
Mendengar berita dari Pak Agus kalau Koh Tony harus mengundurkan diri setelah menyelesaikan kasusnya, sedih dan ikut prihatin. Tapi itu resiko yang harus diambilnya.
Dan seiring berjalannya waktu hubunganku dengan Bli Radit semakin dekat. Kami sering bertelepon maksudnya Bli Radit yang meneleponku hampir setiap malam, saling mengucapkan salam pengantar tidur. Atau pagi pagi untuk sekedar mengucapkan selamat bekerja. Sampai pada suatu titik dimana Aku merasa rasa kehilangan kalau Bli Radit nggak menelepon atau menghubungiku.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Pagi ini aku merasa bugar sekali, jogging sehabis Subuh dan setelahnya bersih bersih taman sebentar. Sehabis membersihkan diri dan sarapan bersama Mami Papi aku berangkat kerja. Kali ini aku tidak bawa motor karena ban yang bocor, nanti sore aja aku bawa tukang ban ke rumah.
Sampai kantor pekerjaan tidak begitu padat malah bisa dibilang tidak ada pekerjaan. Hufftt jam sembilan aku mulai bosan berkali kali aku lihat ponselku entahlah apa yang aku harapkan dengan ponselku. Ahhhh iya biasanya Bli Radit telepon atau kirim pesan tapi ini nggak ada sama sekali.
"Napa Yan kok gelisah? " tegur Mbak Tini
"Nggak pa pa Mbak, bosen nggak ada kerjaan" jawabku
"Nggak ada kerjaan apa pacarmu nggak telepon?" sinis Mbak Tini
"Pacar apa to Mbak, orang jomblo kok"
Mbak Tini tidak menjawab hanya tersenyum sinis.
Sampai siang pun tidak ada kabar darinya, berulangkali ponsel aku pegang untuk menanyakan kabar tapi berulangkali pula aku urungkan. Sore pulang kerja dalam kondisi lesu, rencana ke tukang ban pun batal. Malas mampir mampir.
"Sakit Din?" tanya Mami sambil meletakkan tangannya di dahiku.
"Nggak Mi cuman capek" jawabku malas
"Ada masalah di kantor?" cecar Mami
__ADS_1
"Nggak ada apa apa Mi, Dini cuma capek" aku mulai kesal dengan pertanyaan pertanyaan Mami.
Ahh mungkin ntar malam dia akan memberi kabar, pikirku. Emang siapa sih aku? kok terlalu berharap dihubungi? ah sudahlah. Gontai aku masuk kamar dan merebahkan diri hingga tanpa sadar terlelap.
Keesokan pagi-nya kebetulan hari Minggu dan masih belum ada kabar apapun darinya. Ada apa ya? sakitkah? aku masih melamun di kamar ketika Mami mengetuk pintu.
"Din, lagi ngapain? tuh di depan ada temenmu" kata Mami
"Siapa sih pagi pagi gini bertamu" sungutku
"Kelihatannya dari jauh, kucel banget orangnya" kikik Mami
Hah? Mami sampe terkikik geli? siapa ya?
Bergegas aku ke depan setelah merapikan rambut dan baju rumahku.
Seorang laki laki berdiri membelakangi pintu menghadap ke taman depan rumah, tapi dari posturnya aku kenal orang ini. Orang yang sehari kemarin membuat aku galau. Rasanya ingin aku berlari memeluknya dari belakang tapi aku malu.
"Oh, hai selamat pagi juga" dia terlihat salah tingkah, aku jadi suka melihatnya begitu.
"Duduk Pak" aku mempersilahkan duduk di teras.
"Ya terimakasih" Dan kemudian Kami terdiam cukup lama dengan lamunan masing masing
"Kok temennya dianggurin Din, diajak masuk dong" tegur Mami
"Di sini aja Mi, gerah di dalam"alasanku. Sebenarnya selain kangen aku juga marah sama dia kenapa kemarin aku dicuekin.
__ADS_1
"Maaf, kemarin buru buru jadi nggak ngabarin Kamu kalau mau ke sini. Pas keinget Hp-ku lowbat dan aku lupa nggak bawa charger" seakan tahu apa yang aku pikirkan.
"Trus maksud dan tujuan Bapak kemari?" tanyaku jutek
"Mau bilang ke Bapak Ibu kalau aku suka sama anaknya" to the point dia jawabnya tanpa melihatku. Whatt??? Mamiiii aku bahagiaaaaa jeritku dalam hati tapi tetap aku tampilkan wajah jutekku.
"Oke, Saya panggilkan orang tua ku" aku masuk rumah sambil senyum senyum. Sekelebat aku lihat ada orang di balik pintu, saat aku tengok ternyata Mami kelihatan kalau sedang pura pura membereskan bantal kursi. Oooooo jadi tadi Mami nguping?? Ha .. ha ... ha ... usil emang Mamiku ini.
"Mi, Papi mana? teman ku ..."
"Mami panggilin bentar" belum selesai aku ngomong Mami segera melesat ke kamar.
Setelah mereka bertemu, Bli Radit berdiri dan menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
"Om, Tante" disalaminya Mami Papi dengan ujung jarinya dengan sedikit gemetar. Di belakang Papi, Mami menahan senyumnya.
"Om, Tante, Saya I Ketut Raditya Abhipraya mohon ijin Saya ingin menjadi masa depan putri Om dan Tante" Whuisszz langsungan si Bli.
"Maksudnya?" Papi yang kena tembak langsung jadi bingung ha ... ha ..
"Saya ingin serius dengan Rian Om" kata Bli Radit memperjelas maksudnya.
"Oowhh, suka sama anak Saya?" tanya Papi lagi
"Iya Om"
"Ya boleh boleh saja, cuma tetap jaga nama dan adab ya" pesan Papi
__ADS_1
"I ..Iya Om" dibolehin malah gagap dia
"Kalo sudah cocok segera ortunya bawa sini ya" si Papi juga nggak mau kalah langsungan.