis Koh Tony dan hampir saja air mataku jatuh lagi. Aku ingat omongan Jindul kalau laki laki nggak cuma satu dan aku juga cantik jadi jangan kuatir nggak laku, hi hi hi ... lugas tapi mengena. Mungkin belum jodohku, dan jodohku masih ada di luar sana menunggu waktu yang tepat untuk menemuiku. Semoga saja, itu harapanku


__ADS_2