
Sudah berjalan kurang lebih tiga bulan sejak aku dilamar Koh Tony. Dan selama itu pula aku belajar lagi membuka hati yang terlanjur terluka olehnya. Dan dia juga berusaha memperbaiki dan membuktikan keseriusannya.
Sabtu sore itu seperti biasa dia datang ke rumah untuk apel. Kebetulan Mami sama Papi lagi pergi kondangan di teman kantor Papi. Hanya ada Kami berdua di rumah. Dan yang lebih sialnya lagi hujan deras disertai angin turun yang dikomplitin dengan listrik yang mati.
Aku yang notabene anak Mami so pasti takut pake banget. Hujan angin aja takut apalagi ini ditambah mati lampu. Kami duduk di sofa depan berdua. Karena takut aku masuk dalam pelukannya dan kuselusupkan kepalaku di dadanya.
Awal aku hanya merasakan ketakutan karena hujan dan mati lampu, lama lama aku merasa nyaman ada di pelukannya. Kurasakan detak jantungnya yang tidak beraturan sama kayak aku setelah sadar dengan kenyamanan yang dia berikan.
Dielus elusnya lenganku diciumnya pucuk kepalaku dengan mesra. Satu tangannya memelukku erat, tangannya yang lain mengangkat daguku untuk tengadah memandangnya. Dalam gelap pelan diciumnya dahiku Kemudian kedua mataku beralih ke hidung dan di kedua pipi ku. Lembut pelan penuh kemesraan membuat aku tidak berdaya untuk menolaknya. Kupejamkan mataku kala bibirnya beralih menuju bibirku. Diciumnya bibirku lembut dan lamaa. Ini adalah ciuman bibirku yang terindah 💗 aku menahan nafasku.
Karena tidak ada respon dariku dengan putus asa wajahnya diseludupkan di ceruk leherku dengan nafas memburu. Aku tidak merespon karena terlalu terpesona dengan momen indah itu.
"Maaf" desahnya parau
__ADS_1
"Untuk?" tanyaku
"Aku sudah menciummu tanpa minta ijin dulu" digenggamnya kedua tanganku dengan sorot mata penyesalan.
"Oh, itu. Asal janji nggak kayak dulu lagi ya" cebikku
"Janji, Inshaa Allah nggak akan terulang" Kami berpelukan hangat.
"Ehhheeemm" deheman seseorang menghentikan pelukan Kami. Ternyata Papi dan Mami sudah pulang. Dan sesaat setelahnya lampu sudah kembali menyala. Kami jadi salah tingkah dihadapan Mami Papi. Setelah berganti baju mereka bergabung denganku dan Koh Tony. Bercerita soal kondangan tadi sebagai basa basi.
"Secepatnya Pi" aku menegakkan badanku mendengar jawaban Koh Tony.
"Gimana kalau dua Minggu lagi, Kamu siap nggak?" tantang Papi
__ADS_1
"Saya rasa uang Saya belum cukup Pi" katanya sambil memandangku
"Soal biaya itu tanggungan orang tua, wajib ngentaske anak kalau orang Jawa bilang" lanjut Papi.
"Tapi Saya tidak ingin merepotkan Papi Mami juga Mama Saya Pi" masih kekeuh dia dengan pendiriannya.
"Ya okelah, uangmu sekarang ada berapa?" tanya Papi lagi.
"Pi, kalau boleh jujur. Saya ingin membahagiakan Dini. Dini mau pernikahan yang seperti apa, Saya ingin memenuhinya dengan uang Saya sendiri" aku sedikit terharu dengan impiannya.
"Din, kamu pengen pernikahan yang model gimana?" Papi beralih melihatku.
"Yang sederhana saja Pi, ijab qobul aja sudah cukup buat Dini" jawabku. Emang dari dulu aku tidak suka kalau menikah ada resepsi. Kesannya orang datang setengah dipaksa untuk membeli makanan. Kan mereka datang, masukkin amplop isi uang dan ucapan, salaman, terus makan deh. Tak jarang mereka para tamu undangan mengisi amplop dengan mengira ngira berapa isi yang pantas dengan makanan yang akan diperoleh. 😎
__ADS_1
"Tuh jawaban si Dini kalau kamu mau tau Ton" Papi berdiri menghampiri Koh Tony dan menepuk pundaknya.
"Wes dipikir dan diusahakan sek, besok kasih tahu Papi kalau Kamu sudah siap" kemudian Papi meninggalkan Kami berdua.