
Sudah memasuki hari kedua. Dan akhirnya Bay pun sadar dari komanya .Ia masih terasa lemas, dan merasa kesakitan diperutnya.
" Naginnnnn......!"
" Ya tuan, saya disini tuan."
" Apa yang terjadi dengan saya, Gin ?"
" Tidak ada apa - apa tuan. Tuan baik - baik saja kok."
" Naginnnn....perut saya sakit sekali."
" Sabar ya tuan, saya akan panggilkan dokter ya...!"
Nagin pun pergi memanggil dokter. Dan dokter pun tiba diruangan itu.
" Bu Nagin, sudah seharusnya kita akan melakukan tindakan kemoterapi". Kata dokter Bram itu sambil memakai stetoskopnya.
" Apa ? kemoterapi ?" Tanya Bay dengan sedikit terkejut.
" Ia pak Bay, bapak akan segera di kemoterapi ." Jawab dokter Bram
" Emangnya saya kenapa dok? kenapa sampai saya harus di kemo?" Tanya Bay lagi
" Bapak mengidap kanker lambung, Pak...!"
" Kanker lambung ? Nagin....dokter Bram bohongkan? jawab Nagin jangan diam aja??" Bentak Bay kepada Nagin
" Tuan, maafkan saya tuan. Apa yang dikatakan dokter Bram benar tuan."
" Apa ????? kalian bohong kan??saya ga mungkin kena kanker. Dokter pasti salah buat diagnosa. Jawab dokter, dokter salahkan??" Sambil menarik - narik tangan dokter Bram
Bay pun menangis sambil memukuli perutnya. Dan Nagin pun langsung sigap memeluk tubuh tuannya itu.
" Sabar ya tuan, pasti tuan Bay sembuh ." Dan ia memeluk tuannya itu kembali
Bay masih saja menangis, ia menjambak - jambak rambutnya dan memukuli perutnya. Nagin melihat kejadian itu, ia langsung menangis.
" Pak Bay, kita akan memberikan pertolongan yang baik buat bapak. Bapak mau ya menjalani kemoterapi ?" Pinta dokter Bram
" Tuan, ini semua demi kesembuhan tuan, mau ya??" Nagin pun menambahkan.
__ADS_1
Dan akhirnya Bay pun mau menjalani kemoterapi sesuai anjuran dokter Bram. Seperti hati disayat pisau yang tajam, Bay harus menjalani semua terapi yang diberikan oleh dokter. Sakit rasanya harus menjalani ini semua. Tapi demi kesembuhan, ia pun rela.
Nagin selalu sabar menemani dan mengurus tuannya itu. Ia mencoba untuk meminta bantuan kepada Jenni agar Jenni mau menemani Bay dan memberi semangat buat Bay. Karena Jenni adalah kekasih Bay, tuannya itu. Dan kali ini Jenni menuruti permintaan Nagin.
Tibalah Jenni diruangan itu. Ia melihat Bay. Wajahnya begitu pucat dan lemas. Bay sangat senang dengan kehadiran Jenni. Tapi Jenni sudah mulai memikirkan hubungan mereka.
" Bay, gimana keadaan mu? kamu sabar ya? kamu harus kuat, kamu jangan menyerah...!"
" Makasih ya Jen, doakan supaya saya lekas sembuh ya?"
Nagin yang saat itu sedang diluar, ia tidak mau mendengar percakapan mereka. Ia berharap Jenni selalu ada disamping Bay.
" Jen, kamu masih sayang kan sama saya? kamu tau kan sakit yang saya derita ini? " Tanya Bay sambil memegangi tangan Jenni.
" Ia Bay, saya tau. Tapi ?? bagaimana bisa hubungan ini diteruskan Bay? sementara kamu sudah stadium 4.."
" Saya pasti sembuh Jen. Kalau saya uda sembuh, saya janji akan menikahi kamu ."
" Menikah ??? menikah kamu bilang ?? kamu tau kan Bay stadium 4 itu artinya apa? kamu ga akan lama lagi Bay??kamu ngerti ga sih??". Emosi Jenni mulai tidak stabil
" Jen, saya tau. Tapi saya yakin saya sembuh.."
" Sembuh dari mana? dokter aja nyerah kok. Saya ga mau nikah sama lelaki yang sakit - sakitan. Saya ga mau cepat - cepat jadi single parent. Maaf Bay, kayaknya kita akhiri aja hubungan ini. Saya ga bisa...!"
" Kamu egois banget ya Bay. Kamu lihat siapa kamu sekarang ini? udalah kamu jangan lagi mengharapkan cinta dari saya. Saya minta maaf. Permisi..
" Jen....Jenni...Jenniiiii....jangan tinggalkan saya Jen, saya mohon Jen..."
Jenni pun keluar dari ruangan itu dan ia menangis. Nagin melihat Jenni. Ia pun langsung mendekati Jenni.
" Mbak Jen, apa yang terjadi? kenapa mbak menangis?" Tanya Nagin
" Saya uda putusin Bay.."
" Apa?? mbak uda putusin tuan Bay ?"
" Ia, karena saya ga mau menikah dengan Bay. Kamu tau kan umur Bay ga akan lama lagi?"
" Ia mbak saya tahu, tapi ga gini juga mbak, disaat tuan Bay sakit mbak mutusin dia. Dia butuh mbak."
" Ga, Gin. Saya ga bisa."
__ADS_1
" Mbak Jenni, saya mohon jangan putusin tuan Bay. Tolonglah mbak, demi kesembuhan tuan Bay. "
" Kamu sama aja kayak Bay, sama - sama egois. Kamu ga mikirin perasaan saya ya? ya uda kamu aja jadi pacar Bay. kamu urus aja tuan kamu itu."
Jenni pun pergi meninggalkan Nagin. Nagin terduduk di bangku koridor rumah sakit itu, ia pun menangis. Kenapa semua ini bisa terjadi.
Nagin perlahan memasuki ruangan itu. Ia melihat tuannya itu lemah tak berdaya. Nagin memberikan senyumannya untuk tuannya itu. Bay menatap Nagin. Nagin langsung memeluk tuannya itu. Dia mengelus rambut tuannya itu. Dan ia pun menangis.
" Nagin, Jenni pergi..."
" Ya tuan, sabar ya. Kan masih ada saya, Nagin si cantik manis hehehehe.."
Bay pun tersenyum. Dan kembali ia membaringkan dirinya ditempat tidur.
" Tuan Bay, tuan tau tidak, jika seseorang menjauhi kita karena kekurangan kita, yakinlah kelak Tuhan akan mengangkat kita lebih tinggi.
Dan jika hari ini tuan diputuskan oleh Jenni, percayalah diluar sana sudah ada wanita yang lebih cantik yang akan sayang sama tuan. Jadi, tuan jangan khawatir ya?
" Ya Nagin. Makasih ya. Kamu baik sekali..."
" Tuan baru tau ya kalau saya baik? hehehehe...."
Sudah hampir seminggu Bay di rawat di rumah sakit. Nagin tetap sabar mengurus tuannya itu.
Dan tibalah kemoterapi pertama dilakukan untuk tuannya itu. Bay merasa takut dan cemas.
Tapi Nagin selalu memberikan semangat, walaupun sebenarnya hati Nagin sakit karena harus melihat tuannya itu dikemoterapi.
" Tuan, tetap semangat ya..pasti tuan sembuh. "
" Ia Nagin. Doakan ya...."!
Bay pun memasuki ruangan kemoterapi. Ruangan itu sangatlah steril dan banyak alat - alat kemoterapi. Nagin tak henti - hentinya selau berdoa agar tuannya itu sembuh.
Sudah hampir sebulan, Bay dirumah sakit. Pihak rumah sakit pun meminta Nagin agar ia membayar tagihan rumah sakit.
Nagin pun menanyakan berapa jumlah tagihan tuannya itu. Kasir rumah sakit itu menyerahkan jumlahnya. Dan ia kaget setelah melihat jumlah tagihan tersebut. Ia takut jika berlama - lama dirumah sakit, uang tabungan Bay akan habis.
Nagin pun meminta kepada dokter Bram, agar ia merawat Bay dirumah saja. Ia menjelaskan alasannya kepada dokter tersebut. Jika jadwal kemoterapi, ia akan membawa tuannya itu.
Awalnya dokter itu menolak karena Bay sudah stadium 4, tapi karena alasan Nagin masuk akal, dokter itu pun mengiyakan permintaannya itu.
__ADS_1
Setelah kepulangan Bay dari rumah sakit, beberapa pegawainya datang mengunjungi atasannya itu. Mereka sangat kasihan melihat Pak Bay terbaring lemah. Bay meminta kepada Lisa agar masalah pekerjaan ia yang tangani. Bay memohon kerja samanya kepada semua para pegawainya.